Memahami Cita-Cita Anak yang Aneh

“Wahai anakku, janganlah engkau mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar (QS Luqman ayat 13)

Tidak ada cita-cita anak yang aneh. Itu yang selalu saya endapkan dalam hati.
Karena saya sering berinteraksi dengan banyak orang yang bahkan sejak kecil tidak punya cita-cita.
Anak-anak boleh punya cita-cita apa saja. Tugas saya menerima apa yang mereka anggap sebagai cita-cita. Mengarahkan. Bukan malah mematahkan hanya karena merasa cita-cita itu tidak bisa membuat mereka menjadi kaya di dunia. Orangtua harus terlibat dalam pendidikan karakter anak. Dan setiap rumah adalah awal sekolah untuk anak.

Ketika menjadi relawan mengenalkan profesi di kelas inspirasi, saya berhadapan dengan anak-anak yang membawa cita-cita sebagai guru, dokter, insinyur. Cita-cita yang puluhan tahun lalu juga biasa muncul dari mulut teman-teman saya. Ketika anak-anak itu mengetahui ada profesi bernama penulis, sutradara dan yang lainnya, mulut mereka ternganga. Mereka seperti tidak percaya.

Semua berhak berimajinasi dengan cita-citanya. Setiap anak ingin mencoba dan mendapat pengalaman. Orangtua harus selalu siap untuk mendampingi. Seperti yang tertulis di sini

Ke tempat pemadam kebakaran dan melihat mobil pemadam kebakaran, sudah pernah saya lakukan. Menaiki traktor juga anak sudah merasakan. Tapi ketika anak ingin menjadikan palang sebagai cita-cita, apa yang harus saya lakukan?
“Bu, cita-citaku mau jadi palang kereta api,” ujarnya dengan lugu.
“Palang kereta api?” saya mengulang.
“Iya, palang kereta. Naik turun…,” tangan kecilnya memperagakan gerakan palang kereta naik turun.
Saya ingat, kecintaannya pada kereta memang luar biasa. Mainan yang dipilihnya selalu kereta. Dipandangi, dimainkan. Dirombak hanya ingin melihat apa yang ada di dalamnya. Bahkan ketika ia demam pun, demamnya akan turun ketika saya dan suami mengajaknya ke perlintasan kereta, untuk melihat kereta api yang melintas.
Setiap liburan ke rumah orangtua saya, ia selalu meminta untuk naik kereta. Pernah si anak sudah ada di dalam kereta, tapi melonjak kegirangan, ketika melihat kereta api yang lewat di sebelah kereta yang kami naiki.

“Aku mau jadi palang kereta api, Buuu.”
Kalimat itu lucu untuk yang mendengarnya. Apalagi diucapkan dengan sungguh-sungguh oleh anak Balita.
Saya menjadi ingat dengan cita-cita saya. Saya ingin bisa tidur di awan. Saya ingin bisa terbang. Dan cita-cita itu selalu menjadi bahan tertawaan oleh orang lain.
“Ibu tahu palang, kan?” tanyanya dengan serius.
Naik turun, naik turun. Saya mengangguk. Iya palang. Anak usia balita seperti itu belum terlalu tahu perbedaan antara benda mati dan benda hidup. Maka tugas saya sebagai Ibu memberi tahu.
“Ibu tahu palang?”
“Iya. Nanti kita lihat palang, ya,” saya memberi janji padanya.
**
Ingin menjadi palang itu diucapkan terus. Saya tidak mungkin pura-pura tuli atau memarahinya, dan menganggap cita-citanya konyol. Hingga suatu hari saya memutuskan untuk mengenalkan palang dan fungsi yang sesungguhnya pada si anak.
Dekat rumah Ibu di Solo ada perlintasan kereta api. Lima ratus meter jaraknya. Tidak terlalu jauh, untuk saya mengajak anak balita berjalan menuju ke sana.
Untuk mencapai ke sana, kami harus menyebrang jalan, melewati kebun singkong dan sampai di pinggir jalan. Duduk di pinggir jalan. Syukurlah ada batu besar tempat kami bisa duduk di atasnya.
“Mau ke mana?” begitu biasanya orang bertanya.
“Mau lihat palang,” ujar saya menggandeng tangan si anak.
Ya palang kereta. Naik turun.

