Banjir dan Cara Allah Mengajak Bersyukur

Banjir namanya.
13 tahun tinggal di Bekasi, dan seumur hidup saya, baru kali ini saya merasakan yang dinamakan banjir.
Rasanya seperti ingin mengeluh, tapi harus ditekan. Karena banyak sekali yang merasakan banjir lebih parah dari yang saya rasakan.
Ingin menangis tentu saja. Tapi malu hati, karena banjir yang saya rasakan, tidak setinggi banjir di tempat lain.

Berawal dari hujan yang tidak berhenti.
Lalu air merambat naik. Tidak pernah terpikir akan terkena banjir, karena biasanya air menggenang hanya di depan pintu pagar. Itupun cepat sekali surut.
Tapi kali ini berbeda.
Air terus menggenang, menggenang, dan menggenang.
Tanggul dekat rumah bocor. Dan satu perumahan tergenang air. Ada yang sebatas dada, ada yang sebatas betis.

Awalnya hanya masuk sampai batas ini.
Suami bersiap. Mengganjal air di kamar mandi yang tiba-tiba mulai menggenang.
Lalu semakin malam air semakin meninggi. Air dikeluarkan dari rumah. Ternyata air semakin banyak karena masuk dari celah keramik.
Di titik itu akhirnya kami ikhlas.
Biarlah memang sudah jadi rezekinya merasakan banjir. Air pun masuk dan mulai menenggelamkan barang-barang.
Buku-buku dan surat-surat penting, saya pindah ke kamar anak yang lebih tinggi.
Begitu banyaknya buku dan barang cetakan di bawah tempat tidur, sehingga kami tidak terpikir lagi untuk membereskan.’
Di samping itu, air sudah semakin tinggi. Mobil harus ditangani terlebih dahulu. Dengan dibantu dua orang tetangga, suami mengganjal ban mobil, agar air tidak sampai masuk ke dalam mobil.

Air semakin masuk ke dalam rumah.
Semakin tinggi dan tinggi.
Mengungsi?
Oh tidak, banyak tetangga juga kebanjiran. Mereka mengungsi ke rumah tetangga lain atau masjid.
Saya berdua suami, karena anak-anak sudah di pondok. Akan aneh rasanya jika mengungsi. Apalagi ada lantai dua di rumah kami.
Saya dan suami merasakan tidak bisa tidur.
Dan ketika terbangun terasa hawa yang dingin.
Ini pengalaman sangat berharga.

Setelah banjir apa yang kami dapat?
Banyak.
Termasuk mengetahui ada barang-barang yang kami lupa menyimpannya. Dan barang itu ada di kolong tempat tidur.
Banjir seperti diingatkan oleh Allah untuk mengeluarkan barang-barang itu. Dan akhirnya merelakannya jadi sampah.
Setelah itu, saya mulai membongkar barang-barang di rumah. Mengosongkan apa yang tidak terpakai. Agar kelak saya tidak mendapat hisab akan keberadaan barang-barang itu.

Sehari merasakan banjir masuk rumah dan kedinginan karena harus menginjak air kotor, saya kok malah memikirkan seperti apa rasanya di alam kubur. Sendirian dan tidak ada yang menolong.
Banjir membuat saya bersyukur, melihat betapa yang saya rasakan tidak seberapa dibandingkan dengan yang dirasakan orang lain. Banjir setinggi atap, harus mengungsi dan lain sebagainya.

Banjirnya sehari tapi beres-beres barangnya tiga hari. Termasuk membersihkan lumpur yang ikutan masuk ke rumah.
Tidak mengapa, saya dan suami bisa berkerja sama.
Banjir ini membuat saya paham banyak hal.
Allah punya banyak cara untuk membuat hambaNYA bersyukur.
Dan saya salah satu yang bersyukur merasakan ujian bernama banjir.

Published by nurhaya3

Nurhayati Pujiastuti, owner Sanggar Mama Bilqis, Founder Penulis Tangguh, Kelas Merah Jambu dan Kelas Biru. Trainer Menulis.