Tun dan Hujan

1625761_826957303986479_996557859_n

Tun tidak pernah membenci hujan. Tun bahkan sangat cinta dengan hujan. Hujan yang turun di halaman depan rumahnya yang sempit. Hujan yang turun dan tidak bisa mengalir di selokan tempat tinggalnya. Hujan yang dirutuki oleh tetangganya yang sudah capek terkena banjir dan hujan yang membuat anak-anak memilih merapat pada Tun sambil melihat berita kebanjiran di televisi tentang banjir di lingkungan mereka.
Tun juga tidak pernah membenci hujan seperti suaminya membenci hujan. Bim, suaminya sejak dua tahun yang lalu selalu saja histeris setiap kali melihat hujan turun salah tempat. Salah tempat karena hujan yang harusnya didorong ke lautan, turun di tengah jalan. Salah tempat karena harusnya hujan turun bukan di tempat Bim disewa sebagai pawang hujan.
Tun bahkan pernah membuang segala barang sesaji yang sudah dipersiapkan Bim pesanan dari tetangga depan rumah yang akan hajatan.
Tun sangat merindukan hujan di musim kemarau yang begitu panjang.
Tenggorokan Tun sering sakit karena ia tidak terbiasa dengan debu-debu yang selalu berterbangan. Tawuran antar kampung selalu terjadi di musim panas. Tawuran pada malam hari setelah mereka letih bekerja seharian mencari nafkah . Tawuran karena sedikit bunyi musik atau senggolan di jalan yang sempit.
Panas selalu memanaskan. Memanaskan hati, memanaskan kepala. Membuat tetangga teman berkumpul selama bertahun-tahun, bisa menjadi musuh dalam sedetik.
Tapi Bim akan bertambah panas jika hujan sampai turun. Bim tidak akan peduli betapa banyak jumlah kebakaran yang sudah terjadi dimulai dari kampung sebelah merembet ke kampung yang lain. Selalu terjadi setiap minggu di musim kemarau.
Tun bahkan tidak berani membenci hujan meski hujan pernah membuatnya terjerembab ke dalam selokan yang tidak terlihat karena dipenuhi genangan air. Tun bahkan juga tidak berani membenci hujan yang membuat satu anaknya hilang terbawa banjir dan tidak pernah ditemukan hingga saat ini.
Tun tidak seperti Bim. Bim luar biasa membenci hujan. Bim hanya ingin panas. Bim yakin hujan memang penting tapi tidak sepenting panas. Terlebih sejak di PHK dua tahun yang lalu dan berguru dengan seorang eyang yang meminta Bim menemaninya menjadi pawang hujan. Maka lengkaplah cara Bim membenci hujan.
Bim membenci hujan dengan berbagai cara. Bim tidak menyediakan jas hujan untuk anak-anak di rumah seperti para tetangga. Bim bahkan mengajari anak-anak cara menantang
hujan dengan tidak menggunakan pelindung apapun. Tun dan Bim akhirnya sering bersitegang karena anak-anak mereka sering sekali demam terkena hujan. Bim bilang Tun memanjakannya. Memanjakan hujan dan membiarkan hujan bersarang di tubuh anak-anak. Harusnya Tun membantu agar hujan tidak turun.
Tun tidak ingin membenci hujan.
Meski bertahun-tahun mereka tinggal di gang sempit di pinggir kali yang setiap tahun selalu menjadi langganan banjir. Meski hampir setiap minggu di musim penghujan rumah mereka terkena genangannya hingga Tun berjuang keras membersihkan lumpur kotor itu dari lantai rumah mereka.
Hujan untuk Tun adalah pengganti air mata. Air matanya yang tidak lagi bisa turun karena Bim mengeringkannya. Bim bilang salah satu cara agar ia sukses menjadi pawang hujan adalah tidak boleh membiarkan ada air mata di dalam rumahnya. Sebab air mata adalah sumber dari segala sumber air. Air mata ada pada kolam yang tidak bisa berhenti mengalir bahkan akan terus menerus menghasilkan air.
Pagi tadi, Bim berpesan agar Tun berdiri di depan rumah sambil membaca jampi-jampi yang sudah diajarkan oleh Bim. Musim hujan sudah akan datang. Beberapa kali mendung terlihat meski hujan baru turun dalam bentuk gerimis kecil lalu menghilang berganti panas kembali.
Bim memohon di malam hari. Berlanjut di pagi hari. Pekerjaannya harus Tun dukung karena memang itu yang harus Tun lakukan. Tidak ada yang lain. Atau Tun dan anak-anak harus berutang lagi pada tetangga dan rela dicemooh lagi.
