Kemarin dan Hari Ini

kembang api

Bahwa hari kemarin tiada lain dari
kenangan hari ini.
Dan hari depan merupakan
impian masa kini.

(Kahlil Gibran)

Apa yang terjadi kemarin bisa jadi tidak tersisa di hari ini. Apa yang menjadi luka di hari kemarin, bisa jadi tidak terasa apa-apa di hari ini. Waktu sebenarnya akan membuat masalah yang dilepaskan tidak lagi menjadi beban.
Tapi perkara waktu itu bukan perkara sederhana. Banyak waktu yang hilang dan tidak menghasilkan apa-apa. Waktu terbuang percuma. Luka tidak bisa sembuh, pelajaran hidup juga tidak bisa didapatkan.
Tahun baru juga soal waktu. Waktu di mana almanak berganti. Serentak berganti sama di semua belahan dunia. Dan yang sama itu artinya adalah sebuah pesta.
Pesta tahun baru.
Pesta untuk penjual terompet yang terompetnya laku. Pesta untuk penjual ikan dan jagung yang barang dagangannya diserbu pembeli karena di banyak tempat banyak yang menghabiskan waktu menutup tahun dengan acara bakar ikan dan jagung bersama. Pesta untuk pedagang petasan yang juga laku, sebab sebuah pesta selalu disatukan dengan kemeriahan. Dan di tahun baru kemeriahan itu adalah kemeriahan pesta kembang api juga petasan. Seolah-olah kembang api di langit malam itu sebagai sebuah harapan yang dilambungkan tinggi-tinggi, berwarna, menyala terang dan membuat banyak orang bahagia.
Hanya sayangnya akhir sebuah pesta kembang api adalah padamnya harapan. Di pagi hari, pada hari baru, yang terlihat adalah jalanan menjadi sunyi karena yang penikmat harapan di langit masih terlelap dalam mimpi panjangnya.

Tahun Baru yang Baru
Tahun baru itu apa?
Dulu pertanyaan itu tidak pernah mampir ke benak saya karena kemeriahan pesta di tahun baru belum seperti sekarang. Yang saya tahu, acara televisi bertambah jam tayangnya dengan ucapan selamat pergantian tahun dari satu propinsi ke propinsi lain yang memiliki perbadaan waktu. Sudah itu saja.
Yang jelas keesokan paginya saya melihat jalanan menjadi sepi. Teman-teman tidur sampai siang karena malamnya menonton pesta kembang api.
Esoknya lagi di tanggal 2 kehidupan kembali seperti semula. Yang biasa marah kembali marah, yang terbiasa tergesa-gesa juga tergesa-gesa, yang menjadi preman tetap menjadi preman dan yang menjadi baik tetap menjadi baik.
Lalu apa bedanya tahun yang kemarin dengan tahun yang baru?
Tahun baru yang lalu, dua tahun yang lalu, lima tahun yang lalu akan tetap sama, jika kita menjalaninya hanya sekedar putaran waktu. Bahkan detik kemarin dan hari ini sama. Kita masih sama-sama diberi waktu untuk bernapas.
Perubahan tahun akan menjadi beda bila ada sesuatu yang memang ingin kita tandai sebagai sebuah perbedaan.
Saya suka melihat tahun baru dengan sisi berbeda. Pencapaian kebijaksanaan harus jadi pijakan paling penting setiap tahunnya seiring dengan pertambahan usia.
Bertemu dengan seorang yang baru dan belajar seperti apa karakter orang lain adalah perjalanan mengawali tahun yang menyenangkan.
Dari siapa saja saya bisa belajar.
Sebut saja namanya Dini. Saya kenal dia sebagai gadis yang sesungguhnya tidak memiliki kemampuan untuk mengikuti kuliah. Tapi sebagai anak orang berpunya orangtua mengharuskannya.
Dini berpenampilan modis. Tapi Dini menjadi bahan tertawaan diam-diam teman-teman yang lain karena selalu tidak nyambung setiap diajak bicara. Dini cuma bisa memamerkan senyumnya saja.
Ketika ada anak-anak muda yang mendekatinya di kenal Dini di pintu masuk sebuah mall, Dini takluk. Teman-teman tidak bereaksi. Lalu cerita Dini adalah cerita kesedihan seorang perempuan yang berujung pada Dini yang hamil oleh lelaki yang tidak bertanggung jawab.
Setelah itu selesai?
Belum. Dini melahirkan dan kembali kuliah, kembali hanya senyum-senyum saja. Saya sendiri tidak lagi memantau Dini karena sudah lebih dulu lulus. Hanya saya mendapatkan banyak hal dari Dini.
Bahwa ketika kita menjadi lemah, terlihat lemah, maka orang-orang yang merasa kuat akan memanfaatkan. Kita boleh terlihat lemah di mata orang lain tapi jangan memiliki jiwa yang lemah. Tidak ada orang yang berani memanfaatkan ketika jiwa kita tidak lemah.
Tahun itu saya belajar dari Dini untuk tidak menjadi lemah.
Tahun lainnya saya belajar dari gadis-gadis muda nan cantik yang mau dijadikan simpanan di dalam rumah susun sederhana. Belajar juga tentang bagaimana kecintaan akan materi mengejar lewat gadis-gadis malam yang pekerjaan malam harinya diketahui oleh keluarganya. Mereka masih muda, seksi dan harusnya punya banyak mimpi untuk diraih menjadi kenyataan.
Tahun lainnya saya belajar banyak dari yang lain. Dan pelajaran dari tahun ketahun itu yang membuat saya menjadi kaya pemahaman.

Berubah atau Berhenti
Dulu, dulu sekali di belakang rumah saya ada bandara. Bandara berisi banyak pesawat dari mulai ukuran kecil sedang sampai besar itu membuat saya belajar banyak hal. Tentang sebuah perubahan.
Pesawat-pesawat tidak pernah berhenti total. Mereka istirahat untuk mengisi bahan bakar. Setelah itu mereka akan kembali terbang.
Ada yang menarik ketika pesawat itu akan kembali berjalan. Baling-balingnya akan berputar menciptakan hawa panas di sekelilingnya. Saya memaknai sebagai sebuah semangat yang menyebar dan mengenai orang-orang yang ada di sekelilingnya.
Pesawat tidak lantas terbang. Pesawat berputar mencari arah menuju landasan pacu. Sebelum akhirnya pelan tapi pasti mulai perlahan terbang dan melipat roda-roda kecilnya masuk ke dalam tubuhnya.
Perjalanan kita menuju suatu target juga seperti itu. Kita tidak harus lantas terbang. Kita berputar mencari posisi yang tepat. Posisi yang akan membuat kita bisa melaju cepat di landasan pacu mimpi kita.
Ada yang harus kita lipat seperti pesawat melipat rodanya. Kenangan, masa lalu harus kita lipat untuk bisa melesat lebih tinggi. Kenangan itu mengokohkan kita. Kenangan itu membuat kita berpijak pada bumi sebagai bentuk nyata kepribadian kita.
Yang harus kita bawa hingga menembus awan adalah harapan. Harapan yang dibungkus dengan keyakinan bahwa kelak kita akan kembali turun ke bumi sebagai pribadi yang lain.
Masa-masa istirahat adalah masa ketika pesawat kembali ke bumi. Kembali ke bandara.
Itu juga suatu masa yang saya maknai sebagai masa istirahat. Untuk kembali menjadi manusia yang membumi. Masa dimana saya harus intropeksi lagi tentang perjalanan yang harus dilanjutkan sesudah istirahat selesai.
Perjalanan masih panjang.
Selamat tahun baru.