Jogja dan Hari Bersenang-Senang

Ada saat ketika anak-anak sudah berangkat remaja, dan mereka tinggal di pondok pesantren, waktu untuk kami sebagai orangtua menjadi sangatlah sempit. Karena itu liburan selalu jadi moment yang ingin saya manfaatkan betul untuk bicara dari hati ke hati dengan anak-anak.
Maklum menjenguk mereka hanya sebulan sekali. Itu pun tidak bisa berlama-lama. Telepon paling hanya sepuluh menit, karena antrian panjang.
Maka ketika saatnya libur panjang, agenda yang saya jadwalkan adalah ke rumah orangtua saya di Solo.

Selanjutnya….
“Ikut Ibu aja ke Jogja,” ujar saya pada anak gadis.
Anak sulung beserta dua teman dan suami akan ke Malang, ke rumah kerabat. Saya kok pingin berdua saja dengan anak gadis, ingin mengucurkan banyak hal untuknya.
Dan saya juga ingin, anak laki-laki bersama ayahnya. Jadi bisa saling bicara sebagai layaknya laki-laki.
“Kita bersenang-senang,” ujar saya.
Ayahnya merayu kami untuk ikut. Saya menolak. Dengan alasan pingin meneruska pekerjaan yang saya bawa dari rumah. Deadlinenya tinggal hitungan hari. Ingin juga penuh ngobrol dengan Ibu. Semakin usia menua, semakin sadar bahwa kelak maut memisahkan kami. Karena itu waktu saya manfaatkan betul.

Liburan kali ini Sulung membawa dua temannya dari luar pulau. Mereka tidak pulang, karena tiket mahal. Dan mereka tinggal di pondok.
“Temanku mau ikut. Boleh, kan?”
Tentu saja, dengan senang hati. Alhamdulilah honor-honor nulis turun di saat yang tepat. Jadi bisa ada dana menyenangkan teman-temannya Sulung.

Sulung berangkat bersama ayah dan dua temannya, dan kami pun berdua.
Hari bersenang-senaaang.
Eits, hari ini kami bisa ngobrol enak sebagai perempuan, tanpa interupsi. Ngobrol bebas termasuk tentang masa lalu dan masa depan.

“Jadi kapan kita ke Jogja, Bu?”
Nah, perburuan tiket dari Solo ke Jogja itu ternyata tidak mudah. Sekarang pakai aplikasi dan bayarnya pakai Link Aja. Itu aplikasi yangn harus didonwload di hape. Pesen keretanya di KAI Access. Hadeuh. ribet untuk manula seperti saya. yang malas dekat-dekat dengan smart phone.

Tapi demi liburan berdua, biar anak gadis punya pengalaman berkesan dengan ibunya, maka saya pun berangkat ke Stasiun Purwosari, tidak begitu jauh dari rumah.
Sampai sana tiket habis. Katanya kalau mau beli harus antri dua jam sebelumnya. Kalau beli buat besok harus pakai aplikasi.
Okelah, saya akan datang lagi besok, sambil penasaran dan mempelajari aplikasi yang disarankan.

Prameks oh Prameks

Tiket keretanya dapat. Saya cek di aplikasi dan harus berangkat pagi untuk antri, biar dapat.
Tinggal tersisa enam tiket untuk pemberangkatan jam 11. Sedang saya ada di stasiiun jam setengah 8. Baiklah loket akan dibuka dua jam sebelumnya. Santai dulu di kursi ruang tamu.
Eit tapi tunggu, lima belas menit sebelum lokeet dibuka, ada dua anak muda dan seorang ibu yang berdiri di depan loket. Otak mulai berputar. Jangan-jangan itu tanda antrian sudah memanjang. Okelah. Saya cepat berdiri.
Betul, setelah itu, antrian panjaaang padahal tiket tersisa tinggal 6.
Dalam hati berdoa agar dua anak remaja di depan tidak beli tiket untuk teman-temannya yang lain. Syukurlah mereka hanya beli tiga, ibu di depan saya beli satu, dan saya beli dua.