“Pergi pergi….”
Kalimat itu yang Bim ajarkan untuk Tun ucapkan berkali-kali dan hanya boleh berhenti ketika Tun melihat awan sudah pergi.
Ramalan cuaca semalam mengatakan hari ini seluruh kota akan terkena hujan deras merata. Hujan pertama di musim penghujan.
“Sepuluh kali bayaran di tempat yang lain,” begitu yang Bim bilang pada Tun.
Sepuluh kali bayaran untuk pawang hujan di musim hujan memang bayaran yang layak. Sebab hujan sering membandel dan membuat pawang hujan yang satu kali mengalami kegagalan saja dijauhi pelanggan.
Sepuluh kali bayaran itu artinya utang Tun di tukang sayur bisa lunas. Utang anak-anak pada tukang nasi uduk yang menjadi kesenangan mereka untuk sarapan juga bisa lunas. Utang daster Tun juga bisa lunas.
“Terus bilang pergi, pergi…,” ujar Bim sebelum berangkat.
Tun mengerti.
Mata Tun memandangi punggung Bim yang jauh darinya.
Tun tidak perlu masak hari ini. Dua anaknya ketika berangkat sekolah sudah Tun bawakan roti yang mereka beli dari pedagang roti keliling. Roti isi coklat yang lumeran coklatnya bisa mengotori bibir anak-anak.
Tun juga cukup menganggukkan kepalanya ketika anak-anak minta ijin berangkat sekolah sambil mulutnya terus mengucap rapal pergi.
Pergi untuk awan yang sebenarnya Tun suka. Pergi untuk hujan yang sebenarnya membuat Tun mrasa nyaman. Pergi untuk setiap mendung yang membuat Tun jadi ingat masa lalunya ketika sering Tun dan ibu berlari-lari di bawah hujan untuk menyusul Bapak di sawah.
“Pergi pergi…”
Tun naik ke lantai dua rumahnya. Lantai sederhana. Itu juga bukan buatan tukang yang ahli. Tapi buatan Bim dengan kemampuan seadanya. Bim hanya belajar dari tukang. Dari melihatnya. Bim cuma memasang kayu-kayu, kayu bekas dari rumah besar yang baru dibangun dan Bim beli murah, Bim gunakan untuk membangun lantai dua.
Beberapa kayu melintang dipasang di tembok. Beberapa berdiri di tengah rumah sebagai penguat. Lalu Bim memasang triplek, itu pun bukan triplek baru tapi triplek bekas hasil orang yang membangun.
Di lantai dua Tun bisa tidur dengan bebas tanpa perlu takut hujan datang. Lemari pakaian juga diletakkan di lantai dua. Tun bahkan memindahkan kompor ketika musim hujan ke lantai dua rumahnya.
Dari atas rumahnya Tun bisa lebih dekat melihat awan. Awan yang bergumpal. Tetangga yang sibuk membetulkan atap. Mengetok, memaku. Tetangga lain yang mengomel dan berkata bahwa ketokan dan pukulan martil itu membuat atap rumah mereka jadi bergeser dan rumah mereka menjadi bocor.
Dari atas rumahnya Tun bisa melihat kehidupan di gang sempit di bawahnya. Gang sempit yang hanya bisa dilewati satu kendaran bermotor saja. Yang setiap rumah berlomba-lomba menaruh kursi di pinggir jalan untuk teras rumah mereka dan duduk-duduk di waktu sore.
Dari atas rumahnya Tun bisa melihat seorang lelaki berdiri. Beberapa tetangga juga ikutan berdiri.
Tun sudah biasa, di tempat tinggalnya yang saling berdempetan, setiap orang ingin tahu urusan orang lain.
“Tun…,” seorang tetangga yang melihat Tun di atap rumahnya berteriak memanggil.
Awan itu semakin gelap saja. Tun memandang ke langit. Jika hujan itu turun maka kesenangannya akan terpenuhi tapi bila tidak turun maka kesenangan anak dan suaminya yang akan terpenuhi. Tun merasakan tubuhnya bergoyang. Mungkin awan yang didorong oleh Bim membuat angin bertiup cukup kencang.
“Tun…”
“Pergi, pergi…,” Tun berucap berulang-ulang. Semakin khusuk, semakin keras, semakin tidak peduli pada orang yang berteriak memanggil-manggil namanya. Ia merasakan goyangan semakin keras.
“Tun…!” tetangga di bawah masih berteriak, mereka berhamburan ke luar rumah.
“Pergi, pergi…”
“Tun…, gempa.!”.
**