Nama Baru Saya adalah Ibu

Bayi itu mungil. Hanya 2,1 kilogram. Mungkin seberat botol air mineral seharga lima ribu rupiah. Sebuah pengalaman baru yang membuat saya belajar banyak hal.
Pengalaman pertama adalah ketika saya melihat tanda strip dua di alat test kehamilan, yang saya celupkan sampai dua jam lebih, ke dalam gelas berisi air seni di pagi hari. Ya positif. Saya hamil.

Pengalaman berikutnya adalah ketika saya terkejut. Ada bercak darah. Lalu mencari-cari ke mana saya harus pergi. Minim ilmu saya tentang dokter kandungan. Di kepala juga berkelebat banyak pikiran. Dokter atau bidan? Hingga akhirnya yang saya dan suami lakukan adalah menuju klinik 24 jam. Diperiksa oleh dokter umum yang menyarankan untuk mencari dokter kandungan. Kami menemukan dokter kandungan terbaik yang antriannya panjang dan cukup terkenal.
“Ibu tidak hamil. Tidak ada kantung janin di rahim Ibu.”
Pemeriksaan pertama yang membuat saya trauma. Terhuyung-huyung ke luar kamar dari ruang pemeriksaan dan muntah. Pemeriksaan USG dalam membuat saya kaget dan trauma pada saat yang sama.

“Tapi ada obat penguat rahim untuk Ibu. Diminum obatnya, ya.”
Saya mengangguk.
Hamil atau tidak hamil?
Saya tidak mengerti perbedaannya karena ini pengalaman pertama. Ilmu tentang itu tidak diajarkan juga oleh Ibu saya. Buku-buku kehamilan juga tidak tersentuh tangan saya sebelum menikah, karena saya pikir bukan hal yang penting.
Hamil atau tidak hamil?
Yang saya jalani setelah itu adalah meminta cuti dari kantor untuk istirahat. Mungkin dokter benar saya letih.
Setelah itu yang terjadi saya sendiri di kamar kontrakkan. Suami pergi kerja. Perut melilit menghebat.
Tenang, begitu kata hati saya. Menurut buku yang saya baca katanya, tanda kehamilan itu adalah terlihatnya bercak darah pada sebagian wanita. Perut sakit.

Tapi siang itu sakit perut saya luar biasa. Bukan lagi bercak darah tapi gumpalan darah.
Gumpalan darah itu terus-menerus ke luar, hingga saya yakin bahwa selesai. Saya tidak hamil. Ya saya tidak hamil dan bayi itu tidak ada di rahim saya.
Berikutnya saya mulai bekerja kembali. Tidak ada mual, tidak ada ngidam seperti cerita banyak orang. Saya tidak hamil. Belum rezeki saya. Itu yang ada di benak saya. Lagipula dokter bilang, kami masih penganten baru. Masih muda. Kesempatan saya masih banyak.
Lalu hari demi hari berlanjut. Suami pusing, mual. Saya biasa saya. Aktivitas biasa. Masuk kantor lagi. Suami ke mana-mana membawa minyak angin di botol kecil karena mual entah kenapa. Beberapa kali pada jam istirahat pulang dari kantor, sampai rumah hanya muntah-muntah.

“Mbak jadi hamil ?” tanya teman kerja saya.
“Enggak tahu.” Saya menggeleng. Ragu. Bingung juga. Ilmu minim luar biasa. Perut semakin membesar.Hingga konyolnya saya melakukan shit up karena merasa perut sudah menjadi buncit.
“Ayo ke dokter,” ujar suami. “Perutmu kok makin besar. Jangan-jangan ada bayi di dalamnya.”
Maka pergilah kami, sepasang suami istri yang minim ilmu tentang kehamilan ke dokter kandungan. Tiga bulan setelah dokter mengatakan saya tidak hamil dan memberi obat penguat rahim. Dan jawabannya adalaaaah…..
“Itu, Bu, ada bayi di dalamnya. Bergerak.”
Saya kaget. Ini ajaib. Saya hamil? Padahal sampai beberapa bulan saya terus mengalami bercak pendarahan.
“Datang lagi sebulan kemudian, ya, Bu,” ujar dokter.
Saya hamil? Seorang bayi di dalam rahim saya?
Saya hamil seorang bayi laki-laki. Iya laki-laki. Mimpi saya setiap malam menggandeng tangan seorang anak laki-laki kecil, dan hasil USG mengiyakan hal itu.
Bayi itu yang membuat saya belajar banyak hal, termasuk takdir dan pelajaran jadi orangtua dengan penuh kejutan.

Cuti melahirkan di usia delapan bulan. Mempersiapkan tas-tas untuk dibawa ke Solo. Karena saya ingin melahirkan dekat dengan orangtua saya, terutama Bapak. Bayangan saya, andai saya dalam proses melahirkan nanti sampai meninggal, saya ingin Bapak yang menyalatkan jenazah saya.
Tapi Allah rupanya tidak berkenan seperti itu. Allah ingin mengajarkan saya percaya penuh pada suami sebagai imam keluarga.
Pada jam dua malam setelah saya tahajjud. Tiba-tiba keluar cairan yang cukup banyak seperti orang mengompol. Saya menelepon mertua dan orangtua. Pada jam itu akhirnya saya dan suami memutuskan untuk ke rumah bersalin. Malam gelap gulita dan hujan deras. Kami naik motor menuju sebuah rumah bersalin yang biasa saya lewati setiap kali pulang kantor. Bukan tempat di mana dokter kandungan tempat saya periksa rutin bertugas.

“Ibu tidak pernah periksa di sini, kan?” tanya seorang bidan.
“Iya, Mbak. Maaf. Tapi enggak apa-apa, kan, kalau saya melahirkan di sini?”
Bidan itu mengangguk.
Jam dua malam sampai sembilan pagi tidak ada rasa sakit. Lalu saya diberi induksi berupa infus. Pada jam sebelas siang barulah terasa sakit. Tapi karena tidak tahu apakah itu tanda sakit untuk melahirkan, saya tahan sendiri.
Saya ada di kamar di kelas tiga, di mana banyak pasien lainnya. Pasien kiri kanan saya baru saja datang dari ruang bersalin. Seorang pasien mengajarkan saya menekan bel untuk memanggil perawat.
Perawat datang. Yup saya sudah harus masuk kamar bersalin.

Di kamar bersalin terdengar suara orang berteriak. Di rumah sakit bersalin itu, suami dilarang ikut masuk mendampingi. Oke saya tidak mengapa.
Jadwal suster pergantian jaga sudah dimulai. Mereka ribut. Sakit saya mulai terasa. Seperti orang ingin buang air besar di bagian panggul. Mendengar orang di dekat saya berteriak mengaduh, tiba-tiba timbul keberadian saya untuk berteriak memanggil perawat.
Mereka datang.
Hup. Jam Duabelas lebih lima, saya melahirkan seorang bayi laki-laki. Proses melahirkan yang mudah. Hanya dua kali mengejan. Tapi proses selanjutnya jadi pelajaran untuk saya. Ari-ari masih menempel di dinding rahim saya. Dan proses itu yang harus saya nikmati.
**

Panggilan saya Ibu. Iya Ibu. Bukan Mama juga Bunda. Saya nyaman dipanggil dengan sebutan Ibu. Bukan yang lain.
“Ibuuuuu.”
Nama baru saya Ibu. Saya bahagia Allah memberi takdir itu pada saya.
**

Published by nurhaya3

Nurhayati Pujiastuti, owner Sanggar Mama Bilqis, Founder Penulis Tangguh, Kelas Merah Jambu dan Kelas Biru. Trainer Menulis.