Serpih

10492548_10152949405708591_6728867720945752305_n

“Jauhkan dia sejauh-jauhnya.”
Kalimat itu masih saja terucap dari mulut Luli ketika mukenanya ia lipat. Dan ia berada di depan cermin.
“Jauhkan…,” kali ini mulutnya bicara sendiri. Lipsgloss warna pink. Bedak padat setelah alas bedak ia kenakan.
“Jauhkan..,” ia terbatuk sekarang. Lalu berjalan ke arah anak tangga. Naik hingga hitungan anak tangga kesepuluh.
“Benci itu sesuatu,” ujarnya. Melepaskan sebuah karet yang ia jepretkan dari tangannya, menuju sebuah foto yang tertempel di dinding kamar atas.
Lalu ia tersenyum puas.
**
Karirnya tidak pernah melesat sempurna. Sebagai reporter yang sudah berpindah kerja di tiga media berbeda, Luli tetap menjadi reporter saja. Media kecil bukan media besar.
Sekarang kakinya melangkah. Ada banyak hal yang harus ia lakukan sejak pagi. Dan dari sekian banyak hal itu adalah harus berhadapan dengan Bara. Tidak ada yang salah dengan Bara. Dia bukan siapa-siapa. Bukan pesaingnya di dunia kerja.
Luli mengenakan jilbab berwarna biru bermotif bunga. Berjalan dengan cemberut.
Turun dari angkutan umum, ia harus berjalan masuk ke gang. Lurus lalu berbelok lagi dan berhenti di gang yang lebih sempit lagi.
Luli menggelengkan kepalanya sendiri. Sebenarnya konyol apa yang sudah ia lakukan. Tapi ia harus melakukannya.
**
Tidak banyak yang tahu tentang Bara. Bahkan teman sekolah mereka juga pasti sudah lupa lelaki itu. Tapi lelaki itu lekat dengan Luli.
Ada banyak hal yang membuat mereka dekat. Sejak sekolah dasar, berlanjut hingga sekolah menengah pertama. Berpisah lalu bertemu lagi di tempat kuliah.
Segalanya biasa. Banyak yang bilang itu pertanda jodoh. Tapi tidak untuk Luli. Mereka tidak berjodoh.
Mereka pernah dekat, tapi Luli sadar Bara hanya memanfaatkan dirinya saja. Tapi konyolnya sampai sekarang ia tidak pernah bisa melepaskannya.
Bara pintar, Luli seadanya saja. Banyak tugas-tugas kuliah terutama mata kuliah khusus penulisan, bahkan sampai tugas akhir membuat sebuah koran, dikerjakan oleh Bara untuknya. Imbalannya ada. Bukan uang. Tapi puisi-puisi ciptaan Luli yang Bara minta sebagai bayaran.
Bara bilang, dengan wajah pas pas an yang dimilikinya, sebuah puisi akan mampu membuat banyak gadis bertekuk lutut.
Dan bodohnya Luli, sebagai gadis yang pernah jatuh cinta, menyetujui hal itu. Mereka bertukar pekerjaan. Luli harus membayar setiap pekerjaan yang Bara kerjakan untuknya dengan sebuah sampai dua puluh puisi. Puisi-puisi itu Bara bukukan atas nama Bara.
Langkah Luli akhirnya sampai di gang sempit yang membuat Luli harus berjalan pelan dan minggir ke tepi , karena gang itu hanya cukup dilalui dua orang saja, hingga akhirnya Luli berhenti. Sebuah rumah kecil, dengan beberapa ember di luar.
“Cari siapa?”
Luli mencoba untuk tersenyum. Aroma perkampungan padat membuat ia harus pintar menjaga sikap.
Seorang lelaki muncul dari dalam. Menyodorkan sesuatu. Sebuah amplop. Untuk kemudian Luli juga menyodorkan amplop untuknya. Kemudian ia pergi.
Ke luar dari gang sempit itu Luli harus mampir ke sebuah warung. Teh hangat bukan untuk menyegarkan tenggorokannya.
Ada wawancara penting kemarin. Dan sekarang semuanya tinggal diolah ulang.
Luli tersenyum sendiri. Berjalan menuju kantornya.
**
“Tulisanmu semakin keren…”
Luli melirik pada Ambar. Mereka masuk hampir bersamaan. Ambar yang baru lulus kursus jurnalistik, dan Luli yang membawa rekomendasi beberapa tulisannya yang sudah dipublikasikan. Sebenarnya itu juga tulisan Bara. Kerja di tempat sekarang juga karena Bara punya informasi tentang lowongan reporter di sana.
