Katakan Yes pada Literasi – An Nahl Islamic School

Jumat Ahad kemarin, saya sudah datang ke An Nahl untuk memberikan motivasi menulis untuk para guru. Masya Allah rasanya luar biasa. Melihat orang lain termotivasi untuk menulis, rasanya seperti melihat anak baru belajar merangkak dan berjalan.
Jum’at tanggal 20 Juli 2018 ini saya datang lagi.
Kali ini mengenalkan literasi pada anak-anak SMP.

Literasi, dunia tulis-menulis bukan hal asing seperti ketika saya kecil dulu. Ketika saya bercita-cita menjadi penulis, terbelalaklah mata banyak orang yang mendengarnya. Berpikirnya, apa ada pekerjaan seperti itu? Itu kan pekerjaan para pengkhayal yang tidak berpikir masa depan?
Alhamdulillah seiring berjalannya waktu dan kekuatan tekad, sekarang lingkungan sekeliling sudah paham manfaat membaca, dan mulai suka menulis.

Tapi Literasi di zaman saya dulu tentu tidak bisa disandingkan dengan literasi di zaman sekarang. Dulu hiburan sedikit. Jadi buku mudah tersentuh tangan untuk dibaca. Dulu semalas-malasnya teman sekolah, kalau kumpul pasti pegang buku, entah itu komik atau buku cerita lainnya.
Anak sekarang digempur dengan arus tekhnologi. Gadget di tangan. Buku, sudah tidak menarik lagi. Lebih menarik membaca status di sosial media daripada membaca buku.
Dan justru disitulah tantangannya.
Pegangannya sederhana. Allah turunkan ayat pertama itu Iqra yang artinya membaca. Masih dalam lima ayat pertama, Allah juga menurunkan kata kalam alias pena. Itu artinya rangkaian membaca adalah menulis.

Pak Agus membeberkan banyak rencana. Juga program literasi. Banyak buku yang sudah dihasilkan An Nahl Islamic School. Dan saya beri dua jempol, karena tidak semua sekolah memiliki semangat, untuk membuat anak didik mereka melek terhadap literasi.

“Hari Jum’at, ya, Bu Nur bersama putrinya,” begitu pesan Pak Agus.
Ok hari Jum’at saya kosong. Ada jadwal mengajar di pagi hari, tapi khusus kelas menulis online, dan jadwal untuk Jum’at saya geser jadi sore. Anak-anak tetangga dan embah tetangga yang belajar di rumah seminggu tiga kali, juga libur di hari Jum’at. Sedekah Jum’at tebar nasi bungkus baru mulai lagi di bulan Agustus.
Jadi bebaaaaas.
Tapi anak gadis ada mabit di sekolahnya, jadi tidak bisa ikut. Hanya saya bawakan buku karyanya yang sudah diterbitkan penerbit. Harusnya ada 6 buku tapi yang ada di rumah hanya dua. Maka saya bawa yang dua, dan satu buku milik anak sulung.

Jam setengah delapan saya sudah ada di depan gedung tempat berlangsungnya acara. Sempat menikmati pemandangan sekeliling sekolah. Sempat menikmati anak-anak berseragam putih-putih berjalan menuju aula sekolah. Mereka yang akan dikenalkan tentang literasi.
Aha, melihat wajah-wajah anak muda, rasanya semangat langsung membara.

Acara Dimulai

Di aula sudah ada Pak Agus dan para murid. Pak Agus yang akan membuka acara. Pak Agus mengobarkan semangat ke anak-anak. Mengenalkan apa itu literasi.


Oke, anak-anak sudah terbakar dengan kobaran semangat dari Pak Agus.
Giliran saya yang mulai.

Anak-anak yang belum paham dengan dunia literasi, harus menggunakan trik tersendiri agar mereka bisa menulis.
Saya minta Pak Agus untuk menyiapkan white board dan spidol. Biasanya ini bisa jadi tolak ukur untuk mengetahui, anak sudah terbiasa menangkap ide atau belum.
Baru satu gambar saya berikan, tapi jurus harus diubah. Karena mereka seperti bingung. Belum terbiasa dengan lemparan ide. Di beberapa sekolah yang terbiasa dengan eskul menulis, anak-anak kelas satu SD pun, akan berebut untuk menyampaikan ide mereka, ketika melihat gambar yang saya buat untuk pemancing.

Strategi harus diubah.
Menggunakan gambar. Biasa saya bawakan untuk pelatihan menulis. Meski harus kerja keras. Tapi Alhamdulillah bisa berjalan lancar.
Lalu lemparan ide dari suara juga. Hingga anak-anak bisa merangkai sebuah cerita sederhana. Yang penting, mereka paham bagaimana sebuah cerita itu ada awal dan akhirnya.
Terima kasih untuk Pak Agus yang banyak membantu.

Paling tidak mereka bisa mengetahui bahwa menulis itu mudah dan tentu menyenangkan.

Apa sih yang bisa didapat dari anak dekat dengan literasi?
Mereka akan menjadi manusia yang cinta ilmu. Karena ketika terbiasa menulis, maka mereka akan terbiasa mencari tahu lewat banyak membaca.
Dengan banyak membaca mereka berproses lagi, menjadi manusia yang bisa memaknai sabar. Karena untuk memahami isi buku, mereka harus bersabar membuka lembar demi lembar halaman buku.
Dengan membaca buku mereka juga jadi belajar empati untuk memahami isi kepala orang lain, dan tentu ini akan membuka wawasan berpikir mereka.

Begitu banyak manfaat dari menulis.
Dan yang paling penting yang selalu saya katakan pada dua anak remaja di rumah, plus anak-anak tetangga yang belajar di sanggar setiap Sabtu dan Ahad adalah,” kalian harus memiliki pahala mengalir bernama ilmu yang bermanfaat.Dan ilmu yang bermanfaat itu bisa didapat dengan menulis yang baik-baik, yang memberi manfaat untuk orang lain.
Tidak harus menjadi penulis memang. Tapi menjadikan menulis sebagai kebiasaan agar ilmu yang didapat bisa mengalir. Kalau tidak untuk orang banyak, cukup untuk keluarga sendiri dan lingkungan terdekat.

Well hari yang melelahkan.
Sampai di rumah dapat foto bahagia. Empat murid menulis yang menang lomba menulis dari Kemendikbud, memberikan foto mereka.
Alhamdulillah sempurna hari saya.

Published by nurhaya3

Nurhayati Pujiastuti, owner Sanggar Mama Bilqis, Founder Penulis Tangguh, Kelas Merah Jambu dan Kelas Biru. Trainer Menulis.