Ke Tanjung Selor Mencari Cinta #PartThree

Lokakarya Big Book namanya.
Masih agak bingung juga saya dengan nama itu. Meski Mbak Sofie sudah menjelaskan. Mbak Sofie juga sudah menerangkan, kenapa saya diajak ke Bulungan untuk lokakarya ini. Karena saya punya produk buku-buku mini yang biasa saya pakai, ketika mengajar kelas-kelas menulis.

Kami siap berangkat di pagi hari. Sarapan pagi di hotel. Oh ya saya sekamar dengan Tuti dari Tarakan, salah satu anak dari Litara OPOB.
Acara dimulai pukul delapan pagi.
Agenda sudah disusun. Tugas saya hanya bercerita tentang menulis. Mudah, kan?

Kami naik motor ke Gedung Diknas.
Sudah ada Bapak dan Ibu Guru di sana. Ada juga Bapak dan Ibu dari Inovasi, dari penerbit dan dari diknas.’
Inovasi apa, sih?
Ini dia
The Innovation for Indonesia’s School Children (INOVASI) Program is a partnership between the governments of Australia and Indonesia. Working directly with Indonesia’s Ministry of Education and Culture, INOVASI is seeking to understand how student learning outcomes in literacy and numeracy can be improved in diverse primary schools and districts across Indonesia. INOVASI is working in a range of locations across Indonesia, and uses a distinctive locally focused approach to develop pilot activities and find out what does and doesn’t work to improve student learning outcomes..

Begitu masuk ke gedung tempat acara berlangsung.
Deg.
Saya kaget. Ada buku-buku besar, dengan konsep seperti buku-buku mini yang saya buat. MasyaAllah empat tahun saya fokus membuat buku-buku mini, saya uji ke anak-anak tetangga, anak-anak TPQ, sampai ke kelas inspirasi dan sekolah tempat saya diundang, ternyata di belahan pulau lain, jodoh untuk buku mini saya, sudah Allah persiapkan. Saya terharu. Ini rupanya cara Allah memberi hadiah atas keras kepalanya saya dalam berproses menulis.

Big Book itu dibuat oleh guru-guru. Isinya masih sederhana. Sebagian besar malah mengikuti tema buku tematik, yang biasa mereka pakai di kelas. Buku ini untuk media pembelajaran buat anak, agar lebih mudah mencerna satu tema yang akan diajarkan.h Big book ini digambar sendiri oleh Bapak dan Ibu Guru.
Peserta workshop ada 20 orang guru yang tersebar di Tanjung Selor. Yang mengirim naskah ada 85 an guru.

Mbak Sofie, mbak Eva menjelaskan, saya sedikit bercerita tentang buku-buku mini, dan cara membuat alur cerita.
Semua peserta dibagi tiga kelompok. Mentornya Mbak Eva, Mbak Sofie, dan saya.
Di setiap kelompok, kita membahas kekurangan naskah mereka.
Mbak Sofie memberi contoh naskah-naskah buku kepada peserta.
Peserta mulai berpikir kekurangan naskah mereka. Pekerjaan dimulai. Untuk memberi tahu, celah naskah mereka.
Tapiii, tunggu besok harinya.

Keesokan Harinya….
Malamnya kami meeting lagi. Makan malamnya di ruang meeting bareng anak-anak dari Litara OPOB. Kami membahas perubahan apa yang enak untuk naskah itu.
Setelah itu tidur.
Besok acara jam setengah sembilan.

Hari kedua kita sudah duduk sesuai dengan kelompoknya. Hari kedua itu, Pak James dari kelompok Mbak Eva dan Bu Tini (kalau gak salah) membawa oleh-oleh. Buah Lai, Kapul dan Lipiu. Buah Lipiu itu buah yang mahal harganya. Bisa 160 ribu perkilo. Ketika buah ini muncul, itu artinya pertanda musim buah akan segera berakhir.

Hari ini peserta juga presentasi dan mendapat tanggapan dari teman-teman di luar kelompoknya. Naskah awal mereka sudah melewati proses revisi berkali-kali.
Saya bersyukur sekali, tujuh orang yang ada di kelompok saya, mau merevisi berkali-kali. Mereka saya arahkan, saya coret, mereka nulis lagi, saya coret lagi. Terus-menerus hingga lebih dari lima belas kali dalam satu waktu itu.
Nah mereka juga saya tanyakan, apakah paham dengan BME alias Beginning Middle Ending? Mereka mengerti.

Ini kelompok saya.

Di tempat lain, ilustrator yang datang juga mulai menggambar satu naskah dari tiap kelompok.

Hari terakhir ini hari penutupan. Dari Australia ada yang datang, dari Inovasi juga. Dan semuanya puas dengan hasilnya.

Horee, kerjaan selesai?
Beluuum. Malamnya ternyata ada meeting lagi. Semua puas, jadi…. Next kalau ada lanjutannya, yaaa.

Tapi malam ini saya harus bersiap.
Besok pagi kami ke Tarakan. Litara OPOB akan ada evaluasi. Dan demi speedboat tiket pesawat saya dari Tanjung Selor, diganti menjadi dari Tarakan.

Ada apa di Tarakan?
Saya akan cerita di tulisan berikutnya.
Tentang speedboat, hutan mangrove dan ramainya Tarakan.
Apa kabar sakit di leher, yang menjalar ke pundak hingga bagian badan sebelah kiri?
Alhamdulillah masih sakit. Saya anggap itu penggugur dosa saya. Dan setiap sakitnya saya nikmati betul.

Published by nurhaya3

Nurhayati Pujiastuti, owner Sanggar Mama Bilqis, Founder Penulis Tangguh, Kelas Merah Jambu dan Kelas Biru. Trainer Menulis.