Pemberian yang Buruk

Paras

Pernah memberi? Memberikan sesuatu kepada orang lain? Atau memberikan sesuatu dan ternyata pemberian itu ditolak?
Memberi itu sebuah kebiasaan baik yang diajarkan Islam. Namun yang saya pelajari seringnya kaum muslim sendiri, lupa satu ayat penting tentang sebuah pemberian.
Al Baqoroh ayat 267 meminta kita untuk memberikan pemberian terbaik. Jangan memberi sesuatu yang buruk, yang kita sendiri memicingkan mata karenanya.
Tidak semua orang paham ayat memberi ini. Maka beberapa kali, saya mendapati kue di piring yang baru diberi, ternyata sudah berjamur. Makanan lain yang diberi ternyata makanan gosong. Atau saya melihat seseorang memberikan baju yang sudah kusam dan buruk, untuk disumbangkan.

Tangan di atas lebih baik dari tangan di bawah. Tapi ketika ada orang yang ingin memberi sesuatu pada kita, tentunya kita harus menerimanya.
Ajaran untuk harus menerima itu diberikan Bapak saya. Beliau bilang, saya harus menghormati orang yang memberi itu.
“Ssst…, jangan ditolak. Diterima dulu, biar yang memberi tidak sakit hati.”
Kalimat Bapak itu akhirnya saya jadikan patokan untuk selalu menerima pemberian orang lain. Apa lagi orang itu sudah susah payah mengetuk pintu rumah saya. Setelah menerima, saya tentunya juga wajib mengucapkan terima kasih.

Ada banyak pemberian yang bagus, tetapi ada juga yang lalai dan memberi sesuatu yang tidak diharapkan oleh penerimanya.
“Kok kuenya ada jamurnya, Bu?”
Itu yang sulung saya katakan, ketika melihat kue pemberian di piring.
“Bu…, kok rasanya mpek-mpeknya begini. Basi,” lain kali si bungsu yang kecewa.
Saya hanya menggeleng dan tidak mau memberi penjelasan. Makanan itu saya bungkus dengan tas plastik hitam, saya ikat agar jangan sampai isinya ke luar, lalu buang ke tempat sampah diam-diam.

Ada banyak hal yang saya pelajari ketika memasukkan kalimat Bapak ke hati.
Bahwa ketika kita menghargai jerih payah orang lain, yang mungkin tidak tahu, bahwa yang ia berikan adalah barang yang sudah tidak layak konsumsi, maka akan dibukakan pintu-pintu lain olehNYA. Pintu-pintu itu bernama pintu kebijaksanaan.
Allah ingin kita yang menerima pemberian itu. Dan kita dipercaya menjaga aib yang seperti itu. Bayangkan jika orang lain yang menerima. Mungkin akan ada obrolan panjang dari mulut ke mulut soal hal itu.

Saya juga jadi belajar banyak untuk merubah perilaku saya ketika memberi.
Barang-barang (baju atau sepatu) yang tidak saya pakai lagi, benar-benar saya sortir yang masih bagus dan layak pakai untuk orang yang saya beri. Makanan yang saya beri pun, harus makanan yang baru saya buat sendiri. Atau jika makanan beli, maka saya harus meyakinkan diri dahulu, bahwa itu bukan makanan kadaluarsa.
Jangan pernah merasa yakin, semua orang akan menerima pemberian kita. Karena itu bertanya lebih dahulu, dan ucapkan maaf. Tanya apakah mereka mau menerima pemberian dari kita. Sebutkan barang yang akan kita beri. Jika mereka tidak mau, jangan pernah sakit hati. Siapa tahu mereka memang tidak membutuhkan, dan Allah ingin kita menyimpannya untuk lain kali, untuk orang yang lebih tepat.
Proses memberi seperti ini akhirnya membuat saya paham makna memberi yang sesungguhnya, makna menutup aib sesama saudara muslim, dan membuka hati untuk menerima ucapan terima kasih atau bahkan penolakan.
“Terima dulu barangnya…”
Jika ada yang memberi, saya akan terima dahulu pemberiannya. Suka atau tidak suka, biarkan yang memberi merasa lega dan merasa dibutuhkan.
**