Khalifah Umar bin Khattab dan Dua Bencana Besar #partone

Tahun kemenangan akhirnya datang. Kaum Musliminin di Medinah dan di segenap pelosok Semenangjung Arab menikmati banyak berita kemenangan dari Irak dan Syam. Mereka dapat hidup lebih baik dengan memberi barang-barang dagangan dari Yaman dan Syam. Mereka juga dapat mendatangkan barang dari Mesir yang diangkut dengan kapal.
Sampai akhirnya datanglah ujian itu. Datang dua peristiwa besar yang mengerikan.
Yang pertama mereka terkena ujian bencana kelaparan yang meluas di negeri-negeri Arab dari ujung Selatan sampai ujung Utara. Bencana itu berlangsung selama 9 bulan. Bencana itu menghancurkan segalanya dari mulai pertanian sampai peternakan.

Bencana kedua adalah bencana wabah Amawas yang meluas dari Syam sampai Irak. Bencana itu menewaskan ribuan tokoh muslimin terbaik, laki-laki juga perempuan.

9 Bulan Bencana di Tahun Abu

Tahun abu menyebabkan bebncana kelaparan. Hujan tidak turun sama sekali selama 9 bulan. Lapisan gunung berapi mulai bergerak dari dasar dan membakar permukaan dan semua tanaman di atasnya. Lapisan tanah itu menjadi hitam, gersang dan penuh abu. Bila angin bertiup, abu berterbangan semakin luas membuat tahun ini dinamakan Tahun Abu (Amar-Ramadah).

Apa yang terjadi pada tahun ini?
Perternakan dan pertanian hancur. Hewan-hewan ternak tidak mendapatkan sumber makanan dan mereka kurus kering. Pasar pun menjadi sepi. Penduduk yang mengalami beratnya keadaan ini banyak yang mengungsi ke Medinah. Pada saat itu penduduk Medinah masih bisa menyimpan bahan makanan untuk musim paceklik. Kota Madinah pun semakin penuh sesak dengan pendatang.
Sebagai khalifah, Umar pun resah. Baitul mal ada di tangannya dan para wakilnya yang berada di Irak dan Syam pasti mampu mengiriminnya apa yang masih ada pada mereka.

Umar yang Teguh pada Janji

Pada saat kelaparan mencapai puncaknya, Umar disuguhi roti yang diremukkan dengan minyak samin. Umar memanggil seorang badui untuk memakan roti bersamanya. Orang badui itu setiap kali menyuap diikuti dengan lemak yang ada di sisi luar roti. Umar bertanya apakah orang badui itu tidak pernah merasakan lemak sebelumnya?
Dengan jujur orang badui itu berkata bahwa ia tidak pernah makan dengan lemak minyak samin juga zaitun. Dan juga tidak lagi melihatnya orang memakan itu sejak beberapa lama.
Sejak saat itu Umar bersumpah tidak makan lagi daging dan samin, sampai semua orang hidup normal kembali seperti biasanya.
Dan Umar menepati janjinya. Bahkan ketika ada anak muda yang membelikan untuknya di pasar, Umar menolak pemberian itu.

Pada Tahun Abu warna kulit Umar yang putih kemerahan berubah menajdi hitam. Umar juga sering kelaparan sampai – sampai banyak orang yang mengatakan jika Allah tidak menolong mereka pada tahun abu, mungkin Umar akan mati dalam kesedihan karena memikirkan kaum muslimin.

Bantuan dari Syam dan Irak

Akhirnya Umar meminta bantuan dari wakilnya di Irak dan Syam. Abu Ubaidah bin Jarrah paling cepat memenuhi seruan Umar dan memberi pertolongan.
Empat ribu unta dengan muatan makanan dikirimkan. Umar pun segera membagikan pada semua penduduk.
Dari Palestina Amr bin Ash mengirimkan makanan dengan unta dan kapal melalui pelabuhan Ailah. Dari darat dikirimkan seribu unta bermuatan tepung.
Dari Syam, Mu’awiyah bin Abi Sufyan mengirim tiga ribu unta.
Sa’ad bin Abi Waqqass mengirim dari Irak seribu unta untuk membawa tepung. Amr juga mengirim lima ribu pakaian dan Mu’awiyah mengirim tiga ribu mantel.
Umar sendiri yang mengurus makanan untuk penduduk Medinah dan mereka yang mengungsi di Medinah. Ia menyembelik hewan dan menyantapnya dengan orang banyak.
Selama 9 bulan Umar memohon kepada Allah jangan sampai kehancuran umat berada di tangannya. Doanya belum juga dikabulkan. Selama 9 bulan Umar mengimani shalat Isya hingga larut malam.

Hingga suatu malam yang ditentukan Umar bersama wakil-wakilnya keluar untuk melakukan salat Istisqa (meminta hujan). Umar mengenakan mantel Rasulullah. Umar memohon berdoa sepenuh hati. Ia menangis lama hingga janggutnya basah. Al Abbas bin Abdul Muttalib paman Rasulullah juga berdoa dengan air mata bercucuran.
Lalu Allah turunkan hujan lebat sekali dan bencana Tahun Abu pun berakhir.

Published by nurhaya3

Nurhayati Pujiastuti, owner Sanggar Mama Bilqis, Founder Penulis Tangguh, Kelas Merah Jambu dan Kelas Biru. Trainer Menulis.