Bulan Madu Kedua

cerpen Happy Rose

Ada berapa banyak kemungkinan yang akan terjadi di masa depan?
Tidak akan pernah ada yang tahu. Termasuk aku, ataupun dia. Beberapa minggu yang lalu kami bertengkar hebat, tapi di malam harinya sepulang kerja kami bergelung bersama di tempat tidur sambil terisak.
“Kau adalah raja naga laut, tidak seharusnya menangis,” kataku yang juga tengah menangis. Mataku pasti sudah terlihat sangat jelek. Eyeshadow warna tangerine sudah luntur berbaur dengan mascara yang meleleh.
Dia mengusap airmataku yang jatuh. Pelahan dan hati-hati. “Kau seharusnya membeli kosmetik anti air, agar kau tetap cantik meski sedang menangis.”
Aku tidak menyahutinya. Aku tidak membutuhkan apapun, kecuali sebuah kesempatan untuk menjadi seorang ibu. Sembilan tahun pernikahan tanpa anak. Sebenarnya aku sudah bahagia bersamanya. Begitu pula dengan dia terhadapku. Aku tahu ini bukan masalah sempurna atau tidak sempurna untuk menjadi seorang wanita. Tapi lebih pada keinginan untuk berada di titik itu. Menjadi ibu, dan dibanjiri oleh keriuhannya. Itu saja.
Sekarang, setelah penerbangan ditunda selama satu jam, aku duduk bersisian dengannya di dalam pesawat yang akan membawa kami ribuan kilometer jauhnya dari Jakarta. Kami berbagi senja dari ketinggian, meski dengan cara berbeda. Aku terus menerus menatap ke luar jendela, sementara dia memilih untuk tidur.
Aku mengulum senyum, sedikit geli, merasa julukan raja naga laut benar-benar cocok untuknya. Seorang raja naga laut akan selalu merasa tidak nyaman berada di ketinggian.
Ketika pertama kali aku dan dia datang ke Vietnam, dia menjuluki dirinya sendiri sebagai raja naga laut. Lac Long Quan. Sementara aku adalah putri gunung, Au Co. Menurutnya, kami akan memiliki 100 orang anak. Seperti legenda Lac Long Quan dan Au Co. Aku ingat telah tertawa pada gurauannya itu. Ternyata Kurawa tidak hanya ada di India, celotehku kala itu. Dan dia membalasku dengan banyak sekali ciuman di wajahku.
Suara-suara dari masa lalu itu terdengar lagi di kepalaku seperti sebuah lagu lama. Terngiang bagai gema. Sebenarnya aku tidak yakin kenapa dia ingin melakukan perjalanan ini. Honeymoon kedua. Melakukan kembali perjalanan ke Vietnam sebagai dua orang yang sedang jatuh cinta. Seperti sepasang pengantin baru.
Sesuatu pun bergolak di benakku.
Kulirik dia di sampingku. Masih tertidur dan terlihat tenang. Tangannya tetap mengenggam tanganku. Lonely Planet terbuka di pangkuannya. Sementara di dalam kepalaku mulai terdengar kebisingan yang asing. Aku tidak tahu apa yang sebenarnya menggangguku. Tidak mungkin bila karena ketinggian. Seorang putri gunung tidak akan takut pada ketinggian.
“Kau tidak harus melakukannya bila kau tidak ingin.”
Dia mengatakan itu suatu kali ketika melontarkan idenya tentang perjalanan ke Vietnam. Matanya menatapku. Bertingkah seolah-olah tidak peduli. Tapi kadang, dia tidak terlalu pandai berbohong. Aku tahu dia menginginkan perjalanan itu.
“Kenapa harus Vietnam?” tanyaku.
“Entahlah. Kupikir karena di sana ada Pho. Kau suka sekali makan mi kuah, bukan?”
