Novel Dewasa Seruni (Biarkan Waktu Bicara) #bagian pertama

1
Seruni

Masih gelap, ketika rumah kecil itu dipenuhi dengan suara teriakan. Rumah kecil sederhana dengan halaman luas, diteduhi dengan pohon mangga, dan pohon jati. Teriakan itu ke luar dari mulut Seruni, gadis kecil dengan rambut ikal dan kulit kecoklatan, yang tiba-tiba bangun dari tidurnya. Bukan, Seruni bukan sedang menyanyi, seperti yang biasa Seruni lakukan dengan suaranya yang jernih dan merdu.
Teriakan itu keluar dari mulut Seruni, yang dibarengi dengan lompatan dari tempat tidurnya, lalu ia berlari dari satu tempat ke tempat lain di rumah kecil itu.
Di bagian belakang rumah itu terdapat dapur yang sudah gelap, karena setiap kali malam hari dapur itu akan dimatikan lampunya. Dapur beralas tanah dengan tungku berisi kayu bakar.
Dapur itu kini terbuka, karena tangan kecil Seruni yang membuka kuncinya. Kunci dari kayu yang dipalangkan melintang ke pintu, lalu diletakkan pada kayu berbentuk lubang, yang terdapat di kiri kanan bingkai pintu.
Tidak ada siapa-siapa di dapur. Lampu tadi Seruni nyalakan, kemudian kembali dimatikan. Lampu bohlam lima watt itu tergantung di rangka atap yang separuh terbuka, diikat dengan tali rafia. Angin yang cukup kencang bertiup, membuat lampu itu bergerak seperti menari.



Dari arah dapur kali ini Seruni berlari menuju satu kamar yang sudah terbuka lebar. Lalu menuju lemari untuk mencari sesuatu. Lemari yang terletak tepat di ruang tamu. Ruang tamu kecil yang di bagian sebelah kiri, terdapat dua kamar dengan pintu terbuat dari tirai.
Ada air mata yang ke luar dari mata Seruni. “Bapak….” Terdengar suaranya di tengah isak tangisnya. Cukup lama.
Setelah beberapa lama, ada suara lain yang membuat lampu ruang tamu menyala. Lalu pintu dapur terbuka dan lampu di dapur dinyalakan.
Seruni mendengar suara di dapur. Udara yang masuk ke ruang tamu, udara bercampur asap dari dapur.
Seruni sekarang kembali berlari menuju dapur. Di dapur didapati kompor dari kayu bakar menyala. Ada panci berisi air panas yang sedang dimasak Ibu.
“Bapak…!” Seruni masih berteriak.
Tidak ada Ibu. Tidak ada Bapak. Tetapi Seruni mendengar suara air di kamar mandi. Suara orang sedang mandi. Pintu kamar mandi itu tertutup. Seruni kali ini menggedor-gedornya.
Halaman rumah Seruni masih gelap. Lampu jalan yang Bapak pasang di dahan pohon mangga masih menyala.
“Bapak….,” kali ini tangisnya bertambah kencang. “Apakah Bapak di dalam…?” ia bertanya.
Tetapi tetap tidak ada suara yang menyahut dari dalam kamar mandi. Hingga akhirnya Seruni berjongkok di depan pintu kamar mandi.
Tiba-tiba sebuah sosok berdiri di dekatnya, menepuk bahunya.
“Ada apa?” tanya seorang laki-laki tinggi kurus, yang wajahnya mirip dengan Seruni.
“Bapak…,” kali ini Seruni langsung menubruknya. Memeluknya kuat-kuat.
“Kamu kenapa?”



