Nyanyian Lirih

Untitled-2

Ini sebuah kisah nyata yang membuat saya memahami hidup lebih sempurna ketika bukan saja merasakan naik, tapi juga merasakan turun.

“Barang yang mana lagi?” tanyaku perih. Tak tersisa air mata. Sebab sudah terlalu banyak air mata yang tertumpah selama ini. Badai datang begitu beruntun sebelum kami siap untuk hantamannya.
“Tiga buah komputer, sebuah printer, rumah…”
Aku mencoba menghitung sambil membayangkan.
Delapan tahun yang lalu, resah itu muncul. Ketika aku memutuskan ke luar kerja karena memang lebih ingin fokus pada rumah tangga. Sebuah keputusan yang wajar. Lagipula dari rumah pun aku masih bisa menghasilkan.
Suami mengangguk. Mengiyakan untuk keputusan menjadi ibu rumah tangga.
Suami sedang merintis sebuah usaha. Mengumpulkan modal dari awal kami menikah hingga akhirnya impiannya menjadi seorang yang memiliki usaha terwujud. Tidak bermodal nekad. Suami masih bekerja dan sepulang bekerja hingga larut malam memantau anak buahnya.
Lima anak buah dalam dua tahun pertama. Anak buah yang tidak kami sia-siakan karena untuk makan dan tempat tinggal kami jamin. Bahkan yang menjadi penanggung jawab kami beri cicilan motor terbaru. Sedang kami menahan diri masih menggunakan motor yang lama.

Order kami lumayan cukup banyak. Order cetakan. Jasa penyablonan. Suami belajar sedikit demi sedikit. Dari nol karena sebelumnya ia adalah seorang illustrator dan design graphis.
Hingga suatu siang, suami mengejutkanku dengan sebuah tanya.
“Boleh bila aku ke luar kerja untuk lebih bisa memantau usaha?”
Aku bukan lahir dari keluarga pengusaha. Aku tidak tahu seluk beluk usaha. Satu pengusaha yang paling dekat adalah almarhumah Mbak Putriku yang menjalani usaha batik dan bangkrut tak bangkit lagi.
Suamiku bukan anak seorang pengusaha pula.
“Ingin mengontrol sendiri usahaku.”

Tubuhnya mungkin sudah cukup letih harus berangkat pagi dan pulang sore hari. Lagi pula dengan omset yang terus menaik, aku yakin semua bisa dilakukan dengan lancar.
“Sudah resign dari kantor?”
Ia menggeleng.
“Sudah yakin betul?”
Ia ragu.
Akupun tak tahu apakah aku ragu atau bingung. Tapi sebuah telepon dari seberang sana, bicara padaku.
“Usaha? Jangan. Tidak boleh.” Ibu mertuaku yang melarang.
“Ditunda dulu, Yah. Pikirkan dengan matang,” ucapku.
Suamiku mengangguk.
Setiap hari ia kelihatan semakin bertambah letih. Tidak ada hari libur dan waktu untuk anak-anak.
Pada suatu sore aku mengangguk padanya. Sebuah keyakinan dari doa-doa yang aku panjatkan.
“Boleh, Yah. Usaha saja. Insya Allah lancar. Berhenti yang baik.”
Ia mengangguk.
Insya Allah lancar. Kami berbekal pada kalimat itu. Bila sudah menjadi rezeki kami.
**
Mungkin terlalu cepat kami menuai keberhasilan. Ketika orang lain baru merangkak di usahanya yang pertama, kami sudah mendapat order-order yang cukup lumayan. Para karyawan sejahtera. Kami tidak pernah terlambat membayar gaji.
Mereka tinggal di rumah bertingkat cukup luas. Makanan, susu bahkan uang lembur.
Tapi rupanya semuanya tidak boleh terlalu cepat kami reguk.
Karyawan tetaplah karyawan. Selalu berpikir bahwa kami lebih baik. Bahwa kami mendapat untung lebih banyak.
Seorang karyawan di bagian keuangan menganggap bahwa keuntungan yang kami dapat adalah keuntungan total tanpa menaksir modal yang kami keluarkan. Karyawan lain mulai bermain dengan nota harga yang diubah.
Suami tidak berani menegur. Terlalu toleran dengan beranggapan bahwa mereka adalah manusia biasa.
Satu persatu mereka menghilang.
**
Kembali ke kantor?
Tidak mungkin. Tidak aku yang memilih tentunya. Tugasku di rumah. Menjaga anak-anak. Sebab prinsipku Ibu lebih baik bersama anak-anaknya.
Suami? Juga merasa seperti itu. Kembali ke kantor tak mungkin. Jiwanya sebebas burung. Ingin mandiri dan berhasil.
Harapan itu masih ada.
“Tidak ada modal.Pinjam ke bank, ya?” tanyanya penuh harap.
Tidak ada modal harusnya berhenti untuk berspekulasi.
Aku ragu.
“Pasti berhasil. Usaha kita pasti maju.”
Usaha percetakan dan sablonpun berpindah tempat. Mencari keberuntungan dari gang sempit ke pinggir jalan besar.
Dalam keadaan bingung seperti itu, masih saja ada mulut-mulut yang menabur harapan. Agar usaha kami berhasil harus berhadapan dengan dukun untuk meminta berkahnya.
Tidak ada dukun dalam kamusku. Masalah rezeki bukan masalah dukun tapi masalah berkah dariNYA.
Kali ini usaha ditambahi dengan setting.
Beberapa pegawai.
Herannya bila pekerjaan bertumpuk, suamiku membawa pekerjaan itu ke rumah dan menyelesaikannya di rumah. Tentu saja dengan bantuanku.
“Kurang enak menyuruh mereka lembur.”
Kurang enak kata yang biasa aku dengar dari mulut suamiku. Kurang enak pada siapa saja hingga membuat diri kita menjadi tidak enak.
Dan kurang enak itu merembet pada banyak hal lainnya.
Kurang enak bila menegur pegawai yang bermain telepon hingga bayaran membengkak padahal telepon itu sudah diwanti-wanti hanya dipakai pada saat penting saja.
Kurang enak menegur pegawai yang tidak mau disuruh lembur karena tidak bisa memberi uang lembur sesuai dengan harapan mereka. Kurang enak menegur pegawai yang bangun siang lalu membuka usaha itu di siang hari sehingga pelanggan tak jadi datang karena pintu ruko masih tertutup. Kurang enak yang membuat aku kerap mengajak menginap ke tempat usaha hanya demi untuk menggantikan pekerjaan pegawainya.

