Motivasi dan Pelatihan Menulis untuk Guru An Nahl Islamic School

“Bu Nur bersedia mengisi pelatihan menulis untuk guru-guru An Nahl?” begitu pesan dari Pak Agus, kepala sekolah SMPIT An Nahl.
Letak sekolahnya ada di Bogor. Masih kabupaten Bogor, tidak jauh dari Taman Buah Mekarsari. Tidak jauh juga dari tempat tinggal kakak saya, ternyata.

Rezeki itu ajaib. Saya sendiri tidak pernah tahu, pada akhirnya langkah saya bisa sampai titik kemarin.
Awalnya sederhana. Saya bincang-bincang dengan editor sebuah penerbitan, setelah saya mengisi talkshow di Sekolah Alam Bekasi plus promo buku. Editor itu bertanya, “Apa mbak Nur, mau mengajar di sekolah? Karena ada sekolah rekanan penerbit yang akan membuka eskul menulis di sekolahnya.”
Tanpa pikir panjang saya bilang, yes. Alasannya? Saya suka mengajar.

Cerita singkatnya akhirnya sampai juga saya di sekolah itu untuk bicara ini itu dan diantar berkeliling. Sekolah empat hektar itu langsung klik di hati saya. Saya suka visi misi dan metode pengajarannya. Sekolah Islam Terpadu dengan basic sekolah alam.
Menunggu timing yang tepat, akan ada kelas menulis di sana. Saya diminta mengajar guru-guru dan murid-murid di sana. Guru-gurunya masih awam dengan dunia menulis.
Wait.
Guru?
Tiba-tiba up and down muncul. Entah kenapa semakin banyak interaksi dengan anak-anak, saya jadi tidak semangat ketika berhadapan denan orang dewasa. Tapi akhirnya saya berpikir, bahwa ini adalah sebuah kepercayaan. Dan saya harus membuktikan.

Power Point Pertama

Pindah-pindah mengajar untuk mengisi talk show menulis, bekal saya memang bukan power point. Mengambil pelajaran dari banyak seminar yang saya ikuti dengan berbagai nara sumber. Rasanya kurang sreg jika hanya fokus ke power point. Apalagi beberapa kali saya menemukan, power point dari satu orang dengan orang lain sama. Ah, it’s not me. Saya suka yang berbeda.

Tapi ini Bapak Ibu guru di sekolah yang dikenal bagus. Biasa mengadakan seminar dan pastinya sudah terbiasa dengan para ahli di bidangnya. Saya? Apalah saya. Tanpa power point pula? Okelah akhirnya saya mendengar banyak masukan dan saya pun belajar membuat power point. Ada banyak yang saya buat. Dan malah saya menemukan banyak hal baru. Termasuk membuat video dari gambar-gambar di power point.

Saya membaca lagi surat permohonan untuk menjadi nara sumber. Pihak sekolah meminta saya memotivasi guru-guru dalam hal menulis. Oke, In syaa Allah saya siap.
Sebelum hari H semua power point sudah saya pindah dari komputer saya ke laptop. Sudah mengajari anak bungsu agar nanti dia yang mengoperasikan laptopnya. Sulung saya minta menjadi bagian dokumentasi dan suami menjadi supir he he.
Beberapa hari sebelumnya power point malah sudah saya kirim ke pihak panitia, untuk pegangan para peserta.

Pada hari H

Anak-anak kalau sudah libur itu artinyaaaa, habis Subuh mereka akan tidur lagi. Sudah saya ingatkan, siap-siap pada jam setengah enam pagi. Kami akan berangkat jam enam. Saya biasa datang setengah jam sebelum acara dimulai, untuk mengakrabkan diri dengan suasana.
Kenapa mereka harus ikut?
Saya ingin mereka paham seperti itulah kerja ibunya. Saya juga ingin kelak mereka bisa membagi ilmu.
Pagi yang ribet. Nasi goreng sudah dibuat hasilnya ternyata keras. Rupanya semalam Sulung saya minta memasak nasi, dan ternyata airnya sedikit. Jadi nasinya keras. Nasi goreng pun gagal.
Berebut kamar mandi dimulai. Padahal kamar mandi ada dua, entah kenapa tidak ada yang mau untuk memakai kamar mandi atas.
Hanya minum segelas air lalu kami meluncur. Takut jalanan macet. Karena kalau sudah macet bisa sampai empat jam ke suatu tempat yang dekat.

