Ke Tanjung Selor Mencari Cinta #PartOne

“Kayaknya, Nur cocok diajak Litara ke Kalimantan,” begitu kata Mbak Eva, waktu saya menunjukkan buku-buku mini buatan saya ketika kami mengisi acara di IIBF.
Kalimat itu saya anggap angin lalu.

Hingga selang dua minggu ada WA dari mbak Sofie. Tanya apakah jadwal saya kosong untuk minggu depan, karena Litara akan mengajak saya ke Kabupaten Bulungan, Tanjung Selor, Kalimantan Utara.
Saya minta satu hari untuk berpikir. Masalahnya pada hari Kamis, jadwal anak-anak liburan dari pondok. Kalau saya ikut ke Kalimantan, artinya saya tidak bisa menjemput anak bungsu saya. Peraturan di pondok santri putri baru diizinkan pulang, jika dijemput orang tuanya. Kalau satri putra bisa bebas asal minta surat izin.
Nah, masalahnya urusan perizinan biasanya urusan saya. Suami agak ribet dengan urusan seperti itu.

Saya berdoa.
Kalimantan?
“Bener mau diterima?” tanya suami. “Pikir dulu, kamu ke sana untuk apa? Untuk jalan-jalan? Untuk karir menulis? Atau untuk apa?”
Pertanyaan itu tidak perlu jawaban sebenarnya. Karena semua yang saya lakukan di dunia menulis dimulai dengan cinta, dijalankan dengan cinta. Jadi tidak pernah terpikirkan soal saya dapat ini atau dapat itu. Tidak terpikir juga, saya akan dihargai di sini, atau dihargai di sana.
Saya telepon anak bungsu di pondok. Keetika saya tanya gimana kalau nanti ibu tidak bisa menjemput? Dia dengan santai bilang, kalau nanti biar ayahnya saja yang menjemput. Bahkan bagaimana caranya dia yang memberi tahu.

Beres?
Beluuuum.
Tiga hari sebelumnya dari leher sebelah kiri sampai punggung kiri saya, sakiiit sekali. Rasanya seperti ada syaraf yang terjepit. Sakitnya luar biasa.
Saya berdoa. Minta, jika ini bermanfaat maka tolong lancarkan.
Besoknya mbak Eva WA lagi, dan saya sudah mengambil keputusan. Yup. Saya siap berangkat.

Tanjung Selor dan Cinta yang Mekar


Kami berangkat dari Halim.
Saya diantar suami jam setengah empat pagi. Bertermu Mbak Eva dan Mbak Sofie di bandara.
Lalu berangkat dengan Batik Air dan harus transit di Balikpapan. Dan harus naik pesawat baling-baling untuk sampai ke Tanjung Selor. Pesawat Wings Air ini agak kurang nyaman karena sempit. Ketika kita berdiri, kepala kita akan kena bagian bagasi, jadi harus menunduk.
Bukan masalah naik pesawat besar atau kecil. Saya bertahun-tahun tinggal di dekat bandara. Dari pesawat besar seperti pesawat Hercules sampai pesawat capung sudah paham seperti apa. Yang jadi masalah adalah, leher yang sakitnya luar biasa. Mau mengeluh, enggak mungkin. Sudah memutuskan berangkat, berarti harus menerima apapun konsekwensinya.

Leher tetap sakit tapi the show must go on.
Kami turun di Balikpapan dan harus menunggu pesawat ke Bulungan. Dua jam 30 menit menunggu, pesawat itu akhirnya siap. Pesawat itu yang membawa kami ke Bulungan, Tanjung Selor. Tanjung Selor ini kota yang hanya memiliki bandara kecil. Hanya ada satu pesawat. Ketika pesawat itu pergi, maka sepilah bandara. Oh ya taksi di Tanjung Selor adalah mobil jenis seperti angkot yang biasa saya lihat di Bekasi.
Satu jam perjalanan, kami sampai ke hotel dekat bandara.


Karena hotel syariah, ada air zam zam untuk para tamu dan kurma. Mbak Sofie yang memberi tahu. Saya minum sambil berdoa, semoga zam-zam itu tidak akan membuat saya kehausan di Padang Mahsyar kelak, dan Allah ringankan sakit leher saya.
Mengenai hotel ini, nanti saya akan tulis ulasan sendiri. Yang jelas perjalanan panjang dan leher yang terjepit membuat saya memutuskan untuk tidur.

Hari pertama saya langsung mandi dan tidur. Dibangunkan untuk diajak makan di pinggir Sungai Kayan. Litara bersama anak-anak muda dari One Person One Book (OPOB) membawa saya ke sana. Tempat ini tempat nongkrong anak-anak muda di Bulungan. Berjejer warung-warung di atas Sungai Kayan. Menyediakan aneka kuliner dari ikan. Perut langsung terisi dan pikiran langsung fresh.
Dapat ilmu baru juga saya tentang ketinting, perahu yang biasa hilir mudik di Sungai Kayan. Karena pada saat itu terdengar bunyi dari arah sungai yang gelap. Dan muncul para lelaki membawa kandang-kandang burung.
Ketinting itu perahu biasa, ketika malam mereka juga menggunakan lampu seadanya dan mengandalkan cahaya bulan.
Takjub saya.
Semakin takjub ketika Alfri salah satu anak OPOB bilang, “Bu Nur tahu, di tepian sana ada banyak pohon. Kalau ketinting lewat, ratusan kunang-kunang akan terbang.”
Saya terpesona.
Lalu Mbak Eva bertanya,” Mau ngerasain speed boat, gak? Nanti Nur pulang dari Tarakan pesawat langsung Cengkareng. Tiket bisa dicancel.”
Saya pun bingung.
Masalahnya leher sakitnya bukan main. Menoleh ke sebelah kiri, sakitnya minta ampun.
Saya menggeleng.

Saya ingin istirahat dulu.
Besok agedanya, Litara dan OPOB mengajak kami jalan-jalan.
Ada empat motor yang sudah disewa.
Karena kendaraan umum di sana agak sulit, dan penduduk biasa menggunakan ketinting dan naik speedoboat, maka motor adalah alternatif untuk ke sana ke mari.

Bersambung

Published by nurhaya3

Nurhayati Pujiastuti, owner Sanggar Mama Bilqis, Founder Penulis Tangguh, Kelas Merah Jambu dan Kelas Biru. Trainer Menulis.