Novel Anak A Mother for Limi #bagian pertama

Prolog

Limi menguap lebar. Matanya memandang pada jam di dinding. Jam setengah sembilan malam. Ada Ayah di sampingnya membaca buku.
“Ayaaaah…,” ujar Limi. Ada nyamuk di pipi bulatnya sebelah kiri.
“Kenapa?” tanya Ayah. Lelaki berambut ikal yang panjangnya sebahu.
“Aku mau punya Bunda…,” ujar Limi. “Bunda seperti di cerita itu…,” Limi menunjuk buku yang tergeletak tidak jauh darinya.
Ayah terdiam.
“Aku mauuuu…,” ujar Limi kali diikuti dengan mulutnya yang terbuka lebar karena menguap, tapi cepat-cepat ia tutup dengan tangannya.
“Sudah malam. Selamat tidur. Jangan lupa baca doa,” ujar Ayah beranjak dari kamar Limi.
Limi mengangguk. Matanya terpejam. Ia rupanya sudah tidak bisa menahan rasa kantuknya.



Bagian Pertama
Kue Pertama Kak Fey

Limi, gadis kecil berambut ikal sepanjang pinggang itu bersorak girang. Ia bangun pagi-pagi. Ia keluar dari kamarnya lalu menuju dapur. Di dapur ada oven yang menyala. Dapur besar dengan meja kayu jati dan kulkas dua pintu yang tinggi itu dipandanginya sesaat. Ia menuju tempat mencuci piring. Berdiri sebentar lalu berlari lagi menuju tempat lain.
“Ayaaaah…,” ujar Limi mencari ke arah lain. Sekarang Limi menuju ke ruang perpustakaan. Untuk ke ruang perpustakaan , Limi harus berjalan ke luar rumah lewat halaman belakang. Lalu Limi akan bertemu dengan kebun bunga. Kebun bunga itu milik Bunda dulu. Bunda senang menanamnya dengan banyak bunga. Sekarang ada Bik Sumi yang memeliharanya.
Dekat kebun bunga itu nanti ada kolam ikan. Kolam ikan berisi ikan-ikan koi dan pancuran berbentuk tiga tempayan bertumpuk. Tempayan kecil itu mengeluarkan air yang mengucur ke dalam kolam.
Limi suka duduk berlama-lama di situ di pagi hari. Limi melemparkan remah rotinya untuk diberikan pada ikan.
“Limiiii…”
Itu suara Kak Fey. Limi terus berlari menuju ke ruang perpustakaan. Kak Fey pasti akan meminta Limi membersihkan kotoran bekas Limi makan. Kak Fey suka seperti itu, Kak Fey bilang tidak boleh ada sampah di dalam rumah.
Itu dia. Jalan setapak menuju ruang perpustakaan. Perpustakaannya kecil, pintunya berwarna ungu. Itu warna kesukaan Bunda, yang sekarang juga Limi suka. Perpustakaan tidak pernah dikunci, Ayah bilang tidak perlu dikunci karena Limi bisa kapan saja main ke sana.



Limi membuka pintu perpustakaan.
Aroma kopi tercium bercampur dengan pewangi ruangan beraroma bunga mawar. Seorang lelaki berkemeja putih sedang duduk di dekat rak. Di tangannya ada sebuah buku tebal.
“Ayah!” bola mata Limi melebar. “Ayah bikin kue?”
Yang dipanggil Ayah mengerutkan keningnya. Lalu tersenyum dan mengangguk. “Itu percobaan Kak Fey, makanya Ayah lihat resepnya lagi di buku ini.”
Limi memandangi buku yang Ayah pegang. Itu buku punya Bunda. Bunda dulu punya buku lengkap soal masakan. Setelah Bunda tidak ada empat tahun yang lalu karena sakit, buku-buku dan banyak peralatan kue tidak ada yang memakai.
Tahun kemarin, waktu Limi kelas tiga SD, Kak Fey datang membawa kue. Kak Fey bilang, Kak Fey mau melanjutkan kesukaan Bunda bikin kue. Kak Fey katanya mau membuat kue yang enak. “Kuenya enak, Ayah?” tanya Limi pada Ayah.
Ayah sekarang berdiri dari duduknya, lalu melihat jam di pergelangan tangannya dan akhirnya mengembalikan buku itu ke dalam rak. Ayah bergegas ke luar pintu perpustakaan berjalan melewati taman bunga dan menuju dapur.
Aroma kue sudah tercium. Oven itu Ayah buka. Limi penasaran dan mendekat.
“Jadi kuenya, Ayah?”
Kak Fey tiba-tiba sudah ada di belakang Limi. Kue berwarna kehitaman itu keluar.
“Itu brownies?” tanya Limi.