Jam enam kurang kami berangkat.
Masih lumayan gelap, jalan masih sepi. Dan taraaa, ternyata jalanan sangat lancar. Belum kena macet. Jam tujuh kurang lima belas kami sudah sampai di dekat sekolah. Perasaan tenang dan perut lapar. Kami ke tukang bubur dulu untuk sarapan. Dan meluncur ke sekolah.

Sekolah masih sepi.
Saya menghubungi beberapa panitia. Tidak lama kemudian saya lihat banyak kendaraan. Tidak lama setelah itu, saya lihat banyak yang datang menuju aula. Acara sudah siap. Panitia menemui saya dan kami naik ke tempat acara.

Allah yang Maha Hebat

Sampai saat ini saya bersyukur, Allah selalu menjaga dari hal-hal buruk.
Menjadi penulis, berbagi ilmu itu bukan sesuatu yang mudah. Banyak yang tidak paham ketika saya berbagi ilmu. Orang yang tidak paham jika itu datang dari orang awam, mungkin bisa dimengerti. Tapi jika itu datang dari kalangan yang paham, lalu menyudutkan dengan sesuatu yang membuat saya ngeri, sungguh itu cobaan yang berat.
Tapi setiap coban ternyata adalah tangga untuk naik ke atas, untuk naik derajat. Dan diuji bukan berarti berhenti. Harus jalan terus. Sebab saya terlalu mencintai dunia menulis dan mengajar.

Okelah para peserta sudah berdatangan.
Saya masuk ke aula. Bungsu saya ajak. Tarik napas panjang. Bismillah. Alhamdulillah shalat sunnah mutlak dua rakaat sebelum pergi mengajar, plus membaca Al Qur’an membuat saya menjadi lebih oke.

Bismillah.
Entah kenapa semuanya menjadi mudah. Kalimat saya mengalir. Murid-murid antusias untuk langsung praktik menulis. Sesusai dengan pesan saya pada Pak Agus, kepala sekolah, agar semua yang datang membawa alat tulis, karena kita akan langsung praktik menulis.
Syukurlah para bapak dan ibu guru antusias praktik. Karena mereka adalah pemula, maka praktiknya tidak dibatasi. Mereka boleh praktik menulis artikel, novel, cerita anak, remaja juga dewasa. Bebas sebebasnya.
Motto saya setiap mengisi pelatihan sama. Saya ingin semua peserta tidak ada yang zonk ketika ke luar dari pelatihan. Paling tidak 99 persen, apa yang saya ajarkan masuk dan mengendap, lalu akhirnya diaplikasikan.

Untuk itu saya harus siapkan tenaga ekstra. Saya harus berkeliling dari ujung yang satu ke ujung lain, untuk memastikan mereka paham. Agar mereka bisa tersentuh satu persatu.
Alhamdulillah semuanya dimudahkan Allah.
Bungsu juga senang melihat para bapak guru yang saya minta untuk maju ke depan, menyambungkan gambar dengan kalimat lucu. Dia belum pernah senyaman itu di depan orang banyak.

Dua jam waktu yang sebentar.
Masih banyak yang bertanya tapi panitia sudah memberi kertas pada saya, karena waktu terbatas,
Saya hanya berharap mereka pulang dengan kepala terang benderang dengan banyak ilmu.
Dan saya juga terang-benderang dengan banyaknya rasa syukur dan tentu saja harus terus menulis.