Tangis

Husna

“Nangis lagi ya semalam?” Naila meghujam mataku.
Aku menunduk. Menghindar. Padahal, sebelum berangkat ke sekolah sudah aku kompres mataku dengan air hangat, agar sembabnya bisa tersamar.
“Sejak pacaran sama Fay, kamu sering menangis.”
Naila duduk di sebelahku.
“Belum sebulan pacaran, kamu sudah sering dibikin seperti ini.” Jelas sekali Naila menggeram dalam kalimatnya. “Memang apa sih yang Fay lakuin ke kamu?”
Aku makin menuduk.
“Apa kamu dijadiin pacar yang ke sekian, ya?” Naila mulai menebak-nebak. “Tidak boleh telepon Fay, kecuali cowok itu yang menelepon? Juga tidak boleh manja minta ditemani dan diantar kemana-mana, begitu?!” suara Naila jengkel sekali.
Dan Naila terlihat bertambah jengkel melihat aku menggeleng. “Fay tidak seperti itu….”
“Ya, ya…,” Naila memotong. “Fay baik. Fay perhatian…. Aku sudah sering mendengar bagian itu. Yang belum kudengar adalah, penyebab matamu merah.”
Bel tanda masuk terdengar. Aku merasa diselamatkan.
@@@

“Apa sudah ada tanda-tandanya?” Aku menentang mata Fay yang tajam. Tentu saja dengan kelembutan dan pancaran cinta yang kupunya.
Fay balas memandangku. Berusaha melembutkan tatapannya.
“Dapat merasakan debarannya?” kejarku.
Fay menyeruput teh hijau miliknya.
“Desiran di dada…,” seperti yang aku rasakan…, tambahku dalam hati.
Fay mengangkat dagunya. “Maaf….”
Mataku mulai menggenang. Sekali kedip, aliran air pasti akan terlihat jelas di wajahku. Biasanya ini selalu berhasil di depan Fay. Fay tidak pernah kuat melihat ada cewek yang menangis di hadapannya. Itu kelemahannya. Dan aku memanfaatkannya agar ia bisa mencintaiku seperti aku mencintainya. Memintanya menjadi pacarku dan ada di dekatku.
Mama bilang, kebersamaan akan menumbuhkan cinta suatu hari nanti. Itu yang aku yakinkan pada Fay waktu ia bilang hanya menganggapku sebagai teman. Aku meminta Fay untuk berusaha. Mulanya Fay menolak, tapi dengan tangisanku, akhirnya Fay mau mencobanya.
“Sepertinya percuma…,” Fay mulai bicara.
Dan aku pun sudah terisak. Dadaku turun naik. Melihatku seperti itu, sambungan kalimat Fay biasanya menyerah menuruti keinginanku. Ia akan berkata dengan berat; “Baiklah…, kita coba seminggu lagi.” Dan biasanya, aku akan berhenti menangis setelah Fay memintaku untuk tenang.
“Cinta tidak bisa dipaksakan.” suara Fay mantap.
Aku terhenyak. Airmata tak mau berhenti. Fay bertahan dengan kalimat terakhirnya.
Brak!
Sebuah tangan mungil tiba-tiba saja menggebrak meja. Aku dan Fay sama-sama kaget. Naila!
“Bisa tidak, nggak membuat Tania menangis?” Matanya menentang Fay. Galak. “Pacaran model apa ini? Setiap ketemu kamu, paginya di sekolah, mata Tania pasti bengkak.”
“Nai…, jangan…,” pintaku diantara tangis.
Fay berdiri. Menghujam Naila. Mata mereka saling bertemu. Dekat. Hatiku teriris.
“Tania tidak akan pernah menangis, kalau kamu tidak menolak cintaku. Yang seharusnya jadi pacarku, kamu. Bukan Tania.” Tenang sekali Fay mengatakan itu.
Aku kembali terhenyak. Terpental ribuan meter.
Naila tergugu. Duduk di depanku dengan serba salah.
”Yang Fay bilang tadi,”katanya kikuk. “Apa maksudnya?” tanyanya bingung.
Aku kehilangan Fay. Dan sebentar lagi juga akan kehilangan sahabat, getirku. Ragu, kukeluarkan surat cinta milik Fay untuk Naila. Aku pernah merebut Fay dari Naila dengan mengarang sendiri balasannya kalau Naila menolak cinta Fay. Lalu aku pun menyusup dengan alasan cuma aku yang bisa mencintainya dengan sempurna.
Naila membaca surat cinta itu dengan wajah yang memerah. Aku bangkit dengan airmata yang tidak mau mengering sambil memandangnya sebentar.
“Tangisku itu, untuk setiap kata yang Fay tulis indah di sana. Untukmu, bukan untukku.”
*** —– ***