Khoir dan Serbuk Ajaib Literasi

Serbuk ajaib literasi, begitu saya menyebutnya.
Ini seperti dalam buku dongeng atau film yang tokoh utamanya peri. Ketika ada sesuatu mereka akan menyebarkan serbuk ajaib itu.
Iya, saya memang tidak hidup di dunia khayalan. Tapi pelajaran untuk terus semangat seperti para peri semangat menyebarkan serbuk ajaib, membuat saya memikirkan banyak cara untuk membuat anak-anak dan para orang tua di lingkungan menjadi melek literasi.

Namanya Khoir. Saya lupa nama lengkapnya.Khoir teman anak sulung saya ketika SD, di sebuah SD kampung di kabupaten Bekasi.
“Khoir belum bisa baca, Bu,” lapor anak saya ketika itu. “Buku tulisnya kosong terus.”
Kedua orangtua Khoir seorang pemulung. Ada beberapa anak pemulung lainnya, tapi Khoir untuk saya istimewa. Karena orangtunya tidak tahu cara mendidik Khoir yang anak tunggal.
“Khoir mau main ke rumah setiap sore?” Suatu hari saya dekati Khoir. “Khoir nanti belajar baca. Di rumah banyak buku cerita.”
Kedua bola mata Khoir bersinar. “Khoir bilang Emak dulu,” katanya. Pipinya bulat semakin bulat karena senyumnya yang lebar.

Sampai seminggu Khoir tidak juga datang. Saya kembali ke sekolah.
“Emak enggak mau anter,” katanya.
“Enggak apa-apa, nanti kasih tahu Emak, lesnya enggak bayar. Kasih tahu Emak, ya.”
Khoir mengangguk.
Esoknya saya ditunggu emaknya Khoir. Seorang perempuan sederhana. Emaknya berjanji akan mengantar. Tapi janji hanya tinggal janji. Berulang kali ditunggu, Khoir tidak kunjung datang. Padahal di sekolah ia juga sering tidak masuk.

Sampai akhirnya saya Khoir diantar ke sekolah oleh neneknya yang biasa dipanggil Nyai. Pada Nyai saya meminta Khoir untuk diantar ke rumah untuk belajar baca tulis.
“Khoir mah enggak pintar,” kata emaknya yang akhirnya mengantar Khoir ke rumah. Perempuan itu menunduk malu.
Ternyata Khoir mampu belajar. Pelan tapi pasti.
Setiap kali datang, dia selalu berpakaian rapi. Ia mulai bisa mengenali huruf. Suka ketika dibacakan buku cerita. Dan berjanji akan belajar baca, biar bisa meminjam buku-buku yang ada di lemari.
Satu, dua kali. Tidak sampai sepuluh kali.
Sampai akhirnya Khoir tidak pernah datang lagi.
Saya menunggu. Sampai ada teriakan memanggil di halaman sekolah.
“Mama Attaaaar, aku habis sakit panas terus step,” katanya. “Emak enggak bisa anter. Emak kan mulung. Nanti Nyai yang antar.”

Sekali dua kali Khoir kembali muncul. Lalu menghilang. Sudah hampir bisa membaca dan menulis. Sudah ingin sekali membawa pulang buku-buku yang saya tunjukkan padanya.
Tapi Khoir tidak pernah muncul lagi. Sampai sulung saya naik kelas, naik kelas hingga sebuah cerita meluncur dari mulut sulung saya.
“Khoir udah berhenti sekolah, Bu.”
Perih hati saya mendengar kalimat itu. Lebih perih lagi ketika anak saya menlanjutkan.
“Ibu tahu, enggak. Khoir sekarang jadi tukang ngamen. Aku tahu ngamennya di mana.”

Khoir adalah pengalaman berharga.
Ketika saya bertemu dengannya, ia kabur.
Terus bertemu lagi dan ia kabur. Sampai bertahun kemudian ia sudah jadi remaja dengan rambut merah, tinggi kurus, dan masih mengamen. Tapi berlari ketika mengenali saya.

Dari Khoir saya jadi belajar banyak.
Bahwa budaya literasi akan berkembang jika, budaya itu dijadikan #sahabatkeluarga. Dan setiap anggota saling mendukung satu dengan yang lain, untuk mengembangkannya. Menjadikan rumah sarang #literasikeluarga, akan membuat budaya literasi berkembang pesat.
Khoir tidak mendapat dukungan dari keluarganya.
Khoir tidak paham, bahwa kecakapan literasi penting sekali untuk membuat ia terputus dari rantai menjadi pemulung.

Tidak ada Khoir lagi sekarang.
Saya bersyukur, apa yang terjadi dengan Khoir membuat saya mengubah banyak hal. Termasuk membuat Sanggar Mama Bilqis untuk anak-anak di seputaran tempat tinggal.

Cerita Khoir tinggal kenangan.
Yang ada sekarang anak-anak yang berlomba belajar dan meminjam buku di rumah. Dan para orang tua yang senang menimba ilmu.

Published by nurhaya3

Nurhayati Pujiastuti, owner Sanggar Mama Bilqis, Founder Penulis Tangguh, Kelas Merah Jambu dan Kelas Biru. Trainer Menulis.