Rahasia Indah Allah Bernama Pandemi Corona

Pandemi Corona?
Ketika anak-anak pondok diliburkan dan kami orangtua bergegas harus menjemput, tidak terbayang ada rahasia lain setelah itu.
Anak-anak yang awalnya libur pondok hanya dua pekan, ternyata melebar menjadi bulan Juni.
“Horeee,” saya bersorak kesenangan.
Anak-anak saling berpandangan. Lalu akhirnya mereka paham makna sorakan saya.

Libur panjang di masa pandemi ini sesuatu yang menyenangkan untuk saya. Iya, anak-anak yang sejak kecil dalam pengasuhan dan saya didik sendiri, lalu mereka besar. Teman-teman mengambil mereka, padahal rasanya belum puas semua ilmu saya berikan pada mereka.
Lalu Allah berikan wabah ini, di mana semua harus berdiam di rumah. Patuh pada aturan.
“Ibu senang, deh, bisa ngajarin kita lagi.”
Saya tertawa.
Iya saya bukan hanya senang, saya bahagia. Ada banyak target yang saya sesuaikan dengan target pondok. Hafalan anak-anak tetap dikawal. Saya juga berkewajiban mengasah bakat mereka lagi.

Hal pertama yang saya lakukan adalah menyusuh kuis Ibu Aisyah Dahlan . Saya print dan berikan pada mereka. Mereka tugasnya menjawab sesuai hati mereka. Nanti Ibu yang akan menghitung jawabannya.
Hasilnya tidak jauh dari apa yang sudah saya pahami tentang mereka.
Bakat mereka di visual dan literasi, juga natural.
Dan mengetahui itu lebih detil, saya juga lebih percaya diri untuk memberikan alat-alat pada mereka.
Seperti kanvas untuk Sulung dan semua bahan masak seperti terigu, mentega dan lainnya selalu ada untuk Bungsu.


Ini karya Sulung


Ini hasil masakah Bungsu

Corona untuk saya, sejatinya adalah cara indah Allah untuk menjadikan keluarga sebagai pondasi karakter anak. Anak-anak yang ketika tumbuh membesar, tidak lagi betah berlama-lama di rumah, lalu dihadapkan pada sebuah situasi yang membuat mereka harus tinggal di rumah. Mereka menyaksikan apa yang dilakukan orangtua.
Kami bisa berbincang-bincang dari hal serius seperti masa depan, sampai hal remeh-temeh seperti membicarakan kelakuan Kak Ros dan Abang Saleh di film animasi Upin Ipin.

PR saya masih banyak untuk anak-anak.
Saya memberi target buku untuk mereka selesaikan.
Saya masih punya target Sulung dan Bungsu bisa menulis artikel. Mereka belajar lewat WA dari saya. Aneh, kata anak-anak. Dalam satu rumah belajar lewat WA, Tapi ini trik saya agar mereka merasa sedang belajar dengan guru. Menyesuaikan juga dengan cara belajar generasi milenial.
Sulung masih ada target untuk membiasakan diri kultum.
Bungsu masih ada target hafalannya menembus juz 10, agar bisa masuk kelas tahfidz.

Saya bersyukur.
Pernah mendapat berkah bernama Pandemi Corona.

Published by nurhaya3

Nurhayati Pujiastuti, owner Sanggar Mama Bilqis, Founder Penulis Tangguh, Kelas Merah Jambu dan Kelas Biru. Trainer Menulis.