Tempat Paling Indah Bernama Sekolah

Mulai hari ini saya akan posting cerita di masa lalu.
Semoga bisa membawa manfaat untuk pembaca, seperti apa Bapak mendidik saya.

Suatu masa ketika gadis kecil berpipi tembam itu bangun dari tidurnya.
Tempat tidur besi yang cukup besar. Di atasnya ia tidur bersama adik-adiknya. Sebuah rumah dengan satu ruangan di pojok gang.
Bagian depan diisi kursi tamu yang sudah keluar busanya. Dekat kursi tamu itu ada lemari yang menutupi pintu yang menghubungkan dengan rumah utama. Rumah pemilik kontrakkan.
Satu ruangan diisi tempat tidur. Berjalan sedikit akan ada dapur dengan satu kompor dan lemari sederhana.
Dekat dapur ada satu pintu. Itu pintu yang menghubungkan dengan kamar mandi bersama dengan pemilik kontrakkan. Kamar mandi berisi pompa air dan satu baik besar.
“Kapan aku sekolah?” itu yang selalu ada di kepalanya.

Sekolah itu tidak begitu jauh dari tempatnya tinggal Ia hanya perlu ke luar gang. Gang itu hanya berisi satu rumahnya dan rumah pemilik kontrakkan.
Di atas rumah kontrakkan mereka ada burung dara. Anak pemilik kontrakkan berternak burung dara. Begitu pintu rumah terbuka, ada kandang ayam milik pemilik kontrakkan.
Ke luar dari gang nanti ia akan belok kanan. Sebelah kiri ada empang-empang milik beberapa warga. Mereka berternakn ikan mujair.
Nanti ia hanya perlu jalan lurus saja lalu berhenti sejenak. Ada taman dengan burung bangau di sana. Dua burung bangau berwarna putih. Ia dan temannya suka termangu memerhatikan tingkah laku burung bangau itu. Tapi ia harus hati-hati karena akan ada seorang bertopi yang topinya penuh dengan kantong kecil, berkumis dan berjenggot akan tiba-tiba muncul. Tangannya akan melebar. Lalu berkata.”Ayooo, ketangkap.”
Gadis itu harus berlari cepat. Karena kalau tertangkap ia akan dipeluk keras.
Tempat itu berbahaya untuknya.

Ia harus jalan lagi. Lurus saja. Sampai akhirnya akan melewati dua empang besar. Empang itu adalah kolam besar berisi ikan-ikan peliharaan. Setiap panen semua boleh masuk ke dalamnya dan pesta ikan.
Di situ juga masih ada yang memelihara sapi.
Terus, terus saja.
Jalan sebentar lalu belok kiri.

Itu dia. Sebuah bangunan berjejer di sebelah kanan jalan. Sebelah kiri jalan kebun-kebun dan sebuah kincir air besar. Setiap saat gadis kecil itu berharap kincir air berputar. Ia akan berteriak melompat kesenangan karena air yang memercik akan membasahi kepala dan bajunya.

“Hari ini aku sekolah, Ibu?”
Ibu mengangguk. Baju seragam sudah disiapkan. Seragam kemeja putih dan rok biru muda.
“Aku bisa berangkat sendiri.”
Tiga kakak bersekolah di sana. Semuanya sama-sama masuk pagi. Jadi ia bisa berangkat bersama.
Ada sarapan nasi dan kacang ulek.
Kacang ulek itu selalu tersedia di wadah. Ibu menggoreng kacang. Lalu menumbuknya dengan cobek sampai halus dan mengeuarkanminyak.
Kadang ada yang tidak mau dan Ibu akan menguleknya sampai sekadar halus saja.

Tempat minum sudah dibelikan Bapak.
Hari ini ia tidak sakit lagi. Ia mau sekolah. Sekolah yang ketika muridnya upacara, ia bisa melihatnya. Kadang-kadang kakaknya yang menjadi petugas upacara bendera.
“Aku sekolaaaaah.”

Gadis kecil itu berkucir dua. Kadang-kadang satu. Ia bisa membuat kuciran sendiri. Sering cemberut kalau ada yang mau membantunya menyisir rambut.
Sekarang ia mulai berjalan sambil bernyanyi.
Bapak Ibu guru berseragam biru menyambutnya.
“Aku sekolaaaah.”
Hari ini ia bahagia sekali karena bisa bersekolah.

Published by nurhaya3

Nurhayati Pujiastuti, owner Sanggar Mama Bilqis, Founder Penulis Tangguh, Kelas Merah Jambu dan Kelas Biru. Trainer Menulis.