Novel Dewasa Seruni (Biarkan Waktu Bicara) # bagian dua

Tahukah Seruni?
Ibu menarik napas panjang. Memperhatikan Seruni. Tangan kecil itu lincah menggerakkan sapu. Daun-daun kering itu hampir seluruhnya masuk ke lubang. Tidak terlalu bersih. Tapi cukup lumayan untuk anak delapan tahun seumuran Seruni.
“Dia mimpi apa?” tanya Bapak mendekat pada Ibu.
Ibu menggeleng.
Ada rahasia yang memang Ibu rahasiakan. Sebuah rahasia yang juga memang harus Seruni rahasiakan. Mimpi-mimpi yang seperti nyata, yang awalnya tidak ia mengerti. Mimpi-mimpi buruk Seruni yang membuat air matanya mengalir deras membasahi pipinya, dan membuat Seruni memeluknya erat.
Satu persatu mimpi itu diurai. Dan uraian itu seperti sebuah benang, yang kembali digulung utuh.
Setiap mimpi buruk yang diurai berubah menjadi nyata. Kejadian demi kejadian.
Awan gelap yang datang, yang Seruni katakan telah masuk ke rumah lalu membuat hentakan keras yang terasa di perutnya, adalah sebuah pertanda kehancuran untuk seorang bayi di rahimnya. Dua tahun yang lalu, calon bayinya itu ke luar, semenit setelah Seruni bercerita.
Teriakan Seruni beberapa bulan yang lalu, pernah membuat dirinya juga membatalkan niat untuk mengikuti ajakan tetangganya ke pasar, karena Seruni tidak menginginkannya, adalah sebuah kenyataan yang tinggal menunggu waktu.
Setelah Seruni bercerita, terjadilah apa yang tidak diharapkan. Sebuah berita kematian Bulik Sum yang tertabrak bus antar kota.




Ibu menarik napas panjang.
“Seruni mimpi apa?” Bapak masih mendesak.
Ibu menggeleng. “Memangnya Seruni suka mimpi apa?” tanyanya dengan satu tangannya mengusap wajahnya.
Pada saat ia mengandung Seruni, ribuan jarum seperti menusuk ke ulu hatinya. Lintasan api terbang terlihat di atas rumah, membuatnya menggigil karena demam. Lalu ia memuntahkan benda-benda yang tidak ia pahami, kenapa bisa berada di dalam tubuhnya? Benda-benda itu berupa gumpalan rambut, beberapa buah paku berkarat, yang membuat ia seperti hilang kesadaran.
Seminggu sebelumnya seorang perempuan telah datang padanya. Tanpa kata-kata, hanya sebuah tamparan di pipinya. Perempuan lain di belakang perempuan yang datang itu, memandangnya sepertinya ia adalah barang menjijikkan. Lalu perempuan yang mungkin sebayanya itu bicara, bahwa bapaknya telah meninggalkan rumah karenanya. Bapaknya jadi lelaki tak bertanggung jawab.
Bapak mereka. Seorang lelaki matang yang jiwanya tetap muda. Ia tidak pernah mengukur berapa jarak umur mereka. Yang ia rasakan, rasa nyaman berada di sampingnya. Lelaki itu, Bapak Seruni yang sudah menjadi suaminya selama bertahun-tahun, yang tidak pernah berkata tentang masa lalu, yang juga tidak pernah bicara tentang perempuan lain sebelum dirinya.
Ketika menjelang Seruni lahir, dirinya pingsan bahkan ketika dukun beranak memintanya untuk sekali lagi mengejan, karena bayinya sudah separuh ke luar di bagian kepala, ia tidak mendengar. Begitu terbangun, ia melihat orang di sekelilingnya menangis. Lalu satu ejanan membuat bayi yang separuh ke luar itu, lahir sempurna dengan tubuh hampir saja membiru.




