Jeruk Nipis dan Mimpi Masa Tua Kami

“Kamu tau dari mana Allah akan memberikan pintu rizki?”

Aku menggeleng dengan malas. Suamiku sudah duduk didepanku. Mempermainkan novel yang sudah direbut dari tanganku.

““Barangsiapa ingin dibentangkan PINTU RIZKI untuknya dan dipanjangkan umurnya hendaknya ia menyambung SILATURAHMI.” [Hadits Riwayat Bukhari]

Aku tetap terdiam. Selama ini aku memang paling malas untuk keluar rumah, apa lagi untuk bergosip. Aku memilih istirahat atau menbaca novel jika sedang libur. Namun sifatku berkebalikan denga suami. Dia paling tidak bisa berdiam diri di rumah.
Hingga keributan kecil disore itu tak bisa dihindari. Aku masih enggan beranjak dari tempat dudukku untuk mengikutinya ketempat teman lama. Rasanya malas sekali untuk berkunjung. Tapi raut wajah suamiku mengharuskan aku untuk segera bangkit.

“Kita akan belajar membuka pintu rizku dari perkebunan,” ucapnya penuh semangat.

Sementara aku melangkah dengan malas-malasan.
“Kamu tau mas, satu kilonya bisa mencapai 10 ribu. Tapi terkadang harga juga bisa turun. Aku saja sampai kewalahan, ngga bisa ngasih semua orang,” ucap pak Satpam SMA ku dulu.
Ya, kami berkunjung ke tempat pak satpam. Kini kita menjadi teman. Padahal dulu waktu SMA kita tidak begitu akrab. Entah dari mana suamiku bisa akrab dengan beliau.

Tanpa semangat aku mendengarkan percakapan mereka. Sementara suamiku melarang untuk bermain handpone saat sedang bertemu dengan orang lain.



“Kamu nyangkong aja mas ditempatku, pohonnya sudah tua. Dari pada mati sia-sia,” ujar beliau pada suaimku.
Aku masih belum tau kemana arah pembicaraan mereka.
“Kita kebelakang rumah pak Indar,” ajak suamiku.
Aku masih diam, rasa malas masih mengikutiku.
“Ini dia pohonnya,”
Dengan terpaksa aku ikut menatap sebuah pohon jeruk nipis jawa yang berbuah lebat. Aku tetap diam, dalam hati takjub juga.
“Jeruk nipis jawa kalau dijual harganya bisa sampai 10 ribu. Besok aku akan menyetek pohon jeruknya,”
Setelah melihat pohon jeruk nipis membuatku ikut bersemangat. Alhamdulillah sedikit-sedikit kita sudah punya lahan yang belum diisi apa-apa.

Hari berganti hari, suamiku selalu semangat menyetek pohon jeruknya. Tanpa ragu-ragu kita membayar batang-batang jeruk yang sudah distek, walaupun resikonya banyak yang mati. Tapi tak jadi masalah. Karena saat memulai perjuangan pasti banyak rintangan.

Selama beberapa bulan tenyata setekan batang jeruk itu berakar. Semuanya langsung dipindah ke ladang. Ladang itu adalah tanah milik bu kadus, kita sudah yakin untuk menyewanya. Tapi bu kadus tidak mau, akhirnya kita sepakat untuk bagi hasil saja.
Sebanyak dua ratus batang stek jeruk nipis ditanam.
“Mas, kenapa tidak ditanam dikebun kita saja,” protesku pada suami.
“Kebun kita tidak ditanami jeruk ini. Besok kita ke Purworejo buat beli bibit jeruk lemon kalivornia dan lemon amerika,”

Aduhh masalah jeruk-jerukan aku belum begitu paham. Tapi kami memang berangkat ke Purworejo, kita belanja bibit jeruk disana. Hasilnya selain 300 batang jeruk lemon, kita juga memilih jeruk lainnya untuk ditaman disamping rumah.

Ada jerul red pamelo, jeruk sunkis, jeruk parijata, jeruk dakopon, jeruk purut, dan jeruk leter.
Pohon jeruk yang kami tanam ini akan dijadikan investasi masa tua. Karena kita percaya saat usia senja langkah gesit kita akan melemah. Dan tidak selamanya kita berdua akan bekerja di rumah sakit.

Dari sana aku teringat ucapan almarhum kakekku, “tanamlah semua yang ingin kamu tanam. Karena tanah yang kamu tanami berbagai pohon tak akan amblas. Simpanlah beberapa pohon untuk masa tuamu,”
Seperti mimpi. Doa itu kini terkabul. Kita sedang berjuang dipertanian jeruk. Kembali ke alam, karena alam adalah sahabat dihari tua.

Qyurota Ainiy. Nama pena dari Nurul Quroatun Ngaeni. Penikmat teh dengan sedikit gula jawa. Mencintai dunia menulis,semenjak berkenalan dengan cinta. Karena dari cinta akan ada banyak hal yang bisa diceritakan. Menulislah, karena menulis bisa menjadi teman saat sedihmu dan saat bahagiamu.
Fb : Qyurota Ainiy
Instagram : Qyurota Ainiy

Published by nurhaya3

Nurhayati Pujiastuti, owner Sanggar Mama Bilqis, Founder Penulis Tangguh, Kelas Merah Jambu dan Kelas Biru. Trainer Menulis.