Mencuri Waktu di UNS

Solo, Iam back.
Setelah mentoring dan field testing di Yogya, saya memutuskan cepat pamit. Dari hari Minggu saya sudah di Yogya. Kesempatan berada di Yogya tidak boleh disia-siakan, saya harus menengok Ibu, menengok makam Bapak. Maklum rencana untuk pulang kampung, masih menunggu anak-anak libur sekolah.

Meeting selesai jam empat sore. Saya cepat memesan grab untuk sampai stasiun Tugu. Tapi kereta Prameks seharga 15 ribu untuk yang jam lima habis. Ada lagi di jam 8, itu pun spekulasi mengingat kereta ini bisa dipesan online, dan yang berbaris untuk menunggu kereta jam 8 sudah banyak. Tentu tidak mau kehabisan tiket.
Seorang Mbak yang mengantri memberi tahu, kereta jarak jauh yang bisa saya beli. Tiketnya beberapa kali lipat dari kereta Yogya Solo. Tidak mengapa demi menemui Ibu di Solo.
Saya ambil kereta Sancaka tujuan Surabaya. Jam keberangkatan jam 16.40.
Nah, karena kepala sudah penuh dengan meeting beberapa hari, yang terbayang di benak saya, jam 16 itu jam 6 sore. Berpikir mau ke Malioboro, mencarikan kaos batik pesanan suami.
Bersyukur, saya berpikir lagi. Lalu sadar, kalau jam 16 itu jam 4. Dan sekarang sudah jam 16.30.
Sepuluh menit saya langsung ke dalam mencari keretanya. Alhamdulillah kereta masih ada. Dan tidak berapa lama jalan. Perjalanan hanya sebentar sekitar satu jam.

Janjinya, sih, kalau di Solo saya akan mengisi di UNS. Itu janji saya dengan mbak Ninuk, begitu biasa saya memanggil. Kakaknya sahabat saya ketika kuliah. Karena sudah kenal puluhan tahun, jadi sudah seperti kakak sendiri. Qadarallah kami memiliki banyak kesamaan.
Mbak Ninuk minta saya sediakan waktu mengajar mahasiswanya.
Sehari saya bisa istirahat di rumah Ibu. Besoknya pagi-pagi telepon berbunyi. Saya akan dijemput.
Jangan lupa juga power point untuk ditunjukkan ke dekan, begitu kata Mbak Ninuk.
Waduh laptop saya tinggal di rumah. Berat bawannya. Langsung saya hubungi suami untuk mengirim file yang ada di laptop.

Saya dijemput.
Sarapan dulu di warung soto legendaris Soto Triwindu. Setelah itu meluncur ke kampus.
Berapa jumlah mahasiswanya? Saya tidak bertanya. Mau sedikit atau banyak, saya akan tetap mengajar.
Satu-persatu mahasiswa datang.
Satu-persatu memenuhi ruangan.


Kita membahas fiksi bermacam genre. Daaaan dengan praktik tentu saja. Jadi mereka bisa lebih paham, di mana perbedaannya.
Seru ketika saya katakan ide harus unik. Dan mereka mengungkapkan ide mereka.
Kita belajar lewat gambar yang saya buat di papan tulis.
Kita juga membaca buku Kring Kring bersama-sama.

Selesai?
Belum.
Mbak Ninuk mengajak ke S2. Saya diminta mengajar di sana. Tapi untuk artikel. Oke, tidak masalah.

Muridnya tidak terlalu banyak. Langsung saya bukakan blog saya, agar mereka mengerti seperti apa tulisan artikel berupa, opini, featured dan bahasa yang digunakan dalam tulisan.
Kita praktik lagi.
Saya ingin mereka bisa membedakan, tulisan yang layak dibaca dan yang tidak.
Mana tulisan yang provokatif dan mana yang tidak. Sehingga mereka membuat saringan sendiri, untuk menyaring berita mana saja yang layak mereka baca.

Alhamdulillah semua lancar.
Dan saya harus bergegas karena besok sudah harus pulang.
Agenda lain menanti.

Published by nurhaya3

Nurhayati Pujiastuti, owner Sanggar Mama Bilqis, Founder Penulis Tangguh, Kelas Merah Jambu dan Kelas Biru. Trainer Menulis.