Seruni bisa merasa apa yang tidak dirasakan orang lain. Seruni seperti sebuah perisai untuknya. Seruni melindunginya dari banyak hal. Bahkan bencana-bencana yang tidak ia ketahui.
Suaminya tidak perlu tahu, bahwa menitis sesuatu yang tidak akan dipahaminya ke tubuh Seruni. Mungkin karena beberapa buah susuk masih melekat di tubuhnya. Susuk dari seorang dukun, ketika ia masih menjadi sinden untuk pertunjukkan wayang kulit. Susuk yang tidak pernah ia buang, karena merasa segala makanan yang dipantang agar susuk itu ke luar, sudah ia makan.
Ibu mengaduk-aduk gelas berisi kopi. Adukan kencang dan perlahan berhenti, seperti berhentinya putaran masa lalu di benaknya. Ia tahu suaminya memandanginya.
Seruni sekarang sudah berada dekat lubang sampah. Berteriak kegirangan ketika api mulai menyala membakar daun-daun kering. Pasti Seruni menggunakan lebih banyak minyak tanah, yang diletakkan di dalam botol, tidak jauh dari lubang pembakaran sampah.
Lelaki yang dipanggilnya Bapak adalah lelaki yang membuatnya berkali-kali harus menuju rumah seorang pintar. Ia ingin tahu seperti apa nasib pernikahannya kelak. Lelaki itu yang jatuh cinta padanya, mengejar cintanya, lalu ingin menikah dengannya.
Lelaki dengan tiga anak yang telah dewasa dan lelaki itu masih diharapkan oleh istri resminya. Tapi sungguh, ia tidak pernah tahu sebelumnya.
Siapa yang berharap akan datangnya cinta? Dirinya hanya perempuan desa yang ke luar rumah sebatas pasar. Menjadi sinden itu juga bukan maunya, tetapi ajakan tetangganya yang tahu suaranya merdu. Setelah itu hidupnya berubah tapi tidak lama. Sejak ia memutuskan untuk menikah dengan seorang lelaki yang benar-benar membuatnya jatuh cinta.
Sebuah pertemuan di pasar. Di sebuah warung jamu. Pertemuan pertama itu adalah, ketika gelas jamu yang diberikan penjual jamu untuknya, menyenggol gelas lelaki itu. Lalu lelaki itu tersenyum. Dan sentuhan tidak sengaja itu membuatnya tidak bisa tidur.
Namanya Wikno.
Sungguh ia kasmaran. Terus terbayang-bayang. Bayangan itu membuat pertemuan bertambah. Dari warung jamu hingga ke pertemuan selanjutnya di tempat lain.
“Semoga Seruni tidak mimpi buruk….”
Ia sedikit terkejut. Lalu mengangguk.
Semoga memang Seruni tidak pernah mimpi buruk. Mimpi buruk yang kadang menakutkannya.
Seruni akan melindungi dirinya sendiri kelak. Ia percaya itu. Begitu juga yang dikatakan Mbah Karni, dukun beranaknya sembari memercikkan bunga dan air di atas perutnya.
Lalu meletakkan Seruni di atas tampah, mendoakan dengan menyemburkan air.
Ibu mengembuskan napasnya. Berat terdengar.
Seruni mungkin tidak pernah tahu. Keistimewaan yang dimilikinya, tidak perlu diungkapkan pada siapa pun.
**




“Kamu main apa?”
Ketika siang, Seruni memandangi temannya. Temannya sedang bermain karet berdua. Teman-temannya sering bermain tanpa pernah mengajak dirinya.
Seruni sejak tadi menggambar saja. Ia suka menggambar. Menggambar di tanah dengan menggunakan ranting.
“Kamu gambar apa?”
“Aku gambar Ibu sama aku.”
Seorang anak berambut keriting mendekatinya. “Bapak kamu tidak ada? Kenapa di gambar itu cuma ada Ibu sama kamu?”
Kening Seruni berkerut, hingga satu anak lagi yang rambutnya panjang dan dikepang mendekat pada Seruni..
“Gambar Bapak kamu, dong…”
Seruni menggeleng. Wajah Seruni tiba-tiba menjadi pucat.
**
Mereka makan bersama. Bapak dan Ibu.
Seruni paling suka duduk di pangkuan Bapak. Lalu biasanya Ibu akan menggelengkan kepala, dan meminta Seruni duduk sendiri.
“Bapak…, aku punya lagu baru…,” ujar Seruni. Seminggu yang lalu Bapak memberikan radio kecil untuknya. Dan setiap malam sebelum tidur, Seruni memutar-mutar gelombang radio itu, lalu berhenti pada gelombang yang memutarkan nyanyian. Dan setelah itu, ia akan tertidur hingga radio tidak lagi berbunyi.
Sebelumnya Ibu biasa tidur di sampingnya sambil menyanyi. Suara Ibu bagus sampai terbawa mimpi oleh Seruni.
“Sssst…,” Ibu menggeleng. Menuang air putih di gelas yang masih kosong di hadapan Seruni.
“Bapak tidak pergi, kan?” tanya Seruni. Melahap sayur kangkung yang Ibu buat.
Bapak menggeleng.
Di luar awan gelap hadir. Angin bertiup cukup kencang.
Pada saat musim hujan seperti ini, Bapak biasanya akan pergi. Lalu kembali ketika hujan tidak lagi hadir. Sehari, dua hari, sampai seminggu, Bapak akan tinggal bersama Seruni dan Ibu.
“Bapak tidak pergi, kan?” Seruni bertanya lagi. Memandang bapaknya lekat-lekat, seolah ingin menangkap wajah bapaknya, dan menyimpannya dalam hatinya.
Bapak menggeleng lagi. “Memangnya kenapa?”
“Aku mau Bapak….,” Seruni menarik tangan Bapak. Menunjuk ke langit. “Aku mau Bapak ajarkan aku main layangan….. Aku mau Bapak dengarkan aku bernyanyi…”
“Ssst…..” Ibu menggeleng lagi. “Bapak di sini saja. Tidak ke mana-mana.”
Seruni cemberut.
Melihat gadis kecilnya cemberut, lelaki yang disebut Bapak itu, akhirnya mengangguk. Ia berdiri dari duduknya.
Mereka sekarang berada di halaman terbuka. Mendung semakin tebal. Tidak lama kemudian hujan turun dengan deras.
“Masuk, Runi….,” ujar Ibu memanggil.
Tetapi Seruni menggeleng. “Aku mandi hujan sama Bapak.”
Entah kenapa lelaki yang dipanggil Bapak itu ikut mengangguk, mengiyakan permintaan Seruni.
“Hujan turun….,” lalu mulut kecil Seruni mulai terbuka. Ia bernyanyi lebih keras dari hujan yang turun semakin deras.
**




