Mengasah Empati Sejak Dini

Sejak mengenal kata empati semasa kuliah di ilmu komunikasi, sejak itu kata itu melekat di benak. Saya yang dulu hanya tahunya tentang simpati seperti mendapat durian berkah. Oh, seperti itu ya yang namanya empati. Oh, jadi kalau ada teman yang terluka dan saya ikutan nangis, terus berada di dekatnya dan mendatangi sumber luka, itu namanya empati. Bukan simpati.

Ketika kita merasakan penderitaan orang itu namanya simpati.
Tapi empati lebih dalam lagi. Ada kejadian yang menimpa orang lain, kita bukan hanya sekedar kasihan. Lalu hilang dari ingatan.
Kita berusaha menempatkan posisi kita pada orang tersebut, sehingga bisa memahami seperti apa rasa yang ada di hatinya. Mencari benang merah sikapnya ketika tertimpa kejadian itu dengan mengurutkannya pada trauma atau kenangan pahit yang pernah dilaluinya.
Terlalu lebay mungkin saya ini.

Tapi berangkat dari situ, saya jadi ingin mengenalkan tentang empati pada orang yang mungkin tidak pernah kuliah di ilmu komunikasi dan tidak mendapat pelajaran psikologi komunikasi.

Buku ini saya buat seperti buku-buku lainnya. Bukan pesanan penerbit. Sebagai penulis, menerima pesanan tulisan dari penerbit tentu senang. Itu artinya uang yang didapat pasti. Buku yang dihasilkan juga 90 persen pasti.
Tapi dari yang pasti itu, saya malah mencintai yang tidak pasti.
Seperti membuat naskah sendiri, lalu saya ketuk satu persatu pintu penerbit. Hunting penerbit mana yang butuh naskah.
Kenapa?
Karena ketika penerbit mengorder naskah pada penulis, artinya penerbit sudah ada idenya. Penulis tinggal riset dan mengeksekusinya.
Sedang menulis naskah sendiri, penulis memulai segalanya sendiri dari nol. Dari mencari ide, mencari sudut pandang sampai akhirnya ketika naskah jadi, mengetuk satu persatu pintu penerbit. Ada rasa berbeda untuk saya, karena itu artinya saya masih punya ide sendiri.

Oke lanjut ke naskah ini.
Naskah ini saya tulis dan jadi. Saya cari-cari ke penerbit. Tawarkan ke penerbit dan ditolak. Ehem ditolak. Kalau dulu, naskah ditolak saya nangis. Tapi setelah puluhan tahun, satu dua detik saja saya agak sedikit sedih. Dari banyak kasus, naskah saya yang ditolak saya penerbit karena kurang cocok, biasanya akan diterima di penerbit lain dan laris manis penjualannya.

Saya coba pelajari penerbit yang lain, sampai akhirnya saya bertemu dengan status penerbit Ziyad. Pada saat itu Ziyad sedang membutuhkan naskah. Bismillah. Naskah saya cek lagi. Dan saya kirim. Alhamdulillah dalam tempo seminggu naskah yang saya kirim di acc. Editornya suka dengan tulisan saya.
Setelah naskah di acc, saya belajar tentang membuat panduan untuk ilustrasi. Karena buku ini buku bergambar dengan segement pembaca anak-anak.
Ada banyak cerita di dalamnya. Dan semua kisah yang saya tulis saya tujukan untuk pengembangan sebuah rasa bernama empati untuk anak-anak.
Alhamdulillah buku ini diterima dengan baik oleh pembaca.
Saya hanya berharap, setitik empati bisa muncul di hati pembacanya. Hingga tidak mudah mencaci ketika orang lain melakukan kesalahan.

Published by nurhaya3

Nurhayati Pujiastuti, owner Sanggar Mama Bilqis, Founder Penulis Tangguh, Kelas Merah Jambu dan Kelas Biru. Trainer Menulis.