Work from Home

Work from home namanya. Bekerja dari rumah dan tetap dapat penghasilan.
Merebaknya virus Corona membuat banyak perusahaan, yang meminta para pegawainya untuk work from home. Daaan akhirnya masyarakat pun paham tentang pekerjaan yang bisa dikerjakan di rumah.
Sebelumnya jika yang biasa hidup di lingkungan perumahan berisi para pegawai, bekerja yang dapat penghasilan hanyalah di kantor. Kecuali dia jualan sembako, penjahit dan lainnnya, maka tidak mungkin bekerja dari rumah.
Bisa terbayang, dong, seperti apa rasanya saya dan suami yang selama ini freelancer dan bekerja dari rumah.

Work form home freelancer tentu beda dengan pegawai.
Freelancer seperti penulis, harus berjuang untuk disiplin agar penghasilan selalu ada.
Jika pegawai apalagi dalam kasus virus Corona ini, mereka dirumahkan dan tetap mendapat gaji.

Work from home untuk freelancer ada banyak tantangannya.
Tantangannya adalah disiplin dalam mengatur waktu termasuk membuat prioritas apa yang harus dikerjakan.
Bekerja dari rumah artinya menjadikan rumah sebagai kantor. Untuk saya, jam kerja tentunya harus ada. Aturan harus ada. Untuk apa? Untuk mendisiplinkan diri saya sendiri.
Saya sendiri mendisiplinkan diri untuk bekerja dari rumah seperti orang kantoran.
Malam jatah saya tidur, siang baru saya bekerja.
Dan jadwal seperti itu teratur saya lakukan sejak anak-anak kecil.
Aturan penting untuk saya adalah rumah harus rapi sebelum saya buka komputer.

Work from home ala saya, setiap hari bekerja. Iya, setiap hari di rumah komputer menyala.
Bahkan ketika mudik pun laptop akan dibawa.
Tidak istirahat, kah?
Ada waktu istirahatnya. Tapi bukan nongkrong tidak jelas.
Saya memilih waktu istirahat dengan menggambar atau bikin-bikin sesuatu, yang ujungnya ya nulis juga.
Misalnya membuat kue seperti ini

Atau membuka Pinterest dan membuat buku-buku mini dengan mencontoh beberapa gambar dari Pinterest.
Maklum saya bukan ahli gambar, jadi imajinasi dalam menggambar harus melihat contoh terlebih dahulu.

Selamat datang di dunia work from home.
Jangan lupa untuk tetap bersyukur.

Published by nurhaya3

Nurhayati Pujiastuti, owner Sanggar Mama Bilqis, Founder Penulis Tangguh, Kelas Merah Jambu dan Kelas Biru. Trainer Menulis.