Merajut itu Seperti Menulis

Merajuuuuut?
uuuh kok tiba-tiba saya ingin menambah ilmu merajut saya?
Saya bisa tusuk rantai dan single crochet pada awalnya. Seperti ini.
.

Anak gadis senang. Ibu selalu membuatkan apa saja yang diminta. Padahal modal Ibu, hanyalah tusuk rantai, dan imajinasi. Dan itu tentu saja tidak sesuai dengan pakem di dunia rajut-merajut. Bolehlah bentuk rantai, tapi kadang di awal berpikir akan jadi ini, ternyata jadinya seperti itu? Karena apa? Karena rajutannya yang di kepala dibayangkan berbentuk bulat, ternyata malah berubah bantuk, jadi bentuk trapesium.

Padahal saking sok pedenya ini, saya memengaruhi ibu-ibu di pengajian untuk menambah ilmu merajut. Tapiii, bukan saya mentornya. Ada tetangga yang memang suka belajar juga, dan bisa menghasilkan tas ransel dari rajutan benang wol, yang mengajarkan ibu-ibu.

Carilah Ilmu

Saya suka geregetan sama seseorang yang dengan mudahnya bilang, menulis itu mudah. Dan orang itu tidak mau mencari ilmu lagi. Tidak menulis, tidak tambah ilmu. Dan bicara tentang penulisan. Itu sama ibaratnya dengan saya hanya bisa satu tusuk rantai, dan bilang bahwa merajut itu mudah dan mengandalkan imajinasi saja, sudah cukup.

Balik ke merajut.
Jadi suatu hari Kakak dari Palu datang untuk sebuah acara. Dia selalu membawa benang rajut. Dan ditinggalkannya lah ke saya, satu tas mungil, dan satu benang rajut berwarna pink. Hakpen saya sudah punya, karena waktu itu beli hakpen dan benang-benang wol untuk mengajari anak gadis tusuk rantai.

Okelah, tusuk rantai harus bertambah menjadi yang lain.
Qadarallah saya lagi butuh untuk merajut hati. Pingin hati itu saya hadiahkan pada murid TPQ yang paling manis sikapnya. Beberapa blog dan channel youtube saya cari.

Dapaaat, dan saya bisa bikin bentuk hati.
Meskipun belum sempurna.
Coba bikin tas, tapi separuh jalan saya sudah bosan.

Okelah, sifat pembosan saya mungkin karena saya belum punya ilmunya.
Artinya kalau masih punya ilmu sedikit, mulailah dari hal yang kecil-kecil dulu.
Kalau dalam menulis, mulailah menulis cerita pendek dulu, sebelum melangkah mulai menulis novel.
Kita biasakan dulu mengatur napas kita.
Sama seperti seorang pelari marathon, dia akan mulai berlatih berlari beberapa putaran dulu, sebelum akhirnya bisa mengatur napasnya, dan bisa melakukan lari marathon.
Sedikit demi sedikit, akhirnya menjadi bukit. Dan pepatah itu bisa terpakai di banyak hal, ya.

Saya harus mulai dari hal yang kecil dulu.
Benda-benda mungil dulu.
Belajar perpaduan warna dulu. Iya, perpaduan warna itu penting. Karena apa? Karena saya mudah bosan. Maka membuat perpaduan warna, akan membuat saya selalu terangsang untuk mencari warna yang lain.

Hingga akhirnya saya melihat tutorial tatakan gelas.. Daaan ternyata tutorial di sini yang paling jelas untuk saya.

Akhirnya saya bisa membuat tatakan gelas dan tutupnya.
Dan yang terpenting saya bisa paham apa itu single croche, double crochet, half double crochet.
Ya ampuuun. Banyak sekali ilmunya.

Saya mau tambah ilmu merajut saya.
Biar saya bisa membuat tas./
Asyik sekali, ya. Kalau saya pakai tas rajutan saya sendiri, dan di dalamnya ada buku-buku karya saya.
Perpaduan yang manis tentu saja.

Published by nurhaya3

Nurhayati Pujiastuti, owner Sanggar Mama Bilqis, Founder Penulis Tangguh, Kelas Merah Jambu dan Kelas Biru. Trainer Menulis.