Menunggu kereta tentu saja tidak seperti menunggu lalu lalang mobil dan motor. Kesabaran saya sebagai Ibu diuji. Dan momen menunggu itu saya gunakan untuk mengenalkan tentang berbagai macam kendaraan yang melintas di jalan depan kami menunggu.
Saatnya lampu merah menyala, sinyal tanda kereta akan lewat. Palang kereta pun turun.
“Itu palang. Dia benda mati. Masih mau jadi palang?” tanya saya.
Si anak mengangguk keras. Lalu melompat sambil berteriak, “Kereta, Buuu,” kata anak saya dengan gembira.
Pelan tapi pasti palang itu turun. Anak saya melonjak kegirangan. Mobil dan motor berhenti.
“Keretanya mau lewaaat.”
Saya mengangguk. Keretanya akan lewat. Melihat matanya bersinar memandangi rel kereta api, membuat saya semakin ingin menjelaskan tentang banyak hal.

Pengalaman itu ternyata tidak berakhir.
“Ibu aku mau jadi palang,” katanya lagi. Setiap saat dan itu artinya tugas saya belum berhenti.
“Palang ini benda mati, bukan benda hidup. Dia tidak bisa napas,” saya menggendongnya untuk menyentuh palang itu.
“Tapi aku tetap mau jadi palang, Bu.”
Saya minta izin pada penjaga perlintasan kereta api, untuk mengizinkan anak saya melihat ke dalam tempatnya bekerja. Lalu ia perkenalkan alat-alat yang membuat palang itu bisa turun.
“Palang, Ibu. Aku mau jadi palang.”
Oke palang. Palang kereta api. Saya mengangguk. Terus mengikuti keinginannya, untuk melihat turun naiknya palang. Sampai akhirnya cita-citanya berubah lagi.

“Aku mau jadi pemain bola aja, Bu,” ujarnya sungguh-sungguh.
Teman-temannya sering mengajaknya main bola. Tapi anak lelaki pendiam dan tidak agresif seperti sulung, ternyata diajak bermain bola untuk menjaga gawang alias kiper. Alasannya bukan karena dia hebat tapi karena tidak ada anak yang lain yang mau.
“Jangan mau jadi kiper kalau cuma tidak ada anak yang lain. Jadi pemain.”
Terus menerus saya ulang. Terus-menerus. Sebab saya yakin sesuatu yang terus-menerus diterima oleh seseorang, itu akan membuatnya berubah. Hingga akhirnya dia minta dimasukkan ke SSB. Sebuah SSB di kampung yang berlatihnya dengan kuburan. Seminggu dua kali.
“Aku mau jadi pemain bola,” ujarnya.
Saya mengangguk meski ada rasa patah hati. Berpikir kenapa ia tidak menyebut cita-cita, yang masuk dalam jangkauan pikiran saya?
“Ibu suka aku jadi pemain bola?”
“Cita-cita apa saja boleh. Tapi asal jangan sampai lupa waktu dan membuat orang jadi lupa shalat.”
“Kalau pemain bola bertandingnya suka pas azan Ibu….”

Saya sering mengantarnya bertanding dari satu tempat ke tempat lain. Sering jadwal bertanding membuat shalat jadi ditunda.
Mungkin si anak paham keresahan saya.
“Aku jadi pemain futsal aja, ya, Bu. Masih bisa shalat di pinggir lapangan.”
Saya mengangguk. Apa saja cita-citanya boleh. Asal jangan membuat lupa bahwa ada akhirat yang jadi prioritas utama. Bermanfaat untuk orang lain harus merasuk ke dalam hatinya.

Lalu suatu saat ketika si anak bertambah besar, saya dapati tulisan di buku tulisannya, di setiap buku yang saya berikan padanya. Syaikh Muhammad Attar LC.
Saya bahkan diberitahu banyak hal termasuk nama-nama Qori dan Ustadz kesenangannya.
“Aku suatu saat pingin jadi imam di masjid Madinah.”
Saya mengangguk, memberi dorongan, memasukkan ke sekolah yang bisa membuat ia dekat dengan cita-citanya. Saya hanya punya doa dan dukungan untuknya. Kelak jika cita-citanya berubah lagi, saya dan suami akan terus mendampingi dan mengarahkan.
“Ibu aku mau jadi pemain bola, ya,” suatu saat ia bicara lagi.
Saya tersenyum. Ia bukan balita lagi. Sudah remaja. “Fokus ke satu titik cita-cita,” ujar saya akhirnya.
Ia mengangguk. Entah apakah kelak cita-citanya berubah lagi.
Tapi saya tidak akan pernah lupa teriakan kecilnya ketika Balita. “Aku ingin jadi palang kereta api, Buuu. Palang aja bukan yang lain.”
In syaa Allah dengan lingkaran doa dari saya dan suami, juga kerja kerasnya kelak ia akan menjadi palang. Palang yang bisa menutup segala pintu keburukan, dan membuat kebaikan melaju kencang seperti lajunya kereta api #sahabatkeluarga.