“Sudah naik sekarang, ya?”
Luli tidak mengerti.
“Wawancara tokoh politik, bukan lagi wawancara artis dangdut.”
Luli mengangguk.
Pertama kali bekerja ia dimintai memawancarai penyanyi dangdut. Bara menertawainya. Dan Luli mencoba menikmatinya.
Luli bahkan sampai hapal pertanyaan yang harus dilotantarkannya. Jam berapa bangun, siapa pacarnya, selingkuhan pejabat siapa, dan berujung pada ajakan melihat lemari pakaian artis itu.
“Belajar dari buku apa?”
Luli menggelengkan kepalanya. Ambar semakin cerewet sekarang. Wawancara kemarin sudah siap semuanya ia kemas. Tinggal kasih pimpinan redaksi. Tidak ada buku di meja kerjanya seperti setumpuk buku tebal di meja Ambar. Luli memang lebih memilih memahami Kahlil Gibran atau kembali membaca Hujan Bulan Juni Sapardi sambil meresapi maknanya dalam-dalam.
“Nanti malam ada liputan lagi..”
Luli mengangguk.
“Mau naik apa?” tanya Ambar ketika Luli sampai di pintu depan.
Untuk reporter yang akan liputan di luar, media tempatnya bekerja menyediakan kendaraan. Luli bisa memilih. Kendaraan dari kantor atau kendaraan umum yang nanti bisa diminta uang gantinya. Itu juga biasanya Luli malas untuk menghitung dan minta ganti.
“Ada pertemuan penting di gedung KPK.”
Luli mengangguk. “Aku ke tempat yang lain.”
“Tapi hari ini jatahnya liputanmu ke sana.”
“Sedikit siang saja. Setelah pulang dari liputan fashion show…,” ujar Luli sambil berlari.
Bicara dengan Ambar terlalu lama, akan membongkar segala rahasianya.
“Fashion show apa?” Ambar masih bertanya.
“Hijab…,” kali ini Luli sudah berlari menyeberang jalan dan menghentikan sebuah taksi.
**
“Kamu tidak bisa apa-apa.”
Luli mengusap wajahnya.
Ia memang tidak bisa apa-apa. Dan tidak pernah bisa. Satu hal yang paling ia bisa hanya menjadi pendengar yang baik, bukan penulis yang baik.
“Apa yang kamu bisa?”
Di dalam taksi matanya memandang ke luar. Supir taksi yang ditumpanginya tidak cerewet. Mungkin tahu, wajah cemberut Luli bisa menjadi jawaban, bahwa ia tidak ingin diganggu.
Dia memang dianggap tidak pernah bisa apa-apa. Bapak selalu mengatakan hal itu padanya. Luli dulu suka sekali menulis puisi, tapi Bapak bilang, itu puisi jelek yang tidak bisa membuat Luli hidup dengan baik.
Bapak ingin Luli bisa menulis, jadi wartawan hebat seperti Bapak. Tapi nyatanya Luli tidak pernah bisa jadi itu semua.
Luli mengedipkan kelopak matanya.
Bara dan Bara. Ia dekat dengan Bara tapi sesungguhnya jauh. Ia butuh Bara, tapi Luli tahu kebutuhan itu harus segera dihentikan.
Ia tidak bisa apa-apa yang membuat ia tergantung pada Bara. Setiap kali habis mewawancarai nara sumber, ia akan mendatangi Bara lalu memberikan hasil wawancara itu. Bara akan mengolahnya menjadi sebuah tulisan untuknya. Bayarannya adalah sepuluh sampai dua puluh puisi karya Luli yang akan Bara jadikan buku, atau kirimkan ke media atas nama Bara. Penyair Bara. Luli tahu Bara bangga dikenal sebagai seorang penyair.
Itu kerjasama dengan cara saling menguntungkan. Tidak ada yang dirugikan seharusnya. Bapak bangga ketika Luli kerja sebagai reporter, meskipun Bapak tidak pernah tahu, untuk lulus pun Luli membayar Bara bukan hanya dengan puisi tapi ratusan ribu demi agar skripsinya tuntas dikerjakan.
Sampai beberapa minggu yang lalu, ketika kantuk begitu menyerangnya dan Luli harus mendengarkan kembali hasil wawancaranya, radio di kamarnya yang tidak ia matikan, mengumandangkan sesuatu.
Ceramah agama tentang harta yang tidak berkah. Buku puisi Bara yang berisi seluruh puisi Luli, meski laris manis, tapi tetap tidak bisa membuat hidup Bara berubah. Lelaki itu tetap hidup mengontrak di gang sempit, bukan di tempat yang lebih layak.
