Nyonya Kepo

Novia

“Tas baru ya? Harganya?”
“Huaa….! Manis banget blazernya. Beli dimana?“
“Eh, istri si Budi resign? Pindah ke mana jadinya?”
Itulah pertanyaan-pertanyaan yang sering dilontarkan temanku. Akhirnya, aku dan teman-teman memanggilnya Nyonya Kepo. Orangnya selalu heboh dengan setiap kejadian. Hobinya mewawancarai orang dengan pertanyaan yang detail. Kadang bikin keki. Kadang bikin geli.
Teman-teman berusaha tidak terpancing menghadapinya. Akan berentetan kekepoan lain yang ujung-ujungnya bisa bikin kepala berasap. Demi menjaga sopan santun, teman-teman berusaha menahan diri.
Masalahnya, si Nyonya suka bertindak spontan. Saat melihat sepatu baru, dia langsung jongkok dan pegang sepatu teman sambil bilang, “Buka dong.” Hanya untuk melihat merknya. Bikin keki kan?
Atau, saat melihat teman punya tas baru. Dielus-elus, dibolak-balik sambil tanya ini itu. Yang punya tas sampai risi. Tapi Nyonya enggak, tuh. Dia cuek saja bertanya soal harga sampai asal-usul uang untuk beli tas itu. Glek…!
Si Nyonya suka barang-barang baru dan bagus. Tiap punya sesuatu, dia akan menarik perhatian teman-teman, minta dikomentari, seperti dia mengomentari kepunyaan teman-teman. Mungkin dia pikir, tingkat kepo kami sama dengan dia.
Pernah dia memakai kalung baru yang menjuntai, dengan liontin besar mirip bandul jam. Dengan kompak, teman-teman pura-pura tak melihat. Nyonya mulai menggaruk-garuk lehernya.
Teman-teman diam. Nyonya mulai membungkuk-bungkuk. Teman-teman masih diam. Akhirnya Nyonya bikin pengumuman. “Kalungku bagus, nggak?” Huff… Nanya, kok nodong!
Pribadi seperti Nyonya Kepo sangat banyak ditemui di sekitar kita, hanya kadarnya beda-beda. Hal kecil bisa menjadi sangat penting baginya. Aku gerah, teman-teman gerah, tapi tak satupun yang berani memberi sebuah cermin untuknya. Lebih baik diam daripada dijutekin.
Lama-lama bosan juga. Merasa tak tahan lagi, lalu aku curhat pada orang terdekat si Nyonya. “Ulah si Nyonya jangan di ambil hati, anggap angin lalu aja. Sesekali, kunci dia.” Katanya, sambil mengedipkan mata.
Aku manggut-manggut. Iya ya, betul juga, harusnya aku tak usah terlalu menanggapi. Pakai melibatkan hati segala, kesal yang dibawa-bawa. Kita sendiri yang rugi. Padahal solusinya simpel, saat dia kepo, tinggal jawab jujur, urusan beres deh.
Siang itu sedang hangat-hangatnya membicarakan bonus kantor.
“Kamu sih enak, suamimu terima bonus. Eh, omong-omong, berapa sih bonusnya?” si Nyonya mulai ingin tahu.
“Oh, lumayan, Mbak. Duit gede bisa dibelikan emas, duit kecilnya bisa buat liburan.” Jawabku kalem.
Sontak si Nyonya diam. Aku ngikik dalam hati.
Hari berikutnya dia kepo lagi.
“Mamamu nggak kerja lagi?”
“Syukurlah, Mbak. Mama sudah punya segalanya. Jadi sekarang main-main saja sama cucu.” Jawabku lempeng, sok polos.
Dia cemberut. Lalu pergi meninggalkanku. Sejak hari itu, Nyonya tak pernah lagi tanya-tanya yang detail padaku.
Hampir semua teman mulai berani menyodorkan cermin yang membuat Nyonya perih. Mulutnya mulai bungkam. Bicara seperlunya. Kami senang, kuping dan hati mulai adem.
Beberapa hari berlalu. Sepi juga tanpa si Nyonya. Dia tampak menarik diri. Sering termenung sendiri. Kasihan juga. Kudekati dia.
Senyumnya terkembang melihat aku menghampirinya. Meluncurlah curhatnya. Dia sedang kesepian. Sepertinya dia dimusuhi tanpa sebab yang jelas. Padahal dia yakin tak punya salah apapun kepada siapapun. Duh!
Merasa mulai akrab, kumatlah penyakit lamanya. Matanya melirik gadget baruku. Mulai bertanya-tanya. “Hadiah suamiku.” Jawabku jujur. Tak ada sinis. Tak ada benci. Aku berusaha membersihkan hati.
“Harganya? Kenapa pilih merah? Eh kamu main instagram? Wah, kalau aku…..” Kudengarkan dia sambil tersenyum. Ah, Nyonya. Kamu memang belum berubah. Tapi tanpamu dunia terasa sepi.