Menyusuri Sungai Kayan dengan Speedboat

Lokakarya selesai. Eits, saya yang selesai. Litara OPOB masih ada kegiatan di Tarakan. Saya sudah selesai, dan karena tiket pesawat dari Tarakan gegara dirayu agar bisa merasakan naik speedboat, maka pagi-pagi kami sudah bersiap. Jam setengah tujuh pagi saya sudah sarapan. Padahal menu di restoran hotel baru ada mie goreng, roti dan buah. Ambil semangka dua potong, minum jus jambu, dan sedikit mi goreng. Di kamar tadi saya sudah minum dua sendok kecil madu yang saya bawa dari rumah.

Naik speedboat kita.

Anak-anak OPOB naik motor, karena motor sewaan mereka harus dikembalikan ke pelabuhan, tempat mereka menyewa. Harga sewa per hari 100 ribu rupiah.
Saya, Mbak Eva, dan Mbak Sofie naik mobil yang dikendarai pemilik hotel. Sampai di pelabuhan mengejar speedboat yang Tuti bilang cantik karena masih baru dan ada ACnya. Tapi ternyata sudah lebih dulu diborong tiketnya, oleh komunitas yang akan berangkat ke Jakarta untuk festival budaya.
Kami naik speedboat lain, harus menunggu 20 menit lagi. Tidak apalah. Saya cuma pingin tahu rasanya. Apa rasanya sama seperti ketika saya naik rakit menyeberang sungai ketika SD? Atau naik perahu di Ancol? Atau bahkan lebih seru lagi?

Oh ya, Tarakan sendiri adalah kepulauan, dekat Kalimantan. SAnak-anak OPOB banyak yang dari Tarakan. Catatan penting, dibanding dengan Tanjung Selor, Tarakan jauh lebih maju.

Speedboat sudah siap.
Barang-barang sudah diangkut. Kami masuk ke dalam speedboat. Asyik, saya duduk di samping jendela. Dengan leher yang masih sakit, tapi harus dilupakan. Ada pelampung di bagian bagasi di atas kepala kita. Tapi kayaknya hanya saya, Mbak Eva, dan Mbak Sofie yang memakai pelampung itu.

Mabuk atau tidak, ya?
Mindset di otak mulai bekerja. Ketika mulai terasa aneh, langsung saya tekan. Enggak lucu kalau saya mabuk. Sudah sakit leher, masih mabuk laut juga. Penderitaan double itu namanya.

Sungai Kayan itu sungai yang besaaar. Biasa di Bekasi yang saya lihat sungai Citarum. Pas naik speedboat, masyaAllah terkagum-kagum saya dengan besarnya Sungai Kayan. Mungkin lebarnya lima kali dari sungai Citarum.
Pak Ismail salah satu guru di lokakrya bilang, nanti sungai akan mengalir ke laut. Dari situ Ibu bisa melihat Pulau Tarakan.
Saya membayangkan film-film tentang pertemuan sungai dan laut. Dan saya sedang menuju ke sana. Terima kasih banyak untuk Mbak Eva yang gigih merayu saya naik speedboat dan membatalkan penerbangan dari Tanjung Selor. Ada banyak sekali yang bisa saya tulis, termasuk tentang ketinting. Salah satu Ibu Guru, orang tuanya pembuat perahu ketinting.

Satu sampai dua jam perjalanan dari Tanjung Selor menuju Tarakan . Kami bertemu banyak perahu ketinting. Karena memang itu alat transportasi warga. Dengan speedboat mereka harus membayar sekitar 200 ribu rupiah untuk ongkos berangkat saja. Tapi dengan ketinting yang mereka jalankan sendiri, uang itu bisa dipakai untuk membeli bahan bakar ketinting untuk pergi dan pulang, plus bisa bawa barang sebanyak-banyaknya.

Dua jam menikmati pemdangan air.
Rasanya gimana? Ngeri? Enggak. Saya bisa berenang. Saya suka udara yang menampar-nampar wajah ketika jendela dibuka. Udara yang tercium juga segar.
Speedboat itu jalannya kencang sekali. Ketika speedboat melewati ombak, itu rasanya sama seperti ketika pesawat melewati awan-awan, atau mobil melewati polisi tidur.

Dua jam perjalanan yang menyenangkan.
Kami sampai di Pelabuhan Tarakan. Ketika mau angkut barang dari bagasi speedboat, orang-orang di sana melarang seperti mengomel. Katanya barang akan mereka bawakan. Ternyata mereka adalah calo, yang memaksa. Setiap tas mereka hargai dua puluh ribu rupiah.

Ini para calo yang tidak bisa diajak negoisasi.

Kami ke luar pelabuhan naik Damri yang memang disediakan pihak pelabuhan.

Kami pesan Grab untuk sampai ke hotel Grand Citra yang letaknya hanya 500 meter dari bandara Juwata, Tarakan.
Saya capek.
Langsung masuk kamar untuk istirahat.

Tapi jam setengah satu Mbak Sofie WA.
Saya ditunggu di lobby.

Bersambung

Published by nurhaya3

Nurhayati Pujiastuti, owner Sanggar Mama Bilqis, Founder Penulis Tangguh, Kelas Merah Jambu dan Kelas Biru. Trainer Menulis.