“Itu kue buatan aku!” Kak Fey melotot. Rambutnya yang sebahu dikucir satu, pakai kuncir rambut berwarna ungu dan ada pitanya. Kelopak mata Limi melotot, itu kucir rambut milik Limi,
Kue itu sudah dikeluarkan dan ditaruh di meja. Limi mengendus-endus. Harumnya seperti kue buatan Bunda. Dulu waktu Bunda masih ada, Limi selalu membantu Bunda di dapur. Limi akan membantu Bunda mengaduk terigu. Kadang-kadang boleh juga mencampur telur. Kadang disisakan adonan kue yang belum masuk oven, dan masih tersisa di wadah pengocok kue untuk Limi habiskan. Kak Fey selalu bilang kalau Limi jorok karena semua bahan itu masih mentah. Tapi kata Bunda tidak apa-apa asal tidak terlalu banyak.
“Ini kue pertama buatan aku…,”
“Dibantu Ayah,” Ayah menepuk dadanya.
Kak Fey mengiris bagian ujungnya. Dia memasukkannya ke dalam mulutnya. “Ayah, ini enak sekali. Ayah ingat waktu aku sakit, Bunda membuat kue seperti ini?”
“Tapi Ayah merasa ada sesuatu…,” kening Ayah berkerut.
“Pasti enak, Ayah. Jangan ada yang coba kuenya dulu.”
Kak Fey bicara dengan Ayah. Limi mencongkel ujung kue. Memasukkan ke dalam mulutnya. Enak. Manis dan sedikit pahit rasa coklat.
“Limiii!” Kak Fey berteriak. “Kue ini mau aku bawa ke sekolah. Aku mau kasih tahu teman kalau aku sekarang bisa bikin kue. Biar kalau ada yang mau pesan, bisa pesan ke aku.”
Limi kecewa.
Kue itu enak sekali. Meskipun Limi baru merasakan hiasan coklatnya saja. Rasanya seperti kue buatan Bunda. Ayah bilang memang Kak Fey mengikuti resep dari Bunda.
Sekarang Limi berjalan ke ruang tamu. Jendela ruang tamu menghadap ke teras. Di teras ada kursi rotan tempat Nenek biasanya duduk kalau sore hari. Kak Fey dan Ayah masih bicara. Limi dengar Kak Fey bicara tentang toko kue, kue model baru. Ayah dan Kak Fey suka seperti itu, kalau bicara suka lupa dengan Limi.
Di luar pagar Limi lihat ada seekor kucing. Kucing angora berbulu coklat dengan kalung di lehernya. Itu punya Tante Bri. Pasti Tante Bri mencari-carinya.
Limi sekarang ke luar rumah. Di rumah Tante Bri ada banyak buku juga. Tante Bri juga bisa bikin kue juga keranjinan tangan yang lain.
Sekarang kelopak mata Limi terbuka lebar. “Aku main dulu, Ayaaah,” teriaknya ke luar rumah membuka pagar dan menuju rumah Tante Bri.
**

Published by nurhaya3

Nurhayati Pujiastuti, owner Sanggar Mama Bilqis, Founder Penulis Tangguh, Kelas Merah Jambu dan Kelas Biru. Trainer Menulis.