Field Testing Buku Anak di SD Mangunan, Yogyakarta

Field testing, apa itu?
Sejak berkenalan dengan Room to Read, kalimat itu jadi akrab di telinga.
Field testing, mentoring dan lain sebagainya.
Field testing itu apa?
Saya jelaskan dulu, ya.

Ketika kita terpilih ikut di workshop Room to Read, artinya proses panjang menulis buku anak dimulai. Proses itu berawal dari workshop 6 hari untuk karantina. Berlanjut ke seleksi. Jadi ketika karantina, penulis berjuang lagi untuk tahap lebih lanjut. Ada yang melaju, ada yang gugur.

Yang melaju, satu atau dua naskah, akan berproses membuat buku anak.
Prosesnya satu penerbit yang terlibat di dalamnya, akan mengambil empat naskah terbaik. Ada empat penerbit, Litara, Kanisius, BIP dan Bestari.
Penulis yang terpilih itu akan berproses dengan penerbit untuk mengikuti serangkaian program revisi, agar naskahnya layak dengan standar buku anak Room to Read.
Berapa kali revisi?
Bisa puluhan kali.

Naskah penulis itu kemudian dicarikan ilustrator. Ilustrator melalui proses seleksi dan workshop juga.
Lalu dijodohkanlah naskah penulis itu ke ilustrator yang tepat.

Ujungnya adalah ketika semua siap dalam bentuk dummy.
Dan harus diuji dengan dibacakan di hadapan anak-anak, untuk mengetahui reaksi mereka.
Reaksi seperti apa?
Reaksi itu berupa paham tidak mereka dengan isi bukunya, alur cerita, juga tokohnya.
Ada tidak kalimat yang mereka belum mengerti?
Suka tidak dengan ilustrasinya?
Karena naskah ini diperuntukkan untuk SD kelas satu, dua dan tiga, maka yang dikumpulkan adalah anak-anak usia itu.
SD yang dipilih adalah SD Mangunan di Jogjakarta.
Field test dilakukan pihak Room to Read ada Mahesh dari Srilangka, Provisi Education ada mbak Catharina, Penerbit Kanisius, Penulis dan Ilustrator.

Untuk penulis atau ilustrator yang datang, biaya ditanggung oleh Provisi Education.
Biaya perjalanan juga menginap plus makan.

Field testing itu seperti apa?
Jadi ada 10 anak dikumpulkan dalam satu ruangan. Anak-anak itu dipilih dari kelas satu sampai kelas tiga.
Buku dibacakan di hadapan mereka. Saya berkesempatan membakan buku saya.
Setelah itu kita dibagi dalam kelompok kecil. Ada empat tiga kelompok. Setiap kelompok, memanggil satu anak untuk memilih satu buku yang ingin mereka baca.
Lalu mereka ditanya mengenai isi buku tersebut.
Tanggapan mereka kita catat sebagai masukan revisi.

Field testing ini untuk saya penting, karena membuat saya paham betul respon anak terhadap buku saya.
Pengalaman yang menyenangkan tentu saja.
Harapannya setelah itu tentu saja, buku saya digemari anak-anak di Indonesia.

Published by nurhaya3

Nurhayati Pujiastuti, owner Sanggar Mama Bilqis, Founder Penulis Tangguh, Kelas Merah Jambu dan Kelas Biru. Trainer Menulis.