Aku tersenyum. Saat di Vietnam kami berburu Pho setiap hari. Mi khas Vietnam itu tersaji dengan kuah, bumbu-bumbu rempah dan potongan daging ayam atau daging sapi di atasnya. Dia tahu aku suka makan mi kuah. Lucunya, aku akan makan lebih banyak lagi ketika sedang merasa sedih.
“Kalau begitu kita akan pergi. Honeymoon kedua. Lalu pulang dengan oleh-oleh yang kita harapkan selama ini,” kataku sembari menggodanya.
Dia tahu maksudku. Karena itu dia tersenyum. Tepatnya berusaha tersenyum. Aku tahu senyumannya tidak menjalar hingga ke matanya. Dan hal itu mengusikku.
Belakangan dia tidak banyak melontarkan gurauan-gurauannya. Dia juga semakin jarang bersiul saat setelah mandi. Seperti ada beban menggelayut di pundaknya yang menuntut untuk diperhatikan dan dirasakan. Aku memang tak pernah menanyakan apapun. Bukan karena tidak berani. Aku tahu setiap orang butuh waktu yang tidak sama untuk berdamai dengan kegelisahannya. Dia akan bercerita saat merasa siap. Kurasa, seperti biasanya, aku bisa memahami dan menunggunya.
Pada akhirnya seorang teman yang baik tidak akan menuntut terlalu banyak. Dia sering mengatakan hal itu padaku. Terutama ketika aku sedang kacau. Dia tidak akan banyak bertanya, tapi melakukan hal-hal kecil yang menenangkan. Memasak mi kuah untukku. Menggenggam tanganku berjam-jam. Atau justru hanya duduk diam di sampingku, tapi kehadirannya mengatakan bahwa dia akan selalu ada untukku.
*****
“Kau akan menyukai tempat ini.”
Hanya itu petunjuknya. Dan aku mempercayainya. Dia membawaku ke sebuah restoran menawan, yang berada di lantai dua sebuah bangunan tua di Tü Trong. Masih di area district 1, Saigon. Lampion-lampion kuning menggantung di langit-langitnya. Nuansa kecoklatan berpendar dimana-mana. Membawa kesan hangat dan nyaman.
“Kenapa dulu kau tidak mengajakku ke sini?” tanyaku.
“Itu karena aku sedang tergila-gila padamu. Jadi hal selain dirimu tidak akan menarik perhatianku.”
Aku mengerucutkan bibir. Gombal, batinku. Tapi sekarang, saat dia tertarik pada hal lain, apa artinya dia tidak sedang tergila-gila padaku?
Entahlah. Aku tidak ingin memikirkan hal-hal buruk. Aku menyelipkan tanganku ke lengkungan sikunya dan membiarkannya membawaku ke sebuah meja di dekat jendela. Aku tersenyum. Dia tahu apa yang kuinginkan. Melalui tempatku duduk, aku bisa melongok ke bawah dan melihat lampu-lampu jalan yang berkelip. Aku membiarkan dia memilihkan menu untukku. Spring roll isi udang, tofu lembut isi cincangan daging sapi, jus jeruk untuknya, dan es krim longan berwarna putih untukku.
“Kau suka tempat ini?” Dia bertanya dan meraih tanganku. Aku mengangguk. “Pegawai di sini adalah anak-anak jalanan, atau anak-anak yatim piatu. Mereka bekerja di sini sama seperti mencari ilmu. Ketika sudah benar-benar ahli mereka akan dilepas untuk bekerja di hotel-hotel besar.”
“Menyenangkan mengetahui masih ada orang-orang yang peduli pada mereka,” jawabku.
“Dan aku sengaja mengajakmu kemari karena aku tahu kau adalah orang yang peduli pada hal-hal seperti itu.”
Pipiku bersemu merah. Sembilan tahun hidup bersamanya tidak mengubah kebiasaan pipiku melakukan hal yang sama setiap kali dia memujiku. Kurasa itu hal bagus. Sama seperti bagaimana dia selalu memelukku dari belakang setiap kali menemukanku sibuk di dapur.
“Sebenarnya, ada yang ingin kutunjukkan padamu.”