Setelah itu saya kembali ke rumah Ibu, minta anak gadis bersiap-siap.
Saatnya kita bertualang.
Oh ya kereta Solo Jogja itu Prambanan Ekespres namanya. Biasa disebut Prameks. Tiketnya hanya Rp8.000.
Sebenarnya keretanya enak. Tapi karena penumpangnya banyak, maka AC tidak terasa. Hingga nyaris pingsanlah saya.

Jogja, Here We Are

“Ibu kita ke keraton, loh.”

Oke, kita ke luar dari Stasiun Tugu lewat Pasar Kembang. Ditawarin becak motor untuk sampai keraton dengan harga Rp30.000. Saya pikir cukup dekat dengan Malioboro, kok. Tapi si tukang becak bilang akan mengajak juga ke tempat oleh-oleh bakpia.
Baiklah langsung naik becak motor yang ngebut. Lumayan jauh dan berputar-putar jalannya. Tapi saya senang, karena ini pengalaman baru untuk anak gadis.

Becak turun di pusat bakpia. Nah di tempat ini, ada banyak gerai bakpia yang ada di Jogja. Jadi pengunjung bisa memilih mau membeli bakbia merk apa. Ada juga kok yang menyediakan testernya. Si Abang becak menunggu kami.
Setelah itu mengantar kami ke keraton, tujuan utama kami.

Sampailah di sini. Tiketnya Rp7.500 dengan tambahan Rp1.000 untuk yang membawa kamera. Kita keliling tanpa guide. Langsung saya tarik anak gadis untuk ikut gerombolan anak-anak dari satu sekolah. Biar ikut penjelasan guide. Anak gadis bengong, tapi dia ngikut aja apa kata ibunya.

Ada banyak tempat menarik di keraton Jogja. Termasuk para perempuan yang sedang membatik. Batik-batik itu dijual mulai dari harga Rp100.000 sampai Rp300.000.

Ada banyak spot foto cantik di keraton ini.
Saya belajar foto dari anak gadis juga. Akhirnya kami putuskan untuk ke Malioboro.
Dulu sepertinya jarak antara keraton dan Malioboro dekat sekali. Jadi ceritanya kami jalan kami dan menolak tawaran para tukang becak.
Tapi ternyataaaaa.
Saya salah. Jauuuh jaraknya dari keraton ke Malioboro. Padahal kami istirahat dulu untuk makan. Dan apa yang kami makan langsung tidak terasa lagi, karena kami sudah kembali lapar.

Sepanjang jalan kami mengagumi banyaknya spot foto plus tempat nongkrong yang enak untuk anak-anak muda. Jadi membayangkan kalau Solo dibuat seperti itu. Pasti asyik untuk anak-anak muda.

Kami akhirnya sampai di Maliobor. Beli ini dan itu pesanan suami dan anak sulung. Lalu bergegas ke stasiun untuk pesan tiket. Nah, kalau menuju Solo, dari Jogja banyak dibuka loket kereta api jarak jauh. Kereta api ini harganya berkisar antara 35 ribu sampai 55 ribu.
Biasanya kereta api ini adalah kereta jurusan Jakarta atau Bandung menuju Solo atau Jogja. Nah penumpangnya berhenti di Jogja, jadi ada kursi kosong yang bisa dijual untuk penumpang lokal.
Atau kereta ke Surabaya, misalnya, penumpang banyak yang naik dari Solo. Jadi kursi kosong dari Jogja ke Solo ini, yang dijual untuk penumpang lokal.
Tiket bisa dibeli dua jam sebelumnya. Kalau tiga jam sebelumnya harganya masih harga normal beberapa ratus ribu.

Sampailah kami di Solo.
Ini hari berharga buat kami berdua.
Saya senang bisa memberi kenangan pada anak gadis.
Dan tentunya anak sulung juga punya cerita berbeda, jalan-jalan dengan ayahnya di Malang.

Published by nurhaya3

Nurhayati Pujiastuti, owner Sanggar Mama Bilqis, Founder Penulis Tangguh, Kelas Merah Jambu dan Kelas Biru. Trainer Menulis.