Novel Anak A Mother for Limi #bagian dua

Bagian Dua
Tante Bri

“Limiiii, ayo masuk. Tante buat bantal baru.”
Limi berhenti. Tante Bri membukakan pintu rumahnya. Pintu rumah berwarna putih. Semua isi rumah Tante Bri memang berwarna putih. Dari tangga sampai kursi juga putih warnanya.
“Minggu lalu Tante diberi bahan warna ungu. Trus Tante ingat kamu,” kali ini tangan Tante Bri menjawil hidung Limi. “Sisa bahannya juga Tante buatkan ikat rambut buat kamu.”
Kelopak mata Limi melebar. Tante Bri menunjukkan sebuah ikat rambut. Ikat rambut berwarna ungu itu diberi manik-manik di setiap sisinya berwarna ungu muda. Tante Bri lalu mengambil sisir dan menyisir rambut ikal Limi yang sampai di pinggang. Terasa rambut itu kusut ketika disisir. Limi memang suka malas menyisir. Kalau Nenek datang Limi suka diminta datang ke kamarnya lalu disisir. Nenek bilang Limi harus rajin menyisir biar rambutnya tidak mudah kusut.
Limi memang malas menyisir. Bunda dulu sering meminta Limi menyisir. Lagipula sebenarnya Limi bosan dengan rambut panjangya. Limi ingin punya rambut pendek saja. Atau….



Mata Limi memandangi kerudung yang dipakai Tante Bri. Kerudung berwarna pink dipadu dengan warna putih.
“Cantik kalau rapi seperti ini,” ujar Tante Bri.
Limi membiarkan tubuhnya digeser oleh Tante Bri menghadap cermin. Di cermin Limi melihat dirinya sendiri. Bajunya kaos bergambar princess yang kebesaran. Soalnya itu baju punya Kak Fey yang diberikan untuknya. Waktu Limi minta beli baju baru, Kak Fey bilang tidak perlu. Lalu Kak Fey mengeluarkan baju miliknya dari lemari. Masih bagus. Meski Limi juga tidak begitu suka karena baju itu bukan baju yang baru.
Limi melihat wajahnya. Pipinya bulat. Ayah suka mencubit pipinya dan bilang gemas. Kak Fey bilang pipinya biasa disebut pipi bakpao. Ada poni yang melingkar di dahi Limi. Limi memang senang dengan poni. Dulu setiap kali poni itu panjang. Limi akan lari ke Bunda dan minta poni itu dipotong.



“Satu lagi kasihkan ke kakak kamu, ya,” Tante Bri menunjukkan satu kucir rambut lagi yang juga berwarna ungu. Limi menerimanya. “Limi mau jus? Tante baru…”
Limi tidak mendengar, ia bahkan langsung berteriak. “Ayaaaah.
Di luar terdengar suara mesin mobil berbunyi. Mobil Ayah sudah ke luar dari garasi. “Tante…, aku mau cium tangan dulu ke Ayah,” kata Limi. Limi lalu berlari sambil membawa satu bantal dan kucir rambut yang diberikan padanya. Jendela mobil Ayah terbuka.
“Ayah pulang malam,” ujar Ayah.
Limi cemberut. “Aku berdua Kak Fey?”
“Hush,” Ayah kali ini mencubit pipi Limi. “Di rumah kan ada Bibik yang bisa kamu minta tolong…”
Limi mengangguk. Bibik Sumi memang ada. Tapi…..
“Ayah pergi dulu…”
Limi mengangguk. “Assalamualaikum, Ayaaaah,” ujar Limi. Limi mengikuti apa yang sering Tante Bri ucapkan. Ia melambaikan tangan lalu menuju ke rumah.
Kue brownies itu masih ada di dapur ditaruh dalam tempat yang transparan. Mungkin Kak Fey ingin memberi hiasan lain selain coklat.
Uh, Limi cemberut. Padahal Limi ingin sekali makan kue itu.
**

Published by nurhaya3

Nurhayati Pujiastuti, owner Sanggar Mama Bilqis, Founder Penulis Tangguh, Kelas Merah Jambu dan Kelas Biru. Trainer Menulis.