Payung Ungu

buku novel 5

“Ayahmu ingin menginap di sini malam ini….”
Udara malam ini panas. Mungkin sebentar lagi akan turun hujan.
“Masih ada satu kamar kosong yang bisa ditempati oleh ayahmu di sini. Ayahmu sendiri, dan beliau selalu merindukanmu.”
Tata memandang bundanya. Ia menarik napas panjang.
“Ayahmu, Ta. Bukan siapa-siapa…”
Tata mendengar suara Bunda seperti memohon. Tata juga melihat ada air mata yang berusaha untuk dibendung Bunda agar tidak keluar dari tempatnya.
“Ayahmu..”
“Apa kata orang nanti?” tanya Tata pelan. “Ayah dan Bunda sudah bercerai, lalu tinggal bersama lagi.”
“Mereka tidak akan mengerti. Yang mengerti hanya kamu, Bunda dan ayahmu. Atau yang lain mengerti jika kamu memberitahu.”
Tata berdiri dari duduknya. “Mungkin saya akan menginap di tempat lain saja…”
“Tapi ayahmu ingin bertemu, setelah beberapa tahun kalian tidak pernah bertemu lagi. Tidakkah kamu punya perasaan yang sama?”
Tata diam. Bunda selalu begitu. Memaksa dengan cara kelembutan.
“Akan saya pikirkan lagi,” ujar Tata akhirnya. Lalu ia berjalan meninggalkan bundanya.

@@@

“Kamarnya di sebelah situ dan spreinya sudah Bunda ganti dengan warna ungu. Ayahmu suka sekali dengan warna ungu.”
Baru tadi sore mereka bicara dan belum ada keputusan. Sekarang, Bunda sudah menghampirinya dan menarik tangannya untuk melihat perubahan pada kamar mungil yang selalu kosong. Kamar tu biasa dipakai tamu untuk menginap.
“Ayahmu juga suka kalau kamarnya wangi. Nanti kita ke pasar kembang dan membeli beberapa tangkai bunga sedap malam.”
Tata melihat. Masih ada binar di mata Bunda. Hebat! Binar dari seorang perempuan untuk seorang lelaki yang menyakitinya dan meninggalkannya tanpa khabar.
“Handuknya juga yang ungu. Ayahmu itu apa-apa maunya serba ungu. Bunda sendiri suka yang netral saja. Hitam, putih, atau….”
“Mirip perempuan…,” Tata tahu, kalimat yang keluar dari mulutnya akan menyakiti perasaan bunda. Tetapi ia harus menyadarkan Bunda.
“Kemeja Ayah nanti…,” Bunda lalu menggeleng dengan kening berkerut. “Biar, Ayah tahu apa baju yang akan dibawanya.”
Tata cemberut.
“Maaf…, Nak.” Bunda menepuk pipi Tatga. “Ini kenyataan dan kamu harus paham itu.”
Sampai kapanpun rasanya Tata tidak akan pernah paham.

@@@

Tamu itu datang menjelang malam, ketika hujan turun lumayan deras. Ia berambut sebahu.
“Teman ayahmu,” ujar Bunda tanpa ekspresi. “Ayahmu batal datang. Sebaiknya…, ia tidur di kamar yang sudah kita persiapkan untuk ayahmu. Bukan dengan Bunda.”
“Bukan juga dengan saya!” ujar Tata ketus.
Bunda berdusta padanya. Sedang berdusta.
“Namanya tante Rien. Sahabat ayahmu dulu…”
Tata diam. Dusta Bunda semakin melebar saja. Sungguh sebenarnya Tata ingin berteriak dan mengatakan bahwa ia mengetahuinya.
“Andai dulu Bunda lebih memahaminya….”
Tata memilih melangkah pergi meninggalkan Bunda.

@@@

Tamu itu tidur di kamar yang sudah dipersiapkan Bunda untuk Ayah.
“Kamu mungkin membenci ayah kamu…”
Kalimat itu meluncur ketika Tata sedang duduk di ruang tamu, menikmati pagi yang disiram gerimis. Seragam sekolah sudah dikenakannya dan payung sudah siap ada di tangannya.
“Kamu membenci dia?”
Tata masih ingat suara yang didengarnya beberapa tahun yang lalu, meskipun kali ini terdengar lebih lembut.
“Membenci segala keputusan ayahmu itu tidak baik….”
Bunda ada di dekatnya memandangnya.
“Kenapa membenci ayahmu sendiri?”
“Kenapa?” kening Tata berkerut.
Hening.
“Kamu tahu, ayahmu sangat mencintai bundamu. Hanya tarikan itu susah sekali dilawan.”
“Tarikan dari sebuah keegoisan?” Tata berdiri dari duduknya. “Bukan begitu?”
“Nak..,” Bunda menggelengkan kepalanya.
Tata ikut menggeleng. “Saya membencinya,” desisnya pada Bunda.

@@@

“Teman ayahmu sudah pergi pagi-pagi sekali.”
Semalam hujan deras. Tidur Tata pulas sekali. Dan pagi ini ketika ia ingin mengetahui apakah kamar mungil dengan nuansa ungu itu, masih terisi seseorang, Bunda sudah memberi khabar padanya.
“Ayah titip sesuatu padamu. Payung ungu di teras sana. Berharap payung itu bisa melindungimu seperti sebenarnya Ayah sekuat tenaga untuk melindungi dan menjagamu dari jauh.”
Bunda mulai pintar berpuisi.
“Dia sebenarnya baik, Ta. Tante Rien juga….”
Tata menggeleng.
“Dalam hidup pernikahan Bunda tidak pernah ada perempuan lain, Ta. Itulah kenapa Bunda masih selalu menghargai keputusan ayahmu meninggalkan Bunda.”
“Bukan juga lelaki lain?”
“Tidak. Hanya ayahmu seorang. Orang baik seperti ayahmu tidak ingin memberikan cinta palsu pada Bunda.”
Tata menggeleng. “Mungkin saya kuno,” ujar Tata berjalan perlahan. “Tapi menyaksikan seorang Ayah yang gagah berubah menjadi perempuan, tidak pernah bisa masuk ke pikiran saya, Bunda,” Tata berbisik nyaris menangis.
Hujan turun semakin deras. Tata bersiap melangkah ke luar.
“Payungnya, Ta…”
Tata membiarkan begitu saja.
Tamu yang Bunda bilang teman ayah itu sebenarnya sudah ia ketahui. Itu ayahnya. Menjelma menjadi seorang perempuan bernama Tante Rien. Dulu ketika Bunda tidak ada di rumah, Tata sering melihat Ayah memakai baju dan make up Bunda.
Hujan turun bertambah derasnya.
Tata hanya tahu, ayahnya seorang lelaki bundanya seorang perempuan. Hanya itu.

2 thoughts on “Payung Ungu

Comments are closed.