Novel Anak A Mother for Limi #bagian tiga

Bagian Tiga
Rahasia Fey

Fey membawa tentengan ke dalam kelas. Fey harus memberitahu teman yang lain, bahwa ia bisa membuat kue juga. Jadi teman yang lain bisa membeli kue darinya bukan cuma dari Fatih.
Wajah Fey cemberut.
Fatih itu temannya ketika SD. Tapi dari dulu sudah menyebalkan. Anaknya tidak banyak bicara. Kalau ditanya cuma diam.
Pernah waktu kelas enam, Fatih menumpahkan air minum dan Fey terpeleset. Fatih tidak minta maaf. Cuma ambil pel dan bilang kepada guru kalau tempat air minumnya bocor. Jadi tidak sengaja.
“Kelihatannnya kuenya enak.”
Fey membuka tutup makanannya. Anjani suka sekali dengan kue yang dibawa Fatih dan dijual di kantin. Setiap hari Anjani beli.
“Promosi. Gratis untuk hari ini.”
“Ah, gratis?” Kali ini ada Hendro yang berbadan besar dan suaranya besar langsung mendekat.
“Satuuu,” Fey melotot waktu melihat Hendro mau mengambil dua. “Satu!”
Hendro tertawa. Datang lagi teman yang lain, yang lain dan yang lain.
“Wuiiiih, enaaaak!” Ada suara di ujung sana. “Tapi kok rasanya asiiin.”
Hah? Fey kaget. Kali ini matanya memandang Anjani. “Asin betul?”



“Hmmm, ada manisnya, sih, Fey. Tapi asinnya lebih terasa. Jangan-jangan kamu masukin garam kebanyakan.”
Wajah Fey memerah. Ia menunduk tidak berani memandang wajah teman-temannya yang tadi mengambil kue.
“Enaak,” Hendro tersenyum. “Tapi besok-besok jangan pakai air laut, yaaa.”
Huh. Fey sebal.
Fey juga malu. Apalagi tadi Fey lihat ada yang ngobrol sama Fatih dan menunjukkan kue dari Fey. Trus Fatih cuma melirik gitu. Menyebalkan.

**
Fatih, anak laki-laki tinggi beralis mata tebal itu mendekati ibu kantin.
“Bawa kue yang banyak lagi,” kata ibu kantin yang rambutnya dikucir satu. Senyumnya lebar.
“Oke, Boss,” kata Fatih.
“Ssssst…” ibu kantin yang bertubuh gemuk itu menggerakkan tangannya. “Sini. Kamu udah punya pacar.”
Wajah Fatih memerah.
“Ibu punya saudara. Tuuuh,” ibu kantin menunjuk anak remaja berambut sebahu dan memakai poni, yang sedang duduk di dalam ruangan kecil bu kantin.
Wajah Fatih memerah. Untung saja bel berbunyi hingga ia langsung berlari.



**
Fey, gadis remaja berkucir satu itu berjalan pelan. Sepatu ketsnya berwarna biru. Ada sepeda yang diletakkan tidak jauh dari tempatnya. Kue yang dibawanya kata teman-temannya asin. Huh, ini pasti gara-gara Ayah tadi suruh Fey kasih garam lebih banyak. Padahal di resep Bunda disuruh kasih garam sedikiiit saja untuk penguat rasa.
Yang lebih menyebalkan, kata teman-teman lebih enak kue yang dijual Fatih.
Wajah Fey memerah membayangkan Fatih. Fey suka memandangnya. Meski kadang sebal dengan gaya Fatih yang sok cuek. Fey suka melihat setiap kali anak laki-laki tinggi itu membawa kue, lalu menjualnya pada teman-teman di kelas kalau ada yang malas pergi ke kantin. Ada kue sus isi telur puyuh. Ada brownies keju. Tapi Fey tidak berani untuk membelinya.
Fey menarik napas panjang.
Padahal dulu mereka pernah satu sekolah. Pernah satu kelas juga di kelas enam.
Fatih namanya.
Fey mengusap wajahnya.
Tidak boleh naksir-naksiran, begitu kata Ayah waktu curiga Fey masuk dapur. Ayah bilang ada sesuatu yang aneh, yang bikin Fey rajin membaca buku resep masakan koleksi Bunda di perpustakaan.
“Sekolah yang pintar,” Ayah melotot waktu bicara itu.
“Rajin, Ayaaah,” Fey menjawab dengan mengangkat jari tengah dan telunjuknya bersamaan. “Swear…”
“Husssh. Dilarang bersumpah.”
“Habis, Ayah, siiiih…,” Fey tersenyum sendiri. Senyumnya menghilang ketika mendengar suara memanggilnya.
“Fey!”
Fey menoleh. Saskia ternyata melotot ke arahanya. Saskia teman baiknya sejak SD. Hanya dengan Saskia, Fey berani cerita.



