Gadis Kecil tanpa Topi

Ca duduk di depan. Ca tidak suka duduk di belakang. Rambut pendeknya dikucir dua. Tidak, tidak ada yang boleh mengucirnya. Ca bisa melakukannya sendiri.
Ibu Guru sekarang berdiri di depan. Ibu Guru dengan seragam berwarna biru. Rambut ibu Guru pendek. Kalau pulang sekolah ,Ca suka main di rumah Ibu Guru.
“Mulai besok, anak-anak boleh mengumpulkan karton, ya. Warnanya bebas apa saja.”
Ca mendengarkan.
Karton.
Ca tahu seperti apa itu karton. Ibu Guru bilang karton itu nanti akan dibuat jadi topi. Ca bergegas pulang ke rumah.
Rumah sepi. Ibu entah ke mana.
“Minta uaaang,” ujar Ca pada Kakak tertua yang sedang memindahkan buku pelajaran ke dalam tas.
“Minta uang untuk apa?”
Ca memandangi kakak tertua. Kakak tertua itu memandangi Ca. Kakak ini sering meminta Ca belajar. Sering membawakan Ca buku cerita dari perpustakaan sekolah.
“Buat apa?” pertanyaan itu diulang.
Ca cemberut. “Katanya Bu Guru buat bikin topi.”
Kakak tertua mengerutkan keningnya. Lalu membuka lemari. Di lemari itu tersimpan map-map kantor milik Bapak.
“Ini juga namanya karton,” kata si Kakak.
“Tapiiii.”
“Ini sama aja. Terbuat dari karton. Masih baru lagi. Kasihan lagi Bapak enggak punya uang.”
Ca menerimanya dengan senang hati. Ia percaya. Itu kertas karton juga namanya. Horeee, Ca sudah punya karton. Teman yang lain malah belum ada yang bawa. Di sekolah Ca nomor satu yang mengumpulkannya.
Ca anak berani. Ia lari ke ruang guru. Ada bapak dan ibu guru yang sedang duduk di ruangan itu.
“Buu, ini kartonnya,” Ca tersenyum menyerahkannya.
Ca lihat bapak dan ibu guru saling berpandangan. Lalu Ibu Guru merangkul Ca sambil tersenyum.
“Yang ini bukan karton namanya. Ini kertas dipakai untuk map. Tidak cukup untuk dibuat topi. Besok-besok bawa kertas karton, ya. Mapnya kamu bawa pulang lagi.”
Ca menerima kertas itu. Sungguh, Ca merasa kecewa. Baru kali ini Ca merasa kecewa. Dada Ca terasa sesak. Tapi Ca tidak suka menangis.
“Bukaaaan ini,” ujarnya menyerahkan map pada kakak tertua.
Sejak saat itu Ca melupakan tentang kertas karton. Ca takut meminta pada Bapak. Bapak kalau pulang malam. Bapak kelihatan sudah capek.
Satu-persatu teman mengumpulkan. Hingga akhirnya suatu hari mereka dikumpulkan. Ada banyak topi di depan kelas. Topi-topi berbentuk lebar seperti topi pak tani. Dan topi model lancip seperti topi yang sering dipakai badut sirkus.
“Ini topi akuuu.”
Semua teman berebut topi. Mereka memilih topinya masing-masing.
Ca diam. Ca tidak tahu kapan mereka membuat topi itu. Sebab Ca sering tidak masuk sekolah. Ca sering sakit.
Pernah ada cacing besar yang ke luar dari mulut Ca ketika muntah. Bapak juga sering membawanya ke dokter. Seorang dokter galak pernah berkata kalau nanti perut Ca akan dibedah. Sebab sudah satu minggu Bapak bilang Ca tidak buang air kecil. Perut Ca keras.
Dokter itu seram. Ca takut. Sampai rumah Ca langsung ke kamar mandi dan buang air kecil. Tapi Ca tetap harus periksa darah juga. Ca ingat Bapak mendudukkan Ca di pangkuan dan bilang,” Jarumnya besar. Tapi jangan takut. Sakitnya cuma sebentar.”
Jarum itu besar. Tapi Bapak bilang Ca harus membuka mata untuk melihat ketika jarum itu disuntikkan untuk mengambil darah Ca.
Ca melihat darahnya diambil. Bapak betul. Tidak terlalu sakit. Hanya seperti digigit semut.
Ca pulang digendong Bapak di punggung.
“Yang ini punya akuuu.”
Teman-temannya berteriak. Ca melihat topi-topi itu diambil temannya lalu mereka pakai di kepalanya.
Ca tidak punya topi. Ia menunduk sedih. Mencari tempat di sudut.
“Kita semua nanti foto pakai topi.”
Ca juga ingin pakai topi. Maka Ca mendekati Pak Guru lalu bertanya. “Pak Guru, saya juga mau pakai topi.”
Pak Guru dan Bu Guru berpandangan. Ca hanya diam. Tapi Ca lihat Pak Guru pergi ke luar lalu datang dengan membawa banyak topi.
“Ini masih ada topi bekas tahun kemarin.”
Topi itu dipasang di kepala Ca. Tapi tidak cukup. Dua kucir rambutnya itu, kata Pak Guru membuat topi tidak cukup di kepalanya.
Ada beberapa topi dicoba. Tukang foto sudah siap.
“Kita foto dulu sekarang. Kamu tidak usah pakai topi di foto ini. Nanti kita cari topi lain yang muat. Terus foto lagi.”
Ca menurut. Semua sudah tidak sabar.
Tapi Pak Guru tidak bohong. Pak Guru mencarikan foto yang pas untuk Ca. Dan mereka difoto lagi. Tapi ketika foto itu sudah jadi, Ca memilih foto yang tanpa topi untuk dibawa pulang.
“Ibuuu, inifoto perpisahan TK aku.”
“Kenapa kamu sendiri yang tidak pakai topi?” Ibu bertanya ketika ditunjukkan foto itu.
Ca hanya diam saja. Ca tidak perlu panjang lebar menjelaskan.

Published by nurhaya3

Nurhayati Pujiastuti, owner Sanggar Mama Bilqis, Founder Penulis Tangguh, Kelas Merah Jambu dan Kelas Biru. Trainer Menulis.