Dan ia sendiri?
Karirnya terseok-seok tidak seperti Ambar. Ambar sudah ditugaskan keliling daerah bahkan sampai wilayah yang terpencil, sedang ia tetap di tempat yang sama. Tugas paling jauh di luar kota. Bukan untuk meliput kegiataan pejabat penting setara menteri, tapi untuk meliput panggung dangdut yang ambruk di sebuah kampong dan satu orang penyanyinya tewas seketika.
“Mbak…, tadi turun di mana?”
Taksi itu sudah menepi. Luli menarik napas panjang. “Di depan sana, Pak. Halte depan mall.”
Taksi itu berjalan lagi.
Luli ingin mendinginkan pikirannya dulu sambil belajar menulis. Iya, ia ingin konsentrasi belajar menulis.
**
Luli terlambat sampai di kantor. Lalu terlambat juga sampai di tempat liputan. Tidak ada acara fashion show yang ia datangi. Tapi sampai di kantor ia mendapati Ambar memeluknya kuat-kuat.
“Aku diangkat jadi atasan para reporter.”
Bola mata Ambar kelihatan bercahaya. Gadis bertubuh kurus itu kuat ambisinya dan ia mau belajar keras untuk itu.
“Mau aku traktir kopi atau…”
“Sebuah pengakuan,” ujar Luli pada akhirnya. “Boleh, kan?”
Ambar mengangguk. “Di warung kopi atau…”
“Di mana saja,” ujar Luli mantap.
Apa yang harus ia katakana? Memulai suatu hal yang menyakitkan atau…
“Aku tidak berbakat,” ujar Luli pada Ambar ketika mereka sudah sampai di tempat yang dituju. “Aku mungkin berbakat mendengarkan cerita orang lain, merekamnya, tapi aku tidak berbakat untuk menuliskan dalam bahasa panjang, seperti tulisanmu.”
Ada getuk berwarna hitam dengan taburan kelapa. Ambar memilih rumah makan getuk yang berada tidak jauh dari kantor.
“Aku tidak berbakat…”
Ambar mengelus punggung Luli. “Aku tahu.”
Kaget Luli mendengarnya. “Kamu tahu?”
Ambar mengangguk. “Aku ada di sebelah mejamu. Aku sering melihat puisimu, tercecer di bawah lantai. Beberapa aku kumpulkan,” Ambar membuka tasnya. Memberikan pada Luli. “Ini baru sebagian.”
Luli membacanya.
Sebuah puisi mungkin tidak bisa membuka semua rahasianya. Tapi kalau terkumpul lebih dari sepuluh lembar kertas berisi puisi, yang membacanya pasti akan tahu jeritan hatinya.
“Ajari aku untuk menulis puisi sebagus ini.”
Luli kaget.
“Aku akan ajari kamu menuliskan hasil wawancara dengan baik. Kamu punya potensi, kok.”
“Tapi…”
“Dan seorang yang selalu menerbitkan buku-buku puisi atas namanya padahal itu puisimu, mari tinggalkan.”
“Kamu tahu?” kalimat itu meluncur cepat dari mulut Luli.
Ambar mengangguk. “Sudah kubilang aku pengagum puisimu. Lelaki itu, namanya Bara. Aku pernah mewawancarainya juga untuk rubrik tentang seorang penyair. Dan kamu tahu.., penyair yang baik akan bisa menciptakan puisi dengan cepat. Tapi ia tidak.”
“Tapi…”
“Namanya Bara. Kalau kamu mau, Papa bisa membantumu mengurus hak puisi-puisimu… Kamu dimanfaatkan.
Luli menggeleng tegas. “Aku juga berutang padanya. Aku juga memanfaatkannya.”
“Siapa bilang? Beberapa teman pernah cerita tentang wawancara yang kamu berikan pada Bara, lalu mereka diminta Bara untuk mengerjakannya. Hasil tulisan mereka jelek, aku yang merevisinya sebelum sampai ke tangan pemimpin redaksi, sambil berharapan suatu saat kamu akan sadar.”
“Kamu baik,” Luli mulai menangis.
Tidak ada percakapan lagi setelah itu. Secangkir kopi di depan Luli sudah hampir habis. Ampasnya kelihatan dari luar.
“Habis ini, aku ajari kamu menulis lebih baik lagi,” Ambar tersenyum.
Luli tersenyum. Ada beban yang tiba-tiba terangkat dan membuatnya begitu ringan.
Mungkin lebih baik ia anggap Bara itu masa lalu dan serpihan kaca yang terkena kakinya. Harus dilupakan dan dibuang ke tempat paling jauh.
**