Corvus si Gagak Penyanyi

Dian

Hutan Kajaro dihuni beraneka macam binatang. Mulai dari binatang yang tinggal di bawah tanah hingga binatang yang tinggal di pucuk pepohonan. Mereka semua hidup berdampingan.
Yang istimewa, binatang-binatang di Hutan Kajaro bisa saling berkomunikasi layaknya manusia. Meskipun dengan suara khas masing-masing, mereka bisa memahami satu sama lain.
Musim semi adalah musim yang ditunggu-tunggu oleh para penghuni Hutan Kajaro. Mereka yang beristirahat saat musim dingin, bergegas bangun menyambut datangnya musim semi dengan sukacita. Tak terkecuali bangsa burung.
Bangsa burung selalu membuka musim semi dengan mengadakan kompetisi menyanyi. Semua burung boleh ikut berkompetisi. Tak peduli jenis dan usianya. Bahkan musim semi sebelumnya, Ayam Hutan ikut jadi peserta. Sayangnya kokokannya belum bisa mengalahkan merdunya suara Cicadaun.
Corvus, seekor burung gagak, sangat suka menyanyi. Sambil terbang ia bersenandung. Ketika bertengger ia berlagu. Pernah suatu kali Corvus bernyanyi riang dengan suara lantang. Nyanyiannya terdengar oleh seekor burung Merbah yang bertengger tak jauh darinya. Merbah menertawakan Corvus.
“Suaramu itu tak cocok untuk menyanyikan lagu ceria Corvus. Lebih pas kau menjadi penyanyi pengiring pemakaman,” ejek Merbah.
Corvus menjadi malu dan sedih. Sejak itu ia hanya bernyanyi saat sedang sendiri saja. Ia pun tak pernah ikut kompetisi menyanyi meskipun sangat ingin mengikutinya.
Semua burung, terutama burung-burung pengicau, sibuk berlatih. Siulan indah mereka bersahut-sahutan. Diam-diam Corvus juga berlatih. Ia terbang jauh ke dalam hutan yang sepi agar tak ada yang mendengarnya bernyanyi.
“Kaok … kaoooook … kaaaaaoooook,” Corvus melatih nada suaranya lantas bernyanyi lagu kegemarannya.
“Hai Corvus! Nyanyianmu enak sekali, aku jadi ingin bergoyang.” Corvus terkejut ada binatang lain yang menyapanya. Ia melongok ke arah suara itu.
“Ayam Hutan? Kau sedang apa?” tanya Corvus.
“Aku mau pergi ke Hutan Sodito, mengunjungi saudara jauh. Kau berlatih untuk kompetisi menyanyi?” Corvus terbang rendah menghampiri Ayam Hutan.
“Tidak. Aku malu. Suaraku jelek sekali.”
“Hei! Apa suaraku lebih bagus dari kau? Untuk apa malu? Lagipula caramu bernyanyi asyik sekali.”
“Sungguh?” baru kali ini Corvus mendapat pujian. Ia senang sekali.
“Kalau tak percaya, ikut kompetisi saja.”
“Bagaimana kalau tak ada yang suka?”
“Paling-paling kau tidak menang. Seperti aku tahun lalu. Tapi sejak itu mereka tahu aku bisa bernyanyi, kan? Walaupun nyanyianku tak bagus-bagus amat,” ucap Ayam Hutan menghibur.
“Ucapan Ayam Hutan ada benarnya. Kalaupun mereka tak suka, aku bisa tetap bernyanyi diam-diam seperti sekarang. Tapi kalau mereka suka, aku bisa bernyanyi dimana saja,” pikir Corvus.
“Kau tentu tak bisa memaksa mereka semua suka padamu. Tapi paling tidak kau sudah mencoba. Sudah ya. Aku pergi dulu. Sayang sekali aku harus melewatkan kompetisi kali ini,” ujar Ayam Hutan sambil melenggang pergi.
***
Hari kompetisi pun tiba. Kompetisi menyanyi diadakan di sebuah pohon flamboyan tua yang memiliki banyak dahan dan ranting. Pas sekali untuk bertengger ratusan burung yang ikut kompetisi maupun yang hanya menonton saja. Binatang lain seperti tupai, kelinci, kumbang, tikus hutan, bahkan rusa juga ikut datang meramaikan.
Di saat-saat terakhir pendaftaran akan ditutup, Corvus terbang mendekati Jalak. Dia akan menjadi juri kompetisi kali ini bersama Manyar dan Perkutut. Bisik-bisik pun ramai terdengar.
“Corvus, kau akan ikut lomba menyanyi? Sebaiknya batalkan saja daripada nanti kau pulang sambil menangis karena kalah,” ejek Merbah. Burung-burung lain ikut tertawa.
Semua tahu burung gagak seperti Corvus memiliki suara yang parau dan serak. Mereka tak yakin Corvus bisa bernyanyi seperti burung pengicau lainnya.
Kontes menyanyi dimulai. Pendaftar pertama mendapat giliran pertama. Kenari memberi penampilan pembuka yang menawan. Selanjutnya disusul oleh Murai Batu, Kacer, Cendet, Cicadaun, hingga giliran terakhir.
Corvus naik ke dahan panggung. Bulu hitamnya tampak berkilau terkena sinar matahari. Ia mengawali penampilannya dengan kaok-an keras dan membuat suasana hening seketika.
Corvus lalu menyanyikan lagu andalannya. Corvus membawakan lagunya dengan irama yang ceria. Tak hanya satu dua burung yang ikut bergoyang ekor bersamanya. Rupanya mereka menyukai cara Corvus menyanyi. Corvus yang semula agak gugup jadi semakin percaya diri.
Saat Corvus menyelesaikan lagunya, suasana kembali hening sejenak lalu disambung dengan tepukan sayap yang meriah sekali. Corvus tak menyangka mendapat sambutan sebaik itu. Selama ini ia mengira tak akan ada yang menyukai suaranya hanya karena satu dua ejekan dari burung lain. Corvus bersyukur saat mendapat ejekan, ia tidak lantas berhenti menyanyi.
Ternyata pemenang kompetisi kali ini adalah Murai Batu. Corvus tidak kecewa tak menjadi pemenang. Ia tidak peduli lagi dengan menang atau kalah. Baginya ada yang lebih penting, yaitu tak perlu malu, bersembunyi, dan menyendiri lagi saat ingin bernyanyi. Corvus lega. Ia tersenyum bahagia.