Belajar Menulis dari Nol – Tyas KW

Pertemuan awal dengan seorang murid selalu membuat terharu. Apalagi ketika murid itu tidak lenyap begitu saja. Tapi terus berkarya dan cerewet bertanya.
Salah satunya adalah Mbak Tyas KW.

“Mbak saya temukan nama Mbak di mesin pencari google. Mbak buka kelas menulis online?” itu pertanyaan awal mbak Tyas pada saya.

Jadi….,
suatu hari ketika saya sudah mulai jenuh dengan kelas Merah Jambu, saya berniat membuka kelas menulis lain. Kok jenuh? Maklum begitulah saya.
Ketika nama Penulis Tangguh semakin besar, dan mulai banyak meminatnya, saya mulai merasakan orang-orang terlalu berharap dengan nama besar itu. Ada yang datang karena hanya ingin bergabung dengan komunitas, agar lebih banyak teman. Tapi ketika putaran tugas jatuh pada dirinya, dia menghilang.
Di Penulis Tangguh memang ada sistem roling dalam bertugas. Jadi semua yang ada di dalamnya harus berani mengajar,
Ada banyak alasannya. Tapi alasan itu seringnya tidak bisa diterima, ketika mereka malah sibuk berjualan dan membuat group baru. Seolah-olah group menulis yang sungguh-sungguh saya jadikan tempat belajar dan interaksi menulis, adalah group yang bernilai keuntungan untuknya. Ketika keuntugnan itu sulit didapat, maka pergilah tidak meninggalkan jejak.

Kelas Merah Jambu sedikit berbeda. Mungkin karena di kelas sebelumnya saya membuat kelas gratis. Merah Jambu kelas menulis berbayar. Yang belajar serius. Tapi lama kelamaan saya juga bertemu dengan orang yang hanya ingin tahu seperti apa cara saya mengajar. Dan masuk tidak dengan pikiran seperti gelas kosong. Jadi ketika saya ajarkan berbagai macam cara, tumpah semua ilmu dari saya bahkan tertolak.
Jujur pada saat itu saya merasa sudah saatnya membuat kelas baru. Image baru. Dan lahirlah kelas yang saya namakan Kelas Biru. Kenapa namanya biru. Entah kenapa saya dari dulu sampai sekarang suka dengan warna biru. Jadi nama itu lahir begitu saja. Mbak Tyas murid pertama yang masuk kelas biru.
Kalau kelas sebelumnya sistem per kelas dengan maksimal 10 murid dan ada guru pengajar lain. Maka pada kelas Biru saya membuat kelas privat. Entah kenapa saya ingin mengenal para murid secara personal dan pencapaian mereka bisa saya pantau. Saya juga jadi bisa lebih dalam mengenali karakternya.

“Saya baru pensiun dan saya ingin bisa menulis. Mbak bisa membimbing saya yang menulis dari nol?”
Seperti calon murid sebelumnya, saya meminta contoh tulisannya. Agar saya bisa memahami kemampuannya. Agar lebih optimal mengajarnya tentu saja.
Jam belajar disepakati. Dan Mbak Tyas pun mulai belajar. Semangt belajarnya tinggi.

Beberapa bulan setelah belajar usai, Mbak Tyas mulai sedih. Hampir putus asa. Karyanya tidak ada satu pun yang tembus di media yang ia kirimi karyanya.
Nah kondisi seperti itu biasa terjadi, jadi saya minta Mbak Tyas bersabar saja. Sabar dan terus menulis.
Benar,
setelah itu saya mendengar karya Mbak Tyas terus-menerus hadir di media baik Kompas juga Bobo. Bahkan Mbak Tyas ini sekarang menjadi kompetitor yang oke dalam lomba menulis. Mau tahu karya beliau> Cek blog-nya Mbak Tyas.

Published by nurhaya3

Nurhayati Pujiastuti, owner Sanggar Mama Bilqis, Founder Penulis Tangguh, Kelas Merah Jambu dan Kelas Biru. Trainer Menulis.