Chapter Book di Room to Read #part one

Tretetet…Tiba-tiba saya deg-degan lagi. Ada undangan masuk di email. Dari Room to Read. Tidak seperti biasanya. Biasanya dibuka untuk umum. Kok ini ada undangan?
Saya cari tahu. Tidak mau ke geer-an juga. Siapalah saya di dunia menulis buku anak. Basic saya bukan penulis buku anak. Ide-ide buku anak yang saya tulis, seringnya pesannya juga terlalu berat.
Saya cross check ke beberapa teman di Merah Jambu. Oooh, mereka yang pernah ikut workshop Room to Read, memang mendapatkan undangan semua. Diminta menulis naskah 3 paragraf sesuai tema. Ya tiga paragraf saja. Nanti akan dipilih 20 peserta.

Ikut enggak, ya?
Mulai berpikir. Tanya anak, tanya suami. Pak suami selalu oke-oke saja. Anak juga sudah besar, sudah kelas 9.
Ikut enggak, ya. Berpikir lagi. Enggak kelamaan, sih, mikirnya. Soalnya sebulan belakangan juga, saya diminta revisi naskah untuk Mighty Girls di workshop Litara dengan Estee Lauder. Mbak Eva Nukman ngajarin saya. Jadi setiap ada perubahan, saya diberi tahu. Saya benar-benar belajar banyak di sini. Jadi ceritanya masih panas otak saya.
Okelah saya juga punya tema tentang permainan tradisional. Sudah riset dan sudah matang betul risetnya. Permainan langka itupun saya kuasai betul. Data dari berbagai sumber saya punya. Jadi besoknya naskah itu meluncur terkirim.
Santai.
Saya selalu percaya, bahwa takdir saya sudah Allah tentukan. Langkah-langkah menuju takdir itu, juga sudah Allah rancang. Jadi ini poin penting yang selalu saya tanamkan di hati. Sehingga tidak mau iri negatif dengan pencapaian orang lain.

Lalu?
Lalu semuanya berjalan.
Ada email beberapa hari kemudian di malam hari. Pada saat itu saya sedang chatting dengan Ruri Irawati dari Merah Jambu. Kita sedang menjalankan kelas di facebook. Ruri dan Dian Sukma dari Merah Jambu lolos. Alhamdulillah.

Saya tanya ke suami dan anak lagi.
Bersiap pesan katering untuk anak bila sekolah.
Kasih pesan ke anak juga. Soalnya ada satu hari suami juga ada launching majalah. Jadi anak tidak bisa dijemput. Anak gadis bilang, siap naik ojek online. Dan ternyata, pada hari saya berangkat, sekolahnya malah libur.
Saya pesan untuk beres-beres rumah. Cuci baju dan setrika plus jangan lupa siram tanaman saya. Jangan lupa untuk baca buku dan nulis juga.

Dan saya bersiap.
Melihat prosedur workshop yang dibagikan, saya merasa ini akan jadi workshop yang berbeda dari workshop Room to Read biasanya. Jadi agak tenang.
Tapi masalahnya, Ruri WA terus dan bilang deg-degan. Bilang mulaslah. Mungkin yang terbayang di benak Ruri, workshop Romm to Read sebelumnya. Dan mulas itu ternyata menular. Saya benar-benar sakit perut ketika akan berangkat.

Empat hari bukan waktu yang singkat. Total malah 6 hari, dari check in sampai check out. Saya berdoa, agar Allah pilihkan teman sekamar yang tepat.
Dan kejutan apa yang Allah berikan? Begitu sampai di penginapan SanGria Resort and Spa, di Lembang, Bandung, saya melihat list daftar teman sekamar. Saya satu kamar dengan murid Merah Jambu Dian Sukma Kusumawardhani. Manis betul, kan rancangan dari Allah?

Dian ini dari Palembang, dipesan Ruri untuk bawa pempek. Buat dimakan bersama. Dan iya, kami makan bersama dengan teman penulis yang lain.
Saya menunggu Dian datang.
Sampai tempat sudah asar. Cuaca buruk. Pesawat yang ditumpangi Dian berputar-putar di udara sampai setengah jam lamanya.
Tapi akhirnya kami bertemu di kamar. Dian itu ibu dua anak yang terlihat masih seperti anak kuliahan.

Bersambung…..

Published by nurhaya3

Nurhayati Pujiastuti, owner Sanggar Mama Bilqis, Founder Penulis Tangguh, Kelas Merah Jambu dan Kelas Biru. Trainer Menulis.