Ketika Salman Hilang Hafalan Qur’an.

Ini buku istimewa untuk saya. Iya luar biasa istimewa. Hadiah yang Allah berikan ketika saya merasa sedih pada satu titik.
Berawal dari rencana keluarga besar saya untuk umrah bersama Ibu. Pada saat tanggal ditetapkan, itu jadwal anak Bungsu menghadapi ujian sekolah. Suami juga baru pulang dari Habema di pedalaman Papua, untuk sebuah tugas bersama teman-temannya selama dua pekan di sana.

Dan saya bimbang. Alasannya pekerjaan suami sedang penuh-penuhnya setelah pulang. Dan anak-anak memang biasa belajar dengan saya, tidak dengan ayahnya.
Lalu bimbang ragu menjadi satu rasa tersudut, ketika tanggal umrah semakin pasti. Pertanyaan dari yang lain muncul,” Ikut, enggak? Kapan lagi menemani Ibu umrah?”
Kapan lagi itu menjadi momok tersendiri, apalagi setelah itu suami sakit. Demam seperti gejala malaria.

Saya sedih.
Keluarga besar umrah dan saya tertinggal. Seperti merasa menjadi anak paling tidak bermanfaat.
Lalu tiba-tiba saat putus asa itu, takdir Allah bekerja. Seorang ditor menghubungi saya lewat inbox di FB. Meminta saya ke kantor penerbit, untuk membicarakan tentang menulis ulang novel adaptasi yang laris manis di negaranya.

Ada perbincangan panjang termasuk kepercayaan mereka untuk saya menulis ulang kisah itu, dengan gaya bahasa saya dan sudut pandang saya. Intinya tempat-tempat yang ada dalam kisah, tidak akan saya hilangkan.
Apakah yang mereka tawarkan?
Mereka menawarkan saya menulis kisah tentang tempat-tempat di dua kota suci. Makkah dan Madinah. Dalam bentuk novel anak. Dan saya menawarkan anak Indonesia yang umrah ke sana.
Suprised. Karena saya seperti sedang diberi hadiah Allah.

Oke saya tidak boleh baper. Saya wajib bersyukur. Keluarga besar pergi umrah menemani Ibu.
Saya menghubungi keluarga besar yang sudah sampai di sana. Minta mereka catat dengan detail sesuatu yang tidak terlihat oleh umum. Seperti mewawancarai penjual bakso dan mengirimkan videonya pada saya. Juga hal-hal unik lainnya yang jarang diangkat seperti peminta-minta yang banyak bertebaran di seputaran masjid.
Ibu bahkan mencatat di kertas kecil apa yang diceritakan pemandu wisata. Catatan itu memang dibuat untuk saya.

Saya akhirnya mendapatkan tokoh bernama Salman. Dia seorang anak dari keluarga sederhana yang diajarkan menghafal Al Qur’an sejak kecil,dan menang lomba hafalan Al Qur’an.
Hadiahnya umrah bersama ayahnya.
Nah masalahnya di tengah perjalanan, Salman betemu dengan dua kakak beradik, yang di tangannya selalu ada telepoon genggam untuk main game. Salman pun tergoda. Bahkan berdoa di depan Kabah minta telepon genggam. Dan parahnya hafalan Al Qur’an Salman mulai hilang.

Lalu, laluuuu
Yang penasaran bisa baca di bukunya, ya.
Masih ada di penerbit Gema Insani.
Selamat berpetualang bersama Salman.

Published by nurhaya3

Nurhayati Pujiastuti, owner Sanggar Mama Bilqis, Founder Penulis Tangguh, Kelas Merah Jambu dan Kelas Biru. Trainer Menulis.