Air Mata

airmata

Saya, seperti kebanyakan perempuan lainnya, pasti lebih banyak menyimpan kolam air mata ketimbang para lelaki. Kolam-kolam itu bisa keluar dengan cepat hanya dengan sentuhan bernama novel yang mengiris-iris perasaan atau tontonan yang membuat miris melihat tokoh utmanya diperlakukan secara tidak baik.
Kolam-kolam air mata itu anehnya tidak juga kering airnya. Bahkan semakin banyak kita menonton atau membaca sesuatu yang mengiris-iris hati, maka semakin banyak mata air yang hadir untuk menimbuni kolam-kolam itu.
Kolam-kolam air mata itu yang akhirnya dimanfaatkan oleh industri televisi dan juga banyak oleh industri buku.
Sebagian besar tayangan sinetron di televisi berisi air mata. Diminati oleh para gadis dan ibu-ibu dan ikut berlelehan air mata mereka dengan kisah tragis tokoh di dalamnya.
Bahkan tayangan musibah sekarang juga dikemas untuk mengambil air mata penontonnya. Berlama-lama mereka bicara tentang sebuah musibah lalu kamera akan men-zoom seorang Ibu yang kehilangan anak-anaknya atau anak yang kehilangan orangtua dengan backsound music yang akan membuat air mata di pipi berlelehan tanpa terasa.
Musibah itu belakangan bukan lagi diceritakan sekilas saja oleh industri televisi, tapi diceritakan dengan begitu detil, sehingga para perempuan khususnya dan lelaki umumnya, akan terpaku untuk lebih lama lagi menonton tayangan itu.
Penderitaan dan musibah selalu menjadi obat yang mujarab mengeluarkan air mata tapi belum tentu efektif untuk membasuh jiwa.

Air Mata Dan Buku
Air mata harusnya berhubungan dengan rasa. Sebuah rasa yang lebih banyak dimiliki perempuan ketimbang laki-laki. Dan rasa itu juga lebih banyak dimiliki oleh seorang yang sensitif atau lebih sering disebut perasa.
Perasa artinya mudah untuk merasakan. Sesuatu yang dianggap biasa-biasa saja oleh orang lain, bisa dianggap berlebihan olehnya.
Dan rasa yang seperti ini yang banyak dimiliki oleh penulis perempuan. Kadang mengungkapkannya terlalu berlebihan hanya ingin agar rasa itu tertangkap dan dikeluarkan dalam bentuk air mata oleh pembacanya.
Jika orang lain menangkap dan menumpahkan air mata ketika membaca sebuah buku, saya justru menangkap sesuatu yang berbeda.
Saya lebih suka belajar banyak makna lain dibalik kisah yang mengundang air mata. Luka yang tertulis dan sampai ke hati pembacanya, pasti adalah luka yang sesungguhnya terjadi.
Kite Runner, A Thousand Splendid Suns, hingga And The Mountains Echoed yang ditulis Khaled Hosseini adalah luka yang dialami penulisnya pada suatu tempat di Kabul dimana pertempuran tidak juga mau berhenti.
Air mata berupa luka yang dialami tokoh-tokoh dalam tiga buku tersebut adalah air mata penulisnya dan sampai kepada pembacanya. Air mata itu efektif untuk bisa merasakan jejak peperangan yang hanya membuat luka. Air mata di sana juga jadi bahan perenungan bahwa harus selalu hadir sosok bijaksana yang fokus pada kedamaian hingga berjuang keras untuk menepis segala perbedaan.
Air mata dalam buku A Fuadi mulai dari Negeri Lima Menara, Ranah Tiga Warna hingga Rantau Muara, adalah air mata yang menggiring pembacanya untuk tetap kukuh pada keyakinan sebuah mimpi. Perjuangan untuk meraih mimpi itu berat. Akan ada air mata bukan saja dari individu yang sedang bermimpi untuk sukses, tapi juga dari orang-orang terdekat yang rela mengucurkan air mata dan membasuhnya dengan doa juga keyakinan bahwa segala mimpi pasti bisa terwujud.
Air mata Ibu yang percaya bahwa anaknya akan menjadi orang baik, menyekolahkan di tempat yang baik hingga segala optimisme itu ditelah utuh oleh si anak dan membuatnya yakin bahwa segala kejadian buruk adalah rahasia menuju pintu kesuksesan.
Secret Garden dan The Railway Children, adalah buku anak-anak yang menyadarkan pembacanya bahwa kadang kala dalam hidup ini ada air mata orang dewasa yang harus dipahami anak-anak. Anak-anak yang tidak mengerti perilaku orang dewasa dan masalah orang dewasa. Air mata itu justru membuat mereka jadi pribadi tangguh dan memotivasi.