Di dapur ada meja makan kecil terbuat dari papan yang belum diamplas. Juga rak dari kayu yang penuh dengan piring dan gelas.
Meja makan itu ada di lantai, letaknya agak tinggi dari lantai dapur dari tanah. Lantai yang lebih tinggi itu bukan dari tanah, tapi sudah beralaskan semen.
Bapak dan Ibu ada di sana. Duduk di depan meja makan. Ada teh untuk Seruni dan Ibu. Ada kopi untuk Bapak.
“Kamu kenapa?” tanya Ibu memandang pada Seruni. “Masih gelap. Kamu membuat Ibu dan Bapak kaget.”
Seruni memandang pada Bapak dan Ibu. Lalu menggeleng. Ibu sudah berdandan rapi. Ibu selalu cantik dengan rambutnya yang agak keriting yang sekarang dibiarkan tidak dikucir.
Bapak meneguk kopinya. Kopi itu ampasnya enak. Seruni selalu suka sisa kopi yang diminum Bapak.
Kali ini mata kecil Seruni memandangi Bapak. Kelopak matanya berkedip-kedip. Mata Bapak besar dengan bulu mata yang lurus. Sama seperti bulu mata Seruni.
“Kamu mimpi apa, Nduk?”
Kali ini Seruni meneguk tehnya. Ia menggeleng untuk menjawab pertanyaan Bapak tadi.
Tidak. Ibu pernah bilang untuk mimpi buruk yang dialaminya, Seruni tidak boleh bilang siapa pun. Apalagi mimpi yang jelas dan seperti nyata. Seruni masih ingat lubang itu. Lubang di pinggir bukit. Kening Seruni tiba-tiba berkerut lalu kepalanya menggeleng berkali-kali. Hampir saja ia berteriak, ketika ingatan akan mimpinya sudah menguasainya. Ia melihat Bapak jatuh ke jurang.
“Aku takut Bapak pergi,” kata Seruni dengan suara pelan.
“Hush…,” Bapak menepuk pipi Seruni. Menyodorkan kopi yang baru saja diminumnya.
“Kamu mimpi Bapak pergi?” tanya Ibu pada Seruni.
Seruni cepat menggeleng. Meminum kopi dari gelas yang sekarang ada di hadapannya. Duduknya berpindah.
“Bapak…,” Seruni naik ke atas pangkuan bapaknya. Ia sudah tinggi sekarang. “Bapak jangan pergi….”
“Kamu mimpi Bapak pergi?” tanya lelaki yang dipanggil Bapak itu, memandangi tepat pada manik mata Seruni.
Pintu dapur yang menghadap ke halaman samping sudah terbuka. Pintu dapur itu berhadapan dengan tiang jemuran. Matahari sudah muncul.
Halaman rumah yang luas basah. Daun-daun yang menguning dan kering berserakan. Sebentar lagi Ibu akan mengambil sapu lalu menyapu daun-daun itu, Ibu akan masuk ke dalam lubang seperti got besar di pinggir halaman. Setelah itu Ibu akan membakar daun-daun yang sudah Ibu masukkan ke dalam lubang.
“Jadi kamu tidak mimpi apa-apa?” tanya Bapak kali ini berdiri dari duduknya setelah sebelumnya memindahkan tubuh Seruni.
Seruni menggeleng.
Tadi langit masih gelap, sekarang sudah terang. Ibu sudah ada di halaman mengambil sapu. Seruni menuju samping rumah. Ada sapu untuknya. Sapu yang Bapak buatkan.
“Yen arep crito karo sopo….”*
Itu suara Ibu. Ibu sedang menyapu sambil menyanyi. Seruni lihat Bapak tersenyum melihat Ibu.
“Oh soyo suwe kok ngene rasane….”**

*Jika ingin cerita sama siapa?
** kenapa semakin lama seperti ini rasanya?

**

Di samping Bapak, Seruni sekarang berada. Tingginya baru seukuran pinggang bapaknya.
“Bapak jadi pergi?”
Bapak menganggukkan kepalanya.
“Bapak ada urusan sampai lama?”
Bapak tersenyum mengangguk lagi. Tidak ada tahi lalat di sekitar dagu atau bibir Seruni sebagai pertanda suka bicara. Tapi anak itu ceriwis sekali.
“Kalau aku sapu sampai bersih, Bapak jangan pergi, ya?”
Bapak tertawa, memasukkan singkong rebus ke dalam mulutnya.
Ibu masih menyanyi.
Pagi ini suara Ibu memecah kesunyian kampung, bersahutan dengan ayam yang terlambat berkokok.
**

Published by nurhaya3

Nurhayati Pujiastuti, owner Sanggar Mama Bilqis, Founder Penulis Tangguh, Kelas Merah Jambu dan Kelas Biru. Trainer Menulis.