Bee Festival di An Nahl Islamic School

Bee Festival namanya. Bulan Maret saya sudah diberikan flyer tentang Bee Festival di An Nahl oleh Pak Agus. Pak Agus juga mengatakan akan mengundang Gema Insani untuk pameran di sana.
Bulan Maret saya sedang padat-padatnya revisi naskah dengan Unicef, Room to Read dan Puskurbuk. Naskah buku tentang permainan tradisional bernama Dampu Batu harus direvisi berulang kali. Itu permainan yang masih saya kuasai betul, jadi sayang jika tidak saya tulis. Alhamdulillah naskah itu lolos dan saya beserta 19 penulis dikarantina enam hari di Lembang, berlanjut setelah itu masih meneruskan revisi.
Saya juga baru saja bernapas lega, karena naskah saya tentang idola saya Ibu Een Sukaesih, guru yang lumpuh sekujur tubuhnya dan tetap mengajar selama 27 tahun, baru saja selesai. Itu naskah proyek beasiswa dengan penerbit Litara dan Estee Lauder, akan tayang di web lets read Asia.

Bee Festival. Apa itu?
Bee festival adalah Book Day, Earth Day and English Day yang kemudian disingkat menjadi BEE Festival.

Event BEE Festival bertujuan antara lain :
Pertama, menumbuhkan kembangkan budaya baca tulis (literasi) dikalangan warga sekolah (civitas akademika) Annahl Islamic School.

Kedua, menumbuhkan kembangkan kecintaan dan kepedulian warga sekolah (civitas akademika) Annahl Islamic School pada bumi.

Ketiga, meningkatkan kemampuan berbahasa Inggris warga sekolah (civitas akademika) Annahl Islamic School.

Ada banyak kegiatan yang dirancang untuk itu seperti Book Fair dan Book Signing. Yup tugas saya untuk book signing pembeli buku-buku saya.
Ada juga donasi untuk orang utan bersama Borneo Orang Utan Survival Foundation, outbound dan fun bike. Ada juga penanaman 23 tanaman langka yang dihadiri pihak Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Bogor, Bapak H. Ade Iman dan tim.

Dari Maret ke April?
Duh, saya mulai sering amnesia dengan tanggal. Kepala harus terpecah belah ke sana ke mari. Dari mulai memantau group-group menulis di WA, agar mereka konsisten menulis dan menghafal Alquran. Ya, ada group menulis yang saya rancang, bukan saja harus setor tulisan, tapi juga setor hafalan sepekan sekali. Harus tambah meskipun hanya satu ayat.
Menghafal Alquran akan menjaga kita agar tidak menulis yang melenceng dari yang Allah ridhai. Ini juga ikhtiar pribadi karena anak Sulung masuk SMA tahfidz di pondok pesantren dan adiknya insyaAllah menyusul.
Dan di TPQ ternyata saya diberi tugas untuk melatih drama untuk lomba antar TPQ menjelang Ramadhan. Latihan setiap hari, pikirkan naskahnya. Siapkan suara. Drama Jangan Takut Setan saya buat videonya. Dan ini hasilnya.

Tiba-tiba Pak Agus memberi kabar lagi.
Acara book signing akan diadakan hari Kamis. Hari kosong saya hanya hari Selasa. Itupun kosongnya ketika siang saja. Kamis sore saya ditunggu 45 anak TPQ usia PAUD dan awal SD, untuk belajar Bahasa Arab. Mereka lagi senang-senangnya belajar Bahasa Arab sambil belajar menggambar. Karena saya mengajar dengan gambar.

Saya mulai bimbang.
Bimbangnya karena pada saat itu baru ada berita dari Puskurbuk, saya terpilih l untuk program penulisan buku anak. Dan harus merancang buku bersama ilustratornya, harus survey pula. Ini program dengan syarat luar biasa. Harus sudah punya buku anak, harus punya sertifikat lomba menulis yang kredible tentu saja. Dan satu naskah dihargai 12,5 juta. Satu penulis bisa menulis 3 naskah.

Istimewanya program yang diminati banyak penulis seluruh Indonesia, sehingga ada seribu lebih naskah yang masuk. Dan rezeki saya lolos di sini bersama 10 murid menulis dari Kelas Merah Jambu, Biru dan Penulis Tangguh.

“Aduuh, saya enggak bisa, Pak Agus.”
Pak Agus bilang tidak apa-apa. Tapi memberi tahu program pada hari itu.
Fix akan ada penerbit Gema Insani yang akan pameran di sana dan ada buku-buku saya.
Saya berpikir ulang. Akhirnya mengiyakan untuk datang. Dengan syarat setelah Zuhur harus pulang, demi mengejar kelas Bahasa Arab.

Hari H
Saya sudah siap pada hari H. Jam setengah 8 sudah siap.
Pesan ojek online. Entah kenapa pada hari itu semua pesanan yang sudah mengiyakan, membatalkannya. Satu jam menunggu. Hingga akhirnya suami inisiatif untuk mengantar.
Dalam bayangan saya, harus cepat sampai biar bisa pulang tepat waktu.
Jam sepuluh lebih saya sampai.

Pak Agus membawa saya ke satu kelas, di dalamnya ada anak-anak yang sedang menulis. Ada promo buku saya juga di kelas ini.

Ada sesi tanya jawab juga. Ada yang bertanya sejak kapan saya mulai menulis? Mereka harus tahu kalau saya menulis sejak kelas 4 SD dan sejak itu tidak berhenti menulis. Dan memang anak-anak yang ingin belajar menulis, harus diajarkan tentang makna istiqamah dalam menulis. Jadi mereka akan bersabar dengan prosesnya.


Setelah itu anak-anak bisa melihat buku-buku yang dipamerkan Gema Insani. Ada buku-buku saya seperti kisah Salman. Seorang anak yang mendapat hadiah umrah karena hafal Alquran. Tapi di tanah suci dia berkenalan dengan anak yang suka main gadget. Akhirnya hafalan Salman hilang.
Ada komik Sayangi Sesama. Dan ada 10 buku dengan rujukan dari Hadist Bukhari Muslim tentang akhlak Rasulullah.
Anak-anak yang membeli buku saya, boleh minta tanda tangan dan pesan di buku itu.
Kalau membeli buku yang lain?
Tidak mengapa meminta ditulis pesan juga.
Di sebelah saya ada dari orang utan survival foundation. Boneka besar berisi orang di dalamnya menghibur anak-anak.

Setelah Zuhur saya pamit pulang.
Harus cepat sampai rumah. Istirahat sejenak. Dan langsung ke TPQ.
Pulangnya malah dapat kabar bahagia beruntun.
Murid menulis saya menang lomba menulis juara satu dari pasta gigi Darli.
Dua murid lainnya menang lomba resensi buku dari penerbit.

Tugas saya masih bertumpuk.
Naskah juga bertumpuk, bersamaan dengan bertumpuknya kepercayaan.
Tapi setiap program literasi baca tulis akan saya dukung. Di TPQ pun saya tetap membawakan buku-buku cerita untuk anak-anak, biar mereka cinta membaca.

Terus maju An Nahl Islamic School.
Dan terus tingkatkan budaya literasi dan kecintaan pada lingkungan.

Published by nurhaya3

Nurhayati Pujiastuti, owner Sanggar Mama Bilqis, Founder Penulis Tangguh, Kelas Merah Jambu dan Kelas Biru. Trainer Menulis.