Say Hello to Bekantan di Hutan Mangrove, Tarakan

Jam satu kami siap,
Kami akan pergi ke hutan mangrove, pusat konservasi Bekantan.
Bekantan? Wow, takjub saya membayangkan hal itu.
Kami bertiga sekarang bertambah dengan Pak Bowo dari Inovasi dan Shiddiq anak OPOB yang lahir dan besar di Tarakan, meski aslinya orang Bugis.
Pak Bowo ini orang Bekasi. Jadi agak nyambung ngobrol perihal Bekasi.

Kami naik grab. Tujuan ke hutan mangrove. Tapi mendadak tujuan berubah. Ada kedai kopi yang ingin dicoba. Kedai kopi Indra alias warung kopi aseng. Itu yang lebih terkenal.
Saya sendiri memang tidak paham rasa-rasa makanan, karena lidah saya lidah orang rumahan.
Konon katanya kalau ke Tarakan belum ke kedai kopi ini, belum afdol. Padahal Shiddiq yang asli Tarakan bilang, bahwa sebenarnya kopinya biasa saja. Hanya mindset para turis saja tentang kopi ini, yang membuat kedai kopi ini laris manis setiap saat.

(foto saya ambil dari google).

Warung kopinya sederhana.
Bangku-bangku model lama dari kayu berwarna hijau. Pelayannya menggunakan kaos merah bertuliskan Inul Vista di bagian belakang kaosnya.
Ada bakpao ukuran besar yang masih panas. Ada roti beraneka macam. Ada daftar menu yang akhirnya membuat saya memilih teh segar. Katanya teh itu dari bunga lohan. Setelah saya pesan, ternyata rasanya mirip dengan teh bunga Camomile yang pernah saya dapat dari murid di Jerman.
Makanan saya pesan mi maggi. Mirip indomie kuah hanya agak kecut karena diberi perasan jeruk nipis.
Kenyang?
Lanjut ke hutan Mangrove.

Hutan Mangrove dan Bekantan

Saya membayangkan kalau hutan mangrove itu ada di tempat yang jauh di pinggir laut. Lupa, kalau kami ada di Tarakan dan dikelilingi laut.
Ada lelucon lucu di Tarakan karena ibu kota akan dipindah ke Kalimantan. Jadi, mereka suka menggoda bahwa orang dari Jakarta adalah orang kampung.
Ketika mobil berhenti di satu titik, kami bertanya, apakah sudah sampai?
Si supir tertawa lalu berkata,” Enggak tahu? Dari kampung, ya?”

Masuuuk, ini tempat langka. Pengalaman berharga untuk saya. Melihat Bekantan, bisa riset banyak hal. MasyaAllah, saya bersyukur dengan banyaknya pengalaman baru saya, dan orang baik di sekeliling saya.
Tiket masuk berharga 5000 rupiah untuk orang dewasa.

Tapi seperti apa, sih, hutan mangrove itu?
Hutan bakau biasa.
Tanahnya basah karena memang fungsinya untuk menahan erosi.

Pemandangannya bagus apalagi bagi yang ingin foto pre wedding. Banyak spot cantik.
Saya malah dapat ilmu baru. Tentang kepiting kecil berwarna biru dan merah agak oranye. Cantik sekali. Kepiting itu ada di tanah dekat akar pohon.

Penunjuk jalan adalah Shiddiq. Suara burung dan suara-suara Bekantan terdengar.
Hei, tapi di mana si Bekantan?
Shiddiq bilang Bekantan akan muncul di saat jam makan siang. Tapi mereka tidak diberi makan. Mereka cari makan sendiri. Bayangkan kalau mereka terbiasa diberi makan. Bisa-bisa punya kebiasaan seperti monyet-monyet di beberapa tempat wisata di Pulau Jawa dan Bali, yang justru membuat takut pengunjung.

Kami mencari Bekantan. Belum ketemu. Sampai akhirnya di satu titik melihat sesuatu berwarna coklat di atas pohon.
Semakin dekat dan dekat. Hei, ada banyak Bekantan.
Rupanya mereka hewan yang biasa hidup berkelompok.

Horeee, perjalanan tidak sia-sia.
Ini pengalaman berharga untuk saya.

Saatnya pulang.
Tapi saya harus cari oleh-oleh dulu. Sayangnya oleh-oleh khas Tarakan susah. Yang jadi favorit adalah Milo. Milo coklat ini dari Malaysia dan ternyata benar kata orang-orang di Tarakan, beda dengan yang dijual di Pulau Jawa. Lebih pekat dan lebih terasa tidak ada campurannya.

Saya juga menemukan penjual buah kapul (mirip buah menteng rasanya), cempedak dan Lai durian khas Kalimantan. Harganya murah kok sekilo 15 ribu.
Di tempat penjual itu saya malah sempat ngobrol dengan pedagang buah dari Flores. Dia membawa mangga Flores. Mangga Flores terkenal dari mangga di pulau lainnya, karena lebih besar dan kadar airnya lebih sedikit.

Beres semua.
Saya harus istirahat. Pesawat akan membawa pulang ke Jakarta pukul 8.
Aaah, saya sudah kangen ngobrol dengan anak-anak di rumah, yang sedang liburan dari pondok.

Published by nurhaya3

Nurhayati Pujiastuti, owner Sanggar Mama Bilqis, Founder Penulis Tangguh, Kelas Merah Jambu dan Kelas Biru. Trainer Menulis.