Anisah Sholichah- Kata Kuncinya Berani Mencoba

Salah satu murid menulis di Merah Jambu adalah Anisah Sholichah. Yuk cari tahu tentang Anisah.

Satu tahun setelah lulus dengan gelar “Sarjana Sastra”, waktu itu akhir 2014, banyak dialog dalam diri untuk mengerucutkan tujuan hidup dan mimpi dari sekadar bekerja. Sebenarnya, sejak lulus kuliah, sejak Januari 2014 saya sudah berkerja sebagai reporter majalah, dunia yang tidak jauh dari menulis memang. Di lain sisi secara pribadi ingin berkontribusi lebih luas untuk dunia literasi dengan status alumni Sastra Indonesia tersebut. Karena sejak dulu saya sangat mencintai aksara.
Allah suka bersemiotik dengan mengarahkan kita memilih dan menjalani berbagai takdir. Bahkan orang-orang yang kita temui, selalu menjadi bagian dari mozaik takdir itu. Semiotik yang kemudian terjaring sebagai penyemangat.

Akhir 2014 saya bertemu dengan Bu Nurhayati Pujiastuti untuk pertama kali di rumah Mbak Saptorini (Saya biasa memanggilnya Mb Rien). Mbak Rien ini ternyata juga satu almamater dengan saya. Waktu itu dapet undangan dari Mbak Rien, yang sebelumnya pernah jadi narasumber saya di majalah dan saya tanya-tanya terkait bagaimana cara berkarya di media, terutama cara memulai menulis cerita anak. Dari Mb Rien saya diberitahu kalau Bu Nur ini seorang master di dunia cerita anak dan kebetulan sedang di Solo.

Tak lama berselang saya membaca status Bu Nur di facebook, kalau beliau sedang membuka Kelas Menulis Cerita Anak, bernama Kelas Merah Jambu (MJ). Saya merasa tertarik untuk bergabung dan tidak pernah menyesal sama sekali sampai saat ini. Mulailah saya belajar menulis cerita anak sejak Agustus 2015 di kelas MJ.
Saya merasa masih pupuk bawang dan jauh dari kata mahir. Mulailah saya berteman dengan para penulis kece. Ada yang masih sama-sama newbie dan lebih banyak yang senior. Ada yang cepat melesat, sementara saya banyak terseok. Terseok dengan manajemen waktu dan ide. Sesekali memberi ucapan selamat untuk karya teman yang dimuat. Karya saya? Sebagian besar masih ada dalam folder belum dimuat. Baru dua naskah cerita anak yang dimuat di media. Itu pun sudah sangat bersyukur.

Terkadang saat mentok, saya berhenti sejenak. Tapi akhirnya kembali menanyakan pada diri tentang niat awal menulis dan kembali bangkit untuk belajar lagi. Ternyata kuncinya adalah “mencoba”. Mencoba duduk, mencoba berimaji, mencoba riset, mencoba mengetik, dan mencoba percaya pada dirimu sendiri. Terakhir sih mencoba untuk konsisten dengan itu semua.
Dan saya yang masih pupuk bawang ini berkesempatan hadir di Pertemuan Penulis dalam Gerakan Literasi Nasional 2018 oleh Badan Bahasa Kemdikbud. Bertemu dengan 128 penulis se-Nusantara, berkesempatan menerima materi-materi dari pegiat-pegiat literasi super kece, dan berkesempatan merevisi naskah sendiri. Dan yang sangat istimewa, buku tulisan saya diterbitkan dan didistribusikan ke pelosok negeri, terutama daerah 3T. Menjadi Novel anak perdana saya yang diterbitkan.

Saat ini ada dua naskah cerita pendek saya yang lolos dan sedang proses terbit dalam bentuk antologi. Dua-dua nya adalah penerbit mayor. Mei 2019 nanti buku boardbook perdana saya juga akan segera hadir di toko buku se-Indonesia. Saya hanya perlu percaya kalau tugas kita hanya satu, lakukan yang terbaik lalu bertawakallah. Dan semesta alam akan mendukungmu. Saya pun ingin terus menulis untuk meninggalkan jejak-jejak peradaban. []

Cerita Pendek yang dimuat media:
1. Aya Terlambat Lagi (Koran Berani–2015)
2. Siung Bawang Putih dari Nenek (Koran Berani–2015)
3. Cangkir Terakhir (Majalah Nur Hidayah—2017)

Buku yang sudah terbit:
Sangga Si Pengusaha Ayam Kampung (Novel Anak)—Buku Terpilih Bacaan Literasi Gerakan Literasi Nasional (GLN) 2018, Badan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Buku yang akan terbit:
Sebentar Goyi! (Boardbook)—2019−Potata Publishing

Published by nurhaya3

Nurhayati Pujiastuti, owner Sanggar Mama Bilqis, Founder Penulis Tangguh, Kelas Merah Jambu dan Kelas Biru. Trainer Menulis.