“Pendapatan menurun..”
Pendapatan kami menurun. Order tak datang. Tapi gaji pegawai harus kami bayarkan.
“Kasihan mereka sudah kerja…”
Aku tak ingin ikut campur tangan.
Biarlah suamiku belajar bagaimana bernegoisasi dengan perasaannya yang kurang enak bila berhadapan orang lain dan disatukan dalam suatu bentuk bernama usaha.
Hingga suatu saat aku melihat ia bingung.
Bingung yang berbeda.
Hingga di puncak bingungnya ia berkata. “Teman yang mengajak mengerjakan order bersama kabur.”
Teman itu dikatakannya sering tidur di tempat usaha suami. Tempat itu yang katanya sudah dikenal baik mengajak joint mengerjakan sesuatu. Tapi setelah saat pembayaran, tak didapatinya teman itu di rumah kontrakkannya. Beberapa juta uang kamipun melayang.
Seorang tetangga yang ditanya justru mengatakan bahwa ia juga kena tipu hilangnya motornya yang baru dibelinya.
Sudah tidak ada lagi harapan. Hutang di bank harus kami lunasi. Dengan tabungan untuk anak-anak. Tidak mungkin meminta dari yang lain.
**
“Aku masih ingin mencoba sekali lagi. Kita pinjam di bank lagi, ya?”
Aku bukan perempuan bodoh. Aku hanya perempuan yang tidak sanggup bila mengubur keinginan suamiku. Siapa tahu saja usaha kali ini lebih berhasil.
“Sayang kalau harus ditutup. Kali ini gabung sama teman. Kasihan dia pernah bangkrut dari usahanya. Tapi dia punya mesin.”

Suamiku orang yang peduli dengan orang lain. Ia bercerita tentang betapa menderitanya temannya itu. Tapi penderitaan itu akhirnya merembet pada kami ketika usaha yang dimodali total oleh suami dari hutang di bank untuk kedua kalinya justru membuat hubungan pertemanan menjadi tidak baik dan terputus karena teman itu merasa pembagiannya tidak jelas meskipun pembagian itu sesuai dengan kesepakan awal.
“Sekali lagi, ya?” tanya suamiku. “Aku akan kerja sendiri tanpa pegawai. Seorang teman memiliki tempat.”
Aku sudah letih. Maka mengangguk saja. Anak-anak tumbuh semakin besar dengan biaya yang cukup besar pula.
Aku mengangguk. Kami berdua datang kembali ke bank.
Untuk sebuah kesia-siaan. Karena usaha kali ini justru membuat kami terhempas di titik nol. Tidak ada klien satupun. Bahkan kalaupun ada dari pagi hingga malam, klien yang datang untuk setting dan order cetakan hanya satu orang. Bahkan pernah kosong sama sekali.

“Ada yang kabur bilangnya nanti mau dibayar.”
“Kenapa tidak dicari?”
“Biarlah, rezeki datang sendiri.”
Aku tidak sepaham. Semakin tidak sepaham ketika merasakan bahwa jalan usaha yang memang mulia menjadi tidak baik karena mental suamiku yang belum kokoh sebagai usahawan.
“Tidak perlu lagi usaha,” ujarku mengultimatum.
Semua barang kami ludes. Menyisakan hutang yang untuk membayarpun berat rasanya. Kami yang harus menanggung resiko ini berdua. Bukan orang lain.
“Cari kerja sampai mental dan modal kuat kembali baru boleh usaha.”
Suami setuju. Dengan keadaan kami yang sudah kembang kempis ia tentu harus setuju.
Apalagi ia tahu aku di rumah bukan hanya diam saja. Banyak yang kulakukan yang juga menghasilkan pemasukan untuk rumah tangga kami. Mulai dari menulis novel dan artikel. Bahkan memberi les bahasa inggris, mengaji dan baca tulis tetangga kiri kanan dari mulai pagi hingga sore.
**
Kemarin sebuah telepon berdering.
Setelah setahun suami menjadi pegawai di tempat orang lain.
“Seseorang ingin memberikan modal untuk kita. Juga order yang terus menerus.”
Aku melihat cahaya di matanya.
Tapi satu nyanyian lirih di hatiku masih belum terungkap sempurna. Bahwa aku takut kami menghadapi badai yang berat seperti empat tahun sebelumnya kami merasakan hingga air mata rasanya sudah tak kumiliki lagi.
“Kapan lagi?” tanya suamiku.
Aku tak tahu harus menjawab apa. “Kita menabung dulu hingga usaha tidak kita mulai dengan hutang,” janjiku.
**

Pada akhirnya setiap muslim wajib menerima ujian dengan lapang dada. Sebab dari ujian itu kita paham, sudah baikkah kadar keimanan kita?