Empang di Dekat Kebun Bunga

Ada yang selalu ditunggu-tunggu Cahaya ketika Bapak datang. Bapak akan selalu membawa pulang majalah-majalah dipenuhi gambar. Ia suka membacanya. Kadang kakak-kakak membawakan buku dari perpustakaan.
Ca sudah bisa membaca. Bapak mengajarkan. Ca senang dengan huruf, apalagi ketika huruf itu saling terangkai menjadi kalimat.
Usianya enam tahun. Sekolahnya di Tk. Tempat di mana ia suka makan buah gandaria yang ia beli dari abang-abang di gerobak.
Di depan sekolah ada kebun. Kebun luas dan empang besar. Di situ ada kincir air besar. Bapak tidak pernah bercerita untuk apa kincir air itu.
Pernah Ca melihat teman-temannya sudah berada di bawah kincir air.
“Ayooo, kincir airnya mau muteeeer.”
Ca ikut berlari.

Sebuah kincir air dari besi. Besar dan tinggi sekali. Tingginya setinggi pohon besar. Ca harus menengadah untuk melihatnya.
Kincir air itu tidak berputar setiap saat. Kadang-kadang saja. Dan ketika kincir air itu berputar, anak-anak di sekolah depan kincir air itu akan berlarian. Kincir itu berputar memercikkan air. Semua berteriak kegirangan seperti mandi hujan.
Ca tertawa. Bajunya basah. Nanti ia harus pulang cepat, agar tidak ketahuan kakak-kakaknya. Nanti Ca bisa lewat jalan pintas dekat empang besar. Ada kebun bunga di sana. Pintu gerbangnya suka dikunci. Tapi Ca tahu cara membukanya.

Empang di dekat pintu gerbang itu empang milik pak dokter. Ada bacaan dilarang pipis di empang itu. Ca pernah diajak Neneng, temannya, dan berjongkok pipis di situ. Besoknya Ca bermain di sana. Memancing ikan dengan daun kelapa kering yang ada di pinggir empang. Ca hanya berdua saja dengan seorang teman.
Ca dan temannya berjongkok di pinggir empang. Memasukkan daun kelapa sebagai alat pancing. Tiba-tiba Ca merasa ada yang menarik daun itu. Lalu tubuh Ca merosot. Ia jatuh ke dalam empang. Tenggelam.

“Toloooong,” temannya berteriak.
Ca tidak bisa berenang. Seperti ada yang menarik tubuh kecilnya.
“Toloooong,” suaranya temannya terdengar.
Lalu tiba-tiba.
Byur.
Seorang masuk ke dalam air. Berenang dan menggotong tubuh Ca ke luar empang. Ca kaget. Tidak sempat mengucapkan terima kasih dan langsung berlari pulang. Ca langsung masuk kamar mandi. Ibu melihatnya sambil menggendong adik terkecilnya.
“Kamu habis kecebur? Ini Ibu kasih uang jajan.”
Setelah itu Ca mandi dan jajan.
“Jangan main jauh-jauh lagi.”
Tapi Ca suka melihat macam-macam.
Itu, ada tukang ngamen. Ca mau mengikuti pengamen itu.

Published by nurhaya3

Nurhayati Pujiastuti, owner Sanggar Mama Bilqis, Founder Penulis Tangguh, Kelas Merah Jambu dan Kelas Biru. Trainer Menulis.