Kisah Selembar Uang Kumal

“Pak, uang nya bolong. Ada yang lain?”
Pria paruh baya di depanku menggeleng. Dahinya berkerut menandakan kegusaran. Aku menghembuskan napas pelan lalu menyodorkan barang belanjaan beserta uang kembalian. Tidak lupa aku ucapkan terima kasih. Walaupun aku tahu, pria itu tidak akan membalas ucapan terima kasih dariku. Alih-alih membalas, pria itu biasanya buru-buru meraih belanjaannya lalu menaiki motor yang mesinnya tidak dimatikan selama dia berbelanja.

Aku menggabungkan uang dua puluh ribuan yang berlubang tadi dengan uang cacat yang lain.
“Makanya hati-hati! Periksa dulu ketika terima uang!” begitu nasihat suami. Tapi aku lebih sering kecolongan. Uang itu biasanya diberikan kepadaku diam-diam, terselip diantara uang yang lain yang masih bagus. Sebagian lagi diberikan terang-terangan oleh anak-anak yang menatapku takut-takut. Aku tidak tega menolak.

Aku pernah menjadikan uang itu sebagai kembalian. Berharap uang itu akan jauh berkelana. Tapi harapanku tak terkabul. Uang itu akan selalu kembali ke laciku. Aku maklum. Pada dasarnya semua orang ingin mendapatkan yang terbaik.

Ada yang mengganjal di hatiku sejak pria paruh baya itu berlalu. Separuh gusar menyoal uang robek, separuh lagi menyesal soal terima kasih yang tak berbalas. Ingatanku melayang, aku pernah berlaku seperti pria itu.



Waktu itu aku sedang mengantre di kasir sebuah mini market. Antrean cukup panjang karena saat itu tanggal muda. Giliranku tiba. Aku hendak meletakkan belanjaanku di meja kasir ketika seorang ibu mendahuluiku.
“Ini dulu Neng! Buru-buru.”
Mbak kasir pun mengambil belanjaan si ibu. Aku meradang.
“Mbak, saya duluan! Saya kan udah antre dari tadi!”
Mbak kasir memandang aku dan si ibu bergantian.
“Maaf, Bu. Ibu ini dulu ya? Belanjaannya cuma satu kok.”
Aku mendecak kesal.
“Terus kalau belanjaannya cuma satu bisa nyela antrean seenaknya gitu?”
Mbak kasir itu tersenyum tipis sambil terus melayani si ibu. Sementara itu aku memasang muka masam sampai kasir selesai menghitung belanjaanku. Aku segera berlalu tanpa mengindahkan ucapan terimakasih yang mbak kasir ucapkan.

Aku tersenyum kecut mengingat tingkahku yang terlalu arogan. Menyela antrean memang tidak bisa dibenarkan. Tapi seharusnya aku bisa memahami posisi mbak kasir. Seharusnya aku menghargai ucapan terimakasih dari Mbak kasir. Kalaupun aku enggan menjawab, setidaknya aku bisa mengangguk.

Mungkin ini yang bernama menuai. Perlakuan tidak menyenangkan yang aku terima bisa jadi adalah buah atas perlakuan tidak menyenangkan yang aku lakukan kepada orang lain, entah sengaja atau tidak. Seperti uang cacat yang datang dan pergi dari laciku. Sudah saatnya memutus perputaran itu. Karena pada dasarnya disengaja ataupun tidak, diperlakukan tidak baik itu rasanya sama. Sakit.

Aku memang tidak bisa mencegah uang cacat kembali masuk ke laciku. Tapi aku bisa membawanya ke bank sebagai penambah saldo tabungaku. Begitupun dengan perlakuan kurang baik itu. Aku tak perlu membiarkan emosi menguasaiku. Cukup mengadu kepada Allah dalam sujudku, berharap Allah sudi menukarnya dengan tambahan pahala untukku.

Retno Rahayuningsih, ibu rumah tangga dengan satu orang anak.
Wanita kelahiran Kulon Progo tahun 1988 ini sejak kecil suka membaca dan ingin bisa menulis

Published by nurhaya3

Nurhayati Pujiastuti, owner Sanggar Mama Bilqis, Founder Penulis Tangguh, Kelas Merah Jambu dan Kelas Biru. Trainer Menulis.