Alisku bertaut. Dia mengeluarkan sebuah album foto dari tas kecilnya. Aku membuka album itu dan dadaku terasa hangat. Dia mengisinya dengan foto-foto kami. Bukan foto-foto pada saat peristiwa-peristiwa besar seperti pernikahan atau ulangtahun.
Album foto itu berisi foto-foto sederhana yang selalu menjadi bagian dari hidup kami. Aku yang sedang tertidur di dekat jendela dan sinar matahari membanjiri wajahku. Dia yang sedang sakit gigi hingga pipinya bengkak sebelah. Sop buntut buatanku yang di bawah foto itu ditulisnya dengan kalimat ‘sup keasinan rasa cinta’. Sikat gigi kami yang bersanding di kamar mandi. Dan barang-barang yang selalu ada di dalam tasku seperti telepon seluler, charger, lipstik, tisu, dan agenda.
“Kau…kapan kau memfoto semuanya?”
“Kau suka?”
“Sangat.”
Dia tersenyum. Tapi lagi-lagi senyumnya tidak sampai ke matanya. “Kalau begitu sepertinya kau juga perlu untuk melihat yang ini,” lanjutnya sambil mengeluarkan sebuah album foto lagi dari dalam tasnya. Kali ini ukurannya lebih kecil.
Ketika membuka lembar pertama hatiku langsung menciut. Foto pertama yang muncul adalah foto seorang bayi. Lembar-lembar berikutnya berisi foto-foto dari bayi yang sama. Terlihat perubahan bayi itu mulai dari lahir hingga berusia beberapa bulan. Foto paling akhir membuatku tersentak. Dia menggendong bayi itu. Di bawahnya tertulis, ‘Adam dan ayah.’
Aku mendongak menatapnya. Sesuatu terjadi di wajahnya. Seolah-olah dia telah melepaskan topeng yang dipakainya selamanya ini. Dan yang tersisa sekarang adalah dia yang terlihat begitu lelah, sedih dan tidak menentu.
“Namanya Adam. Bulan ini genap 5 bulan. Putra kandungku.” Dia memandangiku. Seperti menungguku untuk bersuara dan meledak. Tapi aku hanya menatapnya, dan melihat bayanganku sendiri di matanya. Dadaku sudah terbakar. Mungkin itu yang membuat dia akhirnya menyerah dan kembali bersuara.
“Ibunya bernama Kiara. Teman kuliahku dulu. Dia meninggal saat melahirkan. Aku tahu tidak pantas meminta hal ini. Tapi Adam membutuhkan seorang ibu. Kau.”
Aku ingin menjadi seorang ibu. Aku rasa aku sedang berdoa setiap kali mengatakan hal itu. Kini kesempatan itu terbentang di depanku, tapi aku tidak merasakan apapun. Tidak ada euforia. Tidak pula phobia. Sepertinya benar kalau seseorang perlu berhati-hati ketika meminta dan menginginkan sesuatu.
“Kau tidak harus melakukannya bila kau tidak ingin.” Suaranya terdengar datar dan lirih. Dia tahu aku terluka.
Kepalaku terasa berat, persis seperti ketika aku sedang flu. Aku tertawa dalam hati. Tentu saja bukan tawa yang bahagia. Aku ingat bagaimana akhir kisah Lac Long Quan dan Au Co. Mereka berpisah. Perbedaan di antara keduanya terlalu banyak. Lac Long Quan membawa 50 anak untuk ikut dengannya. Sementara Au Co membawa 50 yang lainnya. Bila pada akhirnya aku memutuskan untuk berpisah dengan dia, siapa yang akan aku bawa?
Di atas meja masih ada dua gulung spring roll dan es krim longan milikku yang masih utuh dan meleleh. Aku sudah tidak ingin menyentuhnya. Sebelum airmataku jatuh, aku menatap matanya. “Kurasa, aku ingin sekali makan bermangkuk-mangkuk Pho.”
Air mukanya sudah penuh kesedihan. Dia tahu apa maksudku.