Khalifah Umar dan Dua Bencana Besar #parttwo

Bencana kelaparan belum tuntas selesai ketika Allah mendatangkan ujian berupa bencana lain. Bencana itu adalah wabah di Syam dan menjalar terus hingga Irak. Wabah itu berada di Amawas yang masih termasuk Palestina, kemudian menjalar ke Syam, dan menewaskan setiap orang yang tertular wabah ini. Wabah ini dalam sebulan sudah menelan korban 25.000 muslimin. Mereka orang-orang yang penting dan terkemuka seperti Abu Ubaidah bin Jarrah, Mu’az bin Jabal, Yazid bin Abi Sufyan, Haris bin Hisyam, Suhail bin Amr, Utbah bin Suhail dan masih banyak lagi.

Haris bin Hisyam berangkat dari Medinah ke Syam dengan tujuh puluh orang anggota keluarganya dan semuanya tewas, kecuali empat orang yang selamat. Konon empat puluh anak Khalid bin Walid tewas semua.

Umar sudah bersiap untuk pergi ke Syam untuk suatu urusan. Umar sudah sampai Sar daerah dekat Tabuk dan dijemput pemimpin militer mereka Abu Ubaidah bin Jarrah, Yazid bin Abi Sufyan dan Syurahbil bin Hasanah. Mereka memberi tahu, daerah itu sedang dilanda penyakit menular.

Semua berdiskusi untuk mengambil keputusan. Lanjut atau kembali ke Madinah. Keputusannya adalah kembali ke Madinah. Kaum Muhajirin dan Ansar bersiap kembali.
Pada saat itu rapat itu, Abu Ubaidah tidak hadir. Ketika tahu apa yang dilakukan oleh Umar, Abu Ubaidah berkata,” Umar, kita akan lari dari takdir Allah!”

Umar lama menatap Abu Ubaidah dan berkata,” Ya, lari dari takdir Allah menuju takdir Allah juga.”
Umar lalu berkata, “Bagaimana pendapat Anda kalau ada orang turun ke sebuah tempat yang terdiri dari dua lereng, yang satu subur dan yang satu lagi tandus? Bukankah mengembalakan di tempat tandus itu dengan takdir Allah, dan yang menggembalakan di daerah subur juga dengan takdir Allah?”

Pada saat itu datanglah Abdur Rahman bin Auf membawa hadist Rasulullah.

Jika ada satu wabah di suatu kota, janganlah kalian masuk. Kalau kalian sedang ada di dalamnya, janganlah kalian lari ke luar.

Abu Ubaidah Bertahan

Umar kembali ke Madinah, tapi Abu Ubaidah bertahan. Padahal Umar menginginkan Abu Ubaidah berumur panjang agar kelak bisa menggantikannya sebagai khalifah.
Umar mengirimi surat pada Abu Ubaidah, meskipun Umar paham betul ketebalan iman Abu Ubaidah. Dia tidak akan mau meninggalkan pasukannya.

Surat dari Umar dibalas oleh Abu Ubaidah.

“Saya sudah tahu tujuan Anda kepada saya. Saya berada di tengah-tengah pasukan Muslimin, saya tidak ingin menjauhi mereka dan berpisah dengan mereka, sampai nanti Allah menentukan keputusan-NYA untuk saya dan untuk mereka. Lepaskan saya dari kehendak Anda, wahai Amirul Mukminin, dan biarkanlah saya bersama-sama dengan prajurit saya.”

Sesudah membaca surat itu, Umar menangis hingga sahabat yang lain bertanya,”Sudah meninggalkah Abu Ubaidah?”
Umar menjawab masih dengan berlinang air mata,” Tidak! Dan seolah sudah.”

Umar masih terus mengajak Abu Ubaidah pindah. Hingga akhirnya Umar kembali menulis surat dan meminta Abu Ubaidah memindahkan pasukannya ke dataran tinggi. Abu Ubaidah sedang berpikir untuk melaksanakan perintah Umar, ketika akhirnya wabah itu menyerangnya hingga ia syahid.
Ia kemudian digantikan oleh Mu’az bin Jabal tapi Mu’az juga terserang wabah itu dan dia tewas.

Hingga akhirnya datanglah Amr bin As yang bisa melaksanakan pesan itu.
“Penyakit ini bila sudah menyerang, menyala seperti api. Baiklah kita berlindung dari penyakit ini ke gunung-gunung.”

Semuanya berpencar ke dataran tinggi akhirnya wabah itu pun berakhir.

Published by nurhaya3

Nurhayati Pujiastuti, owner Sanggar Mama Bilqis, Founder Penulis Tangguh, Kelas Merah Jambu dan Kelas Biru. Trainer Menulis.