Pada saat hujan turun deras sekali, akhirnya Bapak pergi. Bapak harus pergi setiap kali Seruni tidak ingin Bapak pergi. Ibu memeluk Seruni erat-erat.
Bapak memang harus pergi dan Seruni tidak pernah tahu juga tidak perlu tahu. Bapak harus mendatangi istri pertamanya. Berbagi hari berbagi waktu, itu kesepakatan yang memang sudah Ibu setujui, sejak perempuan dan anaknya itu datang.
Suaminya bukan miliknya utuh, dan hal itu tidak perlu diketahui oleh Seruni.
“Aku bilang, Bapak jangan pergi….” Seruni menangis.
Mereka nanti hanya akan tinggal berdua. Ibu dan Seruni. Sebab Bapak kalau pulang lama baru kembali.
“Bapak mau cari kerja….,” ujar Ibu. “Kalau Bapak tidak kerja, kamu tidak bisa beli mainan.”
“Ibu tidak bisa cari uang?”
Ibu menggeleng. Berkali-kali.
Seruni memperhatikan.
Baju batik yang dikenakan Bapak tidak sempurna. Bagian bawah tidak sama rata. Ibu lalu mengatakan bahwa Bapak salah mengancingkan baju. Satu kancing terlepas, ketika Bapak memindahkan. Lalu Ibu menggantinya dengan peniti, yang Ibu ambil dari baju Ibu.
Pada bayangan pohon jambu air, terlihat jelas bayangan lain. Seruni memperhatikan lalu menunduk dalam-dalam.
Bapak tersenyum. Menepuk pipi Seruni lalu memandanginya.
“Ada yang salah?”
Bapak selalu bertanya seperti itu sejak Seruni kecil. Bapak selalu bertanya setiap akan pergi, apakah baju yang dipakai Bapak cocok warnanya? Apakah sandal yang Bapak pakai bagus? Apakah di depan sana nanti ada kerikil, yang akan membuat Bapak jatuh? Atau apakah Seruni bermimpi buruk yang akan membuat Bapak celaka?
Biasanya Ibu akan melotot lalu berkata, bahwa mimpi-mimpi Seruni tidak boleh dipercaya.
“Bapak cepat pulang, ya?”
Bapak mengangguk.
Ada yang salah pada dekik di kedua pipi Bapak. Biasanya setiap kali Bapak tersenyum, lubang di pipi itu terlihat jelas. Seruni tidak memiliki yang seperti itu, meskipun ia ingin sekali. Sekarang lubang itu tidak Seruni lihat.
Seruni juga melihat,ada yang salah dengan minyak rambut yang membuat rambut ikal Bapak jadi tersisir begitu rapi. Ada yang salah pada kaos kaki berwarna hitam yang terbalik hingga beberapa kali, dan Ibu terpaksa menunduk untuk memakaikan kaos kaki itu.
“Bapak mau ke mana?” kali ini Seruni menggelendot manja.
“Mau pergi.”
Seruni ingat, burung gagak yang kemarin terbang di dekat pohon jambu. Ibu bilang Seruni bermimpi. Seruni ingat tiba-tiba awan gelap datang, tetapi mendung itu hanya menggelayuti di atas atap rumah mereka.
“Bapak jangan pergi….”
“Bapak nanti kembali…,” ujar Ibu.
“Tapi Bapak…”
“Ssst…,” Bapak menepuk pipi Seruni. Memotong kalimat Seruni. Sekuntum melati yang baru mekar Bapak ambil dari halaman, lalu Bapak selipkan di rambut Seruni.
“Bapak pergi lama?”
Bapak mengangguk. Memeluk Seruni lama. Lama sekali.
Lalu Bapak melangkah pergi. Mengeluarkan motornya. Meninggalkan Seruni.
**

Published by nurhaya3

Nurhayati Pujiastuti, owner Sanggar Mama Bilqis, Founder Penulis Tangguh, Kelas Merah Jambu dan Kelas Biru. Trainer Menulis.