Chapter Book di Room to Read #part two

Mungkin ada yang bertanya, apa bedanya Room to Read kali ini?
Room to Read kali ini khusus untuk para alumni. Kalau yang Room to Read reguler, umum bisa ikut.
Room to Read kali ini, diambil 20 peserta. Peserta yang terpilih dari alumni RtR, Unicef juga Puskurbuk. Karena kali ini RtR bekerja sama dengan Unicef dan Puskurbuk Kemendikbud.
Room to Read kali ini kita fokus menyelesaikan satu naskah kita, yang kita kirimkan. Kalau Room to Read yang reguler, kita menulis 3 naskah. Baru nanti dipilih satu.
Jadi untuk saya, sangat menyenangkan.

Mentor kami kali ini adalah Deborah dari California.
Deborah biasa kami panggil Deb, benar-benar menjadi mentor dengan hati. Deb mendatangi satu-persatu meja. Deb duduk mendengarkan satu-persatu naskah peserta. Deb juga siap ketika ditanya pas saat jam makan atau coffee break.


Ini kami dari Merah Jambu bersama Deb.

Ada 4 hari workshop.
Deb menjelaskan. Mbak Eva juga.
Saya dapat tim keren. Ada mbak Irawati editor yang kalem. Saya diapit Bu Lilis, guru dari Papua dan Ida R Yulia. Mereka berdua ini kok bisa, ya, bikin saya ketawa terus? Ada Audi dari Salatiga juga.


Ini tim kami.
Bu Lilis ini usia di atas 50 tahun. Banyak bercerita tentang Papua. Dan ketika menceritakan naskahnya, beliau seperti sedang mendongeng. Yang lucu Bu Lilis ini selalu kebingungan saat kirim email. Apalagi ketika naskah dibuka. Lalu tulisan dilaptopnya terhapus sendiri. Kursos bergerak dan menghapus naskahnya sampai Bu Lilis heboh.

Malamnya setelah workshop kami makan pempek di kamar saya.. Ada Yosvita, Yulia Lukito, Lutfia, Ruri, juga Ida.
Besoknya kami harus selesaikan naskah dan presentasi.

Chapter Book Namanya

Workshop selama empat hari, kami membuat chapterbook.
Apa itu chapter book?
Chapter book itu lebih meningkat levelnya dari pictbook. Kalau pictbook fokus kepada ilustrasi, kalau chapter book, porsi naskah dan ilustrasi bisa seimbang.
Ada tingkatan levelnya juga.
Semakin tinggi levelnya, semakin banyak kalimat bisa digunakan.
Seperti Deb jelaskan, chapter book ini akan membuat pembaca anak merasa senang dan berkata. “Aku sudah baca buku ini bagian 3.” Misalnya seperti itu. Jadi ada kebanggaan tersendiri untuk mereka.
Untuk level tertinggi chapter book adalah level 5 dan isi bukunya 48 halaman.

Chapter book dimulai dari level 3.
Level 3 itu terdiri dari 2-5 kalimat per halaman
4-10 kata per kalimat
24 halaman
boleh diberi bab boleh juga tidak

Level 4
terdiri dari 4-8 kalimat per halaman
6-12 kata per kalimat
32 halaman
3-4 chapter pendek

Level 5
6-10 kalimat per halaman
20 kata per kalimat
48 halaman
4-6 chapter

Karena workshop ini bekerjasama dengan Puskurbuk Kemendikbud, maka kami dikawal oleh tim mereka. Eh, saya bertemu Bu Asih. Sudah kenal agak lama dengan Bu Asih waktu saya menjadi juri KPCI.

Susahkah menulisnya?
Untuk saya yang sudah riset dan senang kalimat panjang, tidak terlalu sulit. Apalagi ada Bu Lilis dan Ida, di samping kanan dan kiri saya. Jadi saya bisa ketawa terus.

Deb juga memberi banyak masukan.
Begadangkah?
Saya memang anti begadang. Jadi ketika editor menyuruh revisi, di saat workshop yang berlangsung dari jam 8.30 sampai jam 17.00, saya revisi naskah bisa sampai tiga kali. Sampai kamar saya bisa langsung tidur.
Workshopnya diselingi dua kali coffee break, ya. Jadi perut dan otak fresh.
Hujan, dingin, kabut, pemandangan bagus, membuat proses menulis lancar.
Oh ya kita diminta buat story board naskah kita. Kita layout tampilannya. MasyaAllah saya jadi merinding sendiri. Karena apa? Karena dari akhir tahun saya gigih belajar melayout naskah sendiri dan belajar cetak buku sendiri. Ternyata Allah gulirkan ke takdir berikutnya bernama Room to Read. Dan kami belajar melayout naskah.

Saking nyamannya workshop empat hari itu, jadi berat rasanya berpisah.

Kami dapat sertifikat dari Deb.

Juga foto bersama.

Malamnya saya, Bu Lilis, Ida, Dian, Lutfia cari oleh-oleh makanan. Kami naik taksi online. Dicancel beberapa kali karena lokasi kami di Lembang kejauhan menurut supir.
Di hari keempat semua naskah dikumpulkan, ya.
Satu-persatu peserta pulang. Dian sudah keluar kamar jam 4 pagi karena pesawatnya pagi.
Ida yang kamarnya berseberangan, mengajak berendam di jacuzzi. Teman sekamarnya juga sudah pulang. Ruri tadinya menolak, tapi akhirnya ikutan juga. Kami bertiga kemudian ada mbak Ira berendam juga.
Masih ada yoga. Mbak Sofie mengajak. Tapi saya pilih beres-beres koper. Karena janji ke stasiun barengan Ida.

Setelah itu masih ada PR, kah?
Masih ada revisi. Tapi insyaAllah revisi kecil saja.
Ini workshop yang sungguh menyenangkan.

Published by nurhaya3

Nurhayati Pujiastuti, owner Sanggar Mama Bilqis, Founder Penulis Tangguh, Kelas Merah Jambu dan Kelas Biru. Trainer Menulis.