Sepatu Beda Warna

Ruri dua

“Huaaa… pokoknya Koko nggak mau sekolah!” teriak Koko sambil menangis.
Duh… tiap hari Senin, ada saja tingkah Koko yang bikin aku terlambat, gerutuku di dalam hati.
“Ayo, dong Ko, mbak Denis bisa terlambat, nih! Lagian, kamu ini aneh-aneh saja. Masak ke sekolah maunya pakai sepatu yang itu, sama sepatu yang itu? Kan, gak cocok! Nanti kamu ditertawakan teman-teman sekelas, lo!”bentakku.
Tangis Koko kian menghebat…
“Stttt… “ telunjuk ibu memberikan isyarat agar aku diam. Huh, aku terpaksa menurut.
“Koko, kamu betul-betul mau ke sekolah pakai sepatu beda warna? Sepatu hitam dan sepatu putih yang itu?” tanya ibu di sela-sela tangis Koko. Koko mengangguk masih menangis sesenggukan.
“Nanti kalau teman-teman Koko tanya, ‘Kok sepatunya gak sama warnanya?’ Koko mau bilang apa?” tanya ibu. Koko kelihatan bingung. Namun bagusnya, pertanyaan ibu itu bisa menghentikan tangisnya.
“Pokoknya, Koko mau sekolah pakai sepatu ini, sama sepatu ini,” kata Koko bersikeras. Duh, aku menepuk dahiku.
“Ya sudah. Kalau gitu, nanti sepatu yang sebelah warna putih, Koko bawa, ya, ke sekolah. Ibu bungkus plastik, dan dimasukkan ke tas Koko. Nanti kalau di sekolah Koko mau ganti, Koko bilang, ya, ke Bu Guru.”
Koko mengangguk setuju. Aku jengkel, karena aku yang bertugas untuk mengatar Koko setiap hari ke TK.
“Yaaaah Ibu… Aku, kan, malu harus jalan sama Koko. Kalau ketemu teman-teman, pasti habis aku diledek.”
“Hmmm… bilang saja, adikmu sedang misterius. O ya, Denis… Coba kamu sekalian cari tahu. Kenapa adikmu minta pakai sepatu beda warna,” bisik ibu ke telingaku. Aku mengangguk, ikut penasaran.
***
Setiba di depan halaman TK, Koko melepaskan tanganku. Ia langsung berlari menghampiri temannya, seorang anak perempuan. Aku belum pernah melihat anak itu sebelumnya.
Ah, rupanya ia anak baru di TK Koko. Ia memakai baju bebas, bukan seragam TK. Bajunya terlihat agak lusuh, dan sepatunya… Sepatunya tidak sama antara kiri dan kanan. Agak berlubang di ujung sepatu kanannya. Aku memperthatikan dengan teliti.
“Mbak Denis, ini teman baru Koko. Namanya Kiki,” kata Koko.
Aku mengulurkan tangan, bersalaman dengan Kiki. “Koko dan Kiki… Pantas langsung akrab…”gumamku geli sendiri.
“Kiki… sepatu kamu belum ganti, ya?” tanya Koko pada Kiki. Kiki tampak tersenyum agak malu.
“Iya, ibu belum bisa beli sepatu baru,” jawab Kiki sambil berusaha menutupi sepatu kirinya dengan kaki kanannya. “Eh, tapi… sepatu kamu juga, kok, tidak sama? Hi hi hi… lucu!” lanjut Kiki sambil tertawa.
“Iya, kita sama, ya. Sepatu kamu dan sepatuku jadi lucu, ya… Hi hi hi… Nanti di kelas, teman-teman kita pasti tertawa lihat sepatu kita…” sambung Koko. Mereka berdua masuk ke kelas sambil tertawa riang.
Ah, jadi itu rupanya alasan Koko ingin memakai sepatu beda warna. Lucu sekali si Koko dan si Kiki. Pagi yang mengesalkan tadi, seketika berubah menjadi indah, Aku melangkah ke sekolahku dengan senyum ceria.
***
“Denis, kamu sudah berhasil menyelidiki? Kenapa hari ini Koko ingin pakai sepatu belang?” tanya ibu ketika aku pulang sekolah.
Belum sempat aku menjawab, Koko muncul dari kamaenya. Ibu langsung menyapa dan menggodanya.
“Ada yang nangis nggak, ya, di kelas tadi?”
“Nggak dong Bu, Koko kan udah besar. Masak nangis di kelas, malu dong… “ jawab Koko ceria.
“Memang teman-teman kamu nggak ketawa melihat sepatu belangmu?” tanya Denis penasaran.
“Ya mereka ketawa, Mbak”
“Kamu nggak nangis?”
“Ngga dong. Kiki juga nggak malu lagi, dia malah ikut ketawa. Bu guru juga bilang bagus. Terus, teman-teman bilang… ‘Koko sama Kiki sepatunya lucu ya, besok aku juga mau ah pakai sepatu belang.’ Jadi, besok banyak yang janjian mau pakai sepatu belang. Seperti sepatu Koko dan Kiki,” ceritanya Koko riang. Denis melirik senang ke ibu.
“Wah hebat, adik Mbak Denis sekarang jadi trendsetter!” seruku sambil mengacungkan dua jempol.
Ibu tertawa melihat Koko yang menggaruk-garuk kepalanya. Ia tak mengerti arti kata trendsetter.
Di dalam hati, aku berjanji, akan menyisihkan uang tabunganku untuk membelikan Kiki sepatu baru.