“Kamu tahu…”
Saskia menarik napas. Mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya. “Aku tahu rahasia baru soal Fatih.”
Fey menuju sepedanya. Kali ini ia sudah ada di atas sepedanya.
“Fatih itu seleranya anak perempuan yang pintar ngaji,” ujar Saskia. “Bukan cuma pintar ngaji, sih. Tapi juga bisa hafalan Al Qur’an. Hafidzah, Fey.”
Sudah mendung. Rambut Fey yang sebahu diterbangkan angin.
“Tadi, sih, Fey, waktu di kantin aku dengar ada yang ngomong begitu. Fatih itu…”
“Gerimis,” ujar Fey. “Ayo….”
Saskia naik ke boncengan. “Ngebut, Feeeey.”
Hujan turun semakin deras. Fey mengayuh sepedanya kuat-kuat. Tapi sepeda itu mulai pelan dikayuh Fey ketika sampai di depan sebuah rumah dengan pintu gerbang berwarna hijau. Ada banyak pohon gantung di halaman rumah itu.
“Iiiih, Fatih belum sampai. Pasti dia ke toko kue dulu bantuin ibunya, Fey…,” Saskia berbisik.
“Aku cuma mau beli bakso di situ, kok…,” ujar Fey membelokkan sepedanya menuju tukang bakso. Tapi Fey kecewa tukang bakso bilang habis.
“Pulang aja, Fey,” ujar Saskia. “Bajuku basah, nih.
Baju Fey juga basah. Rambutnya sudah basah juga, membuat ia seperti kucing kecebur got.
“Ngebut, ya, Feeey.”
Iya, Fey akan ngebut.
Fey ngebut. Berhenti di depan rumah Saskia.
“Masuk dulu, bajumu basah,” kata uminya Saskia.
Tapi Fey menggeleng. “Aku pulang dulu…..,” ujarnya lalu mengayuh sepedanya.
**
Sampai rumah Fey langsung ke dalam kamarnya. Brownies asin tadi sudah habis. Biar teman-temannya bilang asin, tapi ternyata habis juga. Di lemari masih ada bahan pembuat brownies. Fey mau mencoba lagi.
Mungkin Fey akan mencontoh brownies milik Fatih yang ditunjukkan Ira tadi di sekolah. Hum, coklatnya terasa wangi. Menteganya juga terasa harum. Mungkin ini coklat mahal bukan coklat seperti yang Fey pakai. Coklat minuman sachetan seharga dua ribu rupiah.
Fey mulai memelototi telepon genggamnya. Brownies dengan taburan keju yang panjang. Fey memandangi akun instagramnya. Cara membuat brownis bisa ia dapatkan di resep yang pernah Bunda simpan. Tapi kue dengan olesan lapisan coklat di atasnya dan taburan keju yang membuat Fey tertarik, bisa Fey lihat di instagram.
Fey masih punya sisa kejunya. Nanti keju panjang itu akan Fey taruh di tangan kirinya. Lalu parutan keju ia pegang di tangan kanan. Terus akan ia tarik keju itu. Fey akan menghias keju itu nanti.
Sekarang Fey sudah sampai di rumah. Fey langsung masuk kamar mandi.
Di dalam kamarnya, Fey memikirkan. Kue brownies keju. Yang mirip dengan yang Fey lihat. Fey langsung mengambil telepon genggamnya. Membuka instagram. Mencari nama seseorang. Lalu matanya memandangi. Seorang itu sedang memakan brownies di sebelah ibunya.
Ibunya Fatih suka memposting resep kue. Kadang membuat video cara membuatnya lalu diupload di akun instagramnya.
Fay suka melihat wajah ibunya Fatih. Seperti Bunda. Suka tersenyum. Saskia bilang ibunya Fatih yang memasukkan Fatih ke sekolah untuk penghafal Quran setiap habis pulang sekolah.
Fey memandangi brownies itu. Cara membuatnya. Fey ingin meniru resepnya. Semoga brownies itu tidak asin seperti brownies yang sudah Fey buat.
**

Published by nurhaya3

Nurhayati Pujiastuti, owner Sanggar Mama Bilqis, Founder Penulis Tangguh, Kelas Merah Jambu dan Kelas Biru. Trainer Menulis.