Jangan Buang Percuma

Air mata perempuan bukan air mata lelaki. Para lelaki tidak semudah perempuan mengeluarkan air mata. Pada budaya patriarki yang mengharapkan laki-laki tumbuh dewasa dengan segala ketegaran plus ketegasan, aneh rasanya melihat mereka menangis.
Sudah terbiasa untuk saya melihat perempuan menangis. Meskipun ada saja peristiwa yang menggiring bahwa terkadang air mata bukan sekedar air yang meleleh dari mata. Tapi bisa berarti banyak. Air mata bisa jadi usaha untuk mengangkat beban hidup yang menghimpit dada ke luar ke permukaan hingga hidup menjadi lebih ringan.
Saya menyaksikan sendiri ketika melihat seorang ibu menangis. Ibu itu saya temukan tidak sengaja di halaman depan masjid. Benar-benar menangis. Meskipun tangisan itu terlihat sekali ditahan mungkin tidak enak hati dengan orang yang melintas dan nanti melihatnya.
Lalu tangisan itu berubah menjadi tangisan yang tidak bisa ditahan lagi ketika saya datang dan duduk di sampingnya.
Ia mulai bercerita, meskipun tidak didesak. Bisa jadi sesak di batinnya sudah tidak bisa dikuasai sehingga butuh ditumpahkan. Lalu ia mulai bercerita tentang jalan hidupnya.
Ibu yang saya temui bukan seorang perempuan yang dengan pandangan biasa juga sudah patut dikasihani. Pakaian-nya rapi. Sosoknya tinggi. Dan wajahnya terawat tidak kusam.
Tangisan itu disambung dengan cerita yang membuat saya terhenyak sendiri. Dia bercerita bukan karena berharap saya memberi sesuatu atau ia meminta sesuatu. Ia bercerita karena memang ingin bercerita. Berbagi beban. Setelah beban itu terbagi terlihat jelas sekali bagaimana ia merasa lega.
Hidupnya yang berada di titik nol. Dipisahkan dari anak-anaknya. Masih dikejar-kejar oleh mantan suaminya yang tidak ingin ia memiliki hidup baru. Kemanapun ia melangkah, selalu ada mata-mata dari suaminya. Setiap kali ia bekerja, majikannya selalu mengeluarkannya karena suaminya akan mengancam si majikan. Maka sempurnalah penderitaan perempuan manis itu.
Justru setelah itu saya yang merasa aneh. Aneh, bila hidup yang baik-baik saja yang selama ini saya jalani harus dipenuhi air mata. Apalagi air mata itu hanyalah air mata karena kekonyolan terpancing oleh sebuah tontonan yang dilebih-lebihkan. Atau karena penderitaan seujung kuku saja.
Di tempat lain saya tahu, ada wanita yang mengeluarkan air mata hanya karena tidak memiliki baju sebagus wanita lain atau tidak memiliki rumah sebagus rumah tetangganya.
Ada yang hidupnya fokus hanya untuk menangisi kemalangan yang ia anggap malang tak berujung tanpa pernah membandingkannya dengan kehidupan orang lain.
Ada juga yang menangis ketika menonton tontonan tentang musibah di televisi, tapi tidak bergerak sama sekali hatinya untuk bergegas membantu.
Saya punya cara tersendiri agar kolam air mata saya tidak tumpah untuk hal percuma. Kehidupan yang saya jalani selalu saya bandingkan dengan kehidupan dengan orang lain yang lebih sulit. Bahkan dengan tingkat cobaan hidup yang cukup berat. Dan perbandingan itu bukan sekedar berada dalam alam pikiran, tapi saya mendekatinya hingga nyata segala yang terlihat.
Air mata keluar itu hak kita.
Tapi sekarang saya tahu bagaimana cara mengeluarkan air mata lebih tepat lagi.

2 thoughts on “Air Mata

  1. Ah, Mbak Nur. Tulisan Mbak selalu bermakna dalam. Tegas, tapi tidak menyakiti. Benar, namun tidak menghakimi. Saya jarang menangisi tontonan yang mengumbar kesedihan perempuan. Sebenarnya malah tidak suka tontonan ala begituan. Tapi ada suatu masa saya sempat tenggelam dalam tangisan saya sendiri. Namun syukurlah, sekarang saya bertekad itu akan berlalu. Banyak cinta disekeliling saya yang terlalu sayang untuk diabaikan karena saya hanya fokus pada airmata saya sendiri. Terima kasih untuk tulisannya yang menginspirasi dan menyemangati 🙂

Comments are closed.