Roti Ginak Ginuk di Tengah Meeting Virtual

Roti Ginak Ginuk di Tengah Meeting Virtual

Bikin roti?
Ya ampun, entah kenapa sejak anak-anak libur sangat panjang karena Corona, ini badan dan otak harus lebih lihai dibelah ke sana dan ke mari. Dari mulai mantau setoran anak-anak sesuai target pondok, menerima setoran anak-anak, sampai harus memenuhi gizi anak-anak.
Maklum anak pondok. Jadwalnya padat. Merasakan makan ayam pun hanya sepekan sekali.

Saatnya Ibu memanjakan mereka plus menambah pahala juga, dong.
Kadang gantian juga sama anak gadis, yang memang hobi masak.

Kemarin bikin brownies mudah dan hanya dikocok pakai tangan.
Hari ini?
Ya ampun, sesuai jadwal, hari ini ada meeting dengan Litara dan LetsRead Asia Foundation. Jadi naskah dan ilustrasi dari BookLab sudah 90 persen jadi.
Awalnya, sih, akan ada pertemuan kembali. Tapi wabah Corona membuat semua jadwal diganti dengan meeting secara online pakai aplikasi meeting.

Sibuk?
Iya, karena kali ini ada 10 editor, 10 art director, 3 fasilisator dan Asia Foundatin, yang akan membahas naskah dari 10 peserta.
Dari malam sudah pada sibuk biar besok acara meeting lancar. Saya sudah siapkan laptop.
Acara akan diadakan jam sepuluh.

Jam sepuluh?
Ya ampun, pagi saya malah santai-santai. Berjemur dulu biar kena matahari di lantai atas. Terus masih sibuk pindah barang ke sana ke mari. Dan ujungnya malah bikin adonan roti. Ada terigu, gula, ragi, mentega. Baiklah semua bahan saya campur dengan takaran hati. Huhu, saya tidak terlalu suka menimbang dan melihat angka, jadi saya percayakan pada feeling.

Jam sepuluh sudah tiba.
Meeting akan berjalan hingga sore dengan jam istirahat setelah itu. Masing-masing naskah dibahas satu persatu. Didedel doel sampai detil sekali, dari mulai tekhnik gambar, warna, sampai teksnya.
Di tengah meeting, tiba-tiba saya teringat adonan roti saya. Wah, sudah mengembang. Kalau hanya mendengarkan ketika naskah orang lain didedel doel, nanti saya stress sendiri. Baiklah saya lakukan hal lain, biar kerja hati dan otak menjadi ringan.
Semua peralatan saya bawa ke ruang kerja.
Jadi saya mendengarkan sambil membentuk adonan roti yang sudah mengembang. Lebih fresh di hati dan otak.
Nah ketika jam istirahat, barulah saya panggang roti.

Resepnya?
Ini resep pakai feeling. Jarang sekali saya pakai takaran yang baku.
Yang jelas untuk terigu saya pakai yang bisa didapat di warung saja.
1. Terigu segitiga seperapat
2. Fermipan 1 sendok teh, masukkan ke gelas dan tuang air suam kuku separuhnya. Ini untuk melihat ragi masih aktif atau tidak. Kalau ragi tidak aktif, roti akan tidak bisa mengembang.
3 baking powder, seujung sendok makan
4. telur 1 butir
5. mentega 2 sendok makan.
6. satu sachet susu dancow
7. 2 sedok makan gula pasir.

Semua bahan itu saya campur. Aduk dengan sendok biar tercampur. Setelah itu diuleni pakai tangan.
Kunci adonan roti itu, gluten akan terbentuk jika terkena hangatnya tubuh. Jadi semakin bersentuhan dengan tangan, semakin bagus adonannya.
Beda dengan kue kering yang memang harus seminimal mungkin terkena panasnya tangan.
Banting terus adonannya hingga kalis.
Setelah itu diamkan minimal 15 menit, sampai adonan mengembang.

Ketika adonan sudah mengembang, kempiskan. Tinju aja pakai kepalan tangan kita, lalu banting lagi.
Urusan banting membanting ini, bagus kalau sambil memikirkan hal yang membuat kita sebal. Jadi segala stress bisa pergi.
Jangan lupa berdoa di awal membuat adonan, ya.

Setelah itu siapkan wadah yang sudah diolesi mentega.
Bentuk adonan sesuai selera kita mau dibentuk seperti apa.
Isi dengan coklat atau keju. Masukkan ke loyang, dan diamkan kembali sampai mengembang. Biarkan 15 menit.
Setelah itu panaskan di oven.
Kalau untuk oven tangkring, pakai kompor gas, pastikan api sedang saja. Jangan terlalu besar dan terlalu kecil. Panaskan ovennya dulu, ya.

Untuk olesan
Saya suka mengoles atasnya dengan madu. Lalu masukkan ke oven. Kalau sudah kecoklatan kulit bagian atasnya, saya keluarkan kembali dari oven dan oles dengan susu kental manis.
Hasilnya ini.

Terus meetingnya gimana?
Hoho, si meeting masih lanjut lagi besok.
Dan saya jadi mikir, mau bikin apa lagi, ya, di tengah meeting besok?

Published by nurhaya3

Nurhayati Pujiastuti, owner Sanggar Mama Bilqis, Founder Penulis Tangguh, Kelas Merah Jambu dan Kelas Biru. Trainer Menulis.