Selembar Kertas dari Buku Harian Anak

Dia lagi…dia lagi…kenapa harus dia terus yang diperhatiin.
Awas ya, kalau sampai pas lulus nanti nggak bangga sama aku.

Pagi itu, mendadak hati saya menjadi suram hanya gara-gara secarik kertas. Dengan tulisan yang tidak terlalu jelas, tapi cukup mudah dipahami.
Saya termenung cukup lama, bergumam dalam hati, “iyakah?” Seperti menjawab tulisan di kertas itu.

Saya mencoba mengingat-ingat kembali yang sudah terjadi. Selama ini, saya merasa sudah menjadi ibu yang cukup adil. Memberi kasih sayang kepada mereka sesuai porsinya. Meskipun saat-saat membeli sesuatu, kadang mereka harus ada salah satu yang mengalah karena tidak memungkinkan membeli keduanya dalam waktu bersamaan.

Umurnya sekarang sudah 12 tahun, banyak hal yang dulu masih harus dibantu, sudah bisa dilakukannya secara mandiri.
Dan soal kebanggan?
Ah, rasa-rasanya saya sulit mengungkapkannya dengan kata-kata. Bagaimana tidak, dia seorang anak yang patuh, nurut, tak banyak minta ini itu. Bahkan bisa dibilang, dia anak yang mudah paham dengan situasi dan kondisi kami.

Memang selama ini, saya tidak pernah memajang fotonya di media sosial dan memberinya caption puji-pujian untuknya. Apakah karena itu akhirnya dia bilang bahwa saya tidak adil?
Padahal saya melakukan itu karena saya tidak ingin fotonya bertebaran di media sosial saya. Dikonsumsi banyak orang dan berdampak menimbulkan ‘ain.

Saya menaruh gagang sapu yang dari tadi saya pegang. Duduk termenung menatap lembaran buku diary yang dari tadi tadi masih ada di tangan.

“Bun, kakak nakal melototin aku!” Adeknya berteriak dari dalam kamar.
“Kakak…!” Teriakku balik.
“Adek tuh…ngeselin!” Kakaknya mulai membalas
“Adek…jangan ngeselin kakak!” Teriakku lagi.
“Jadi bunda belain siapa sih, kok dua-duanya diteriakin?” Kata adeknya.
“Bunda belain kalian berdua dong…” Kata saya lagi.
Mereka berdua diam, dan akhirnya kasak kusuk sendiri berdua.



Hari ini, kepala sekolah mengundang wali murid kelas enam untuk membahas tentang ujian kelulusan. Si kakak bentar lagi mau ujian nasional. Kepala sekolah berpesan bahwa, meskipun sudah besar, cobalah untuk memberi perhatian khusus pada anak-anak sebelum ujian berlangsung.

Bantuin nyiapin buku, bantuin nyiapin pensil, biar anak-anak merasa ada dukungan yang besar dari orang tua.
Sempatkanlah bertanya tentang apa-apa yang sedang mereka butuhkan. Begitu pesan kepala sekolah.

Menjadi seorang ibu yang sangat terpukul dengan tulisan di buku diary itu, saya bertekad kuat untuk memperbaikinya. Menaruh perhatian khusus untuk mereka berdua. Meski harus rela mundur dulu dari hiruk pikuk kelas emak-emak yang sedang diikuti. Ah, sedih rasanya. Tapi ya, sudahlah.

Saat akan tes ujian masuk beberapa waktu yang lalu, saya sebenernya ribet harus mengantarkan mereka berdua secara bersamaan. Karena kebetulan adeknya masuk SD dan kakaknya masuk SMP.

Adeknya saya antarkan dia sampai kelas. Kakaknya, yang tesnya juga masih satu gedung saya antarkan juga sampai di depan kelasnya.
Ada sesuatu hal aneh yang saya rasakan. Kenapa?
Karena kalau waktu itu saya tidak membaca diarynya, mungkin saya akan menyuruhnya pergi sendiri ke kelas tempatnya tes. Karena saya pikir dia sudah mengerti dan paham apa yang harus dia lakukan.

Setelah pulang dari tes itu, dia memandangi saya cukup lama.

“Harusnya bunda nunggu di kelas dedek aja tadi biar nggak Wira Wira” katanya.
“Ah, nggak apa-apa. Bunda seneng kok, kan bunda bisa ketemuan juga sama wali murid yang lain. Bunda udah lama nggak ketemu mereka lho…” Kataku.
Dia tersenyum.

Pagi itu, saya cukup bangga pada diri sendiri karena telah menunaikan “tugas negara” yang begitu rumit.
Beberapa hari kemudian, setelah hari tes itu, saya iseng pengen buka kembali diarynya. Dan anehnya, tulisan itu sudah menghilang entah kemana

Sulis sha, ibu rumah tangga yang suka menulis, pecinta buku dan blogger di BundaSha

Published by nurhaya3

Nurhayati Pujiastuti, owner Sanggar Mama Bilqis, Founder Penulis Tangguh, Kelas Merah Jambu dan Kelas Biru. Trainer Menulis.