Lebaran Kami yang Istimewa

Apa istimewanya lebaran untuk saya?
Lebaran untuk saya selalu istimewa. Lebaran di Solo jelas akhirnya paling istimewa. Istimewanya karena kami yang setahun sibuk dan sulit bertemu, akhirnya bisa berkumpul bersama. Karena istimewanya itu, maka lebaran di Solo selalu agendakan pada hari pertama lebaran. Untuk saya ada banyak alasan. Salah satunya karena lebaran di Solo ramainya hanya pada hari H saja, karena Ibu tinggal di kota. Setelah hari H itu, tetangga Ibu banyak yang pulang ke kampungnya seputaran Solo seperti Wonogiri sampai Tawangmangu.

Bukan Sekedar Berkumpul
Ibu memiliki delapan orang anak. Semuanya sudah berkeluarga. Setiap anak memiliki dua sampai tiga orang anak. Dan satu orang cucu sudah memberi Ibu buyut. Terbayangkan ramainya rumah Ibu pada saat lebaran tiba?

Ada kumpul yang bermanfaat di rumah Ibu. Sepuluh hari terakhir biasanya saya sudah memutuskan untuk pulang. Harus dipastikan urusan sekolah anak-anak dan urusan pekerjaan suami sudah beres.
Pada sepuluh hari terakhir itu, masjid dekat rumah milik ustadz pimpinan pondok pesantren di Klaten dan ketua dewan syariah kota Solo, selalu mengadakan shalat tahajjud.
Sepanjang Ramadhan ustadz juga akan mengisi taraweh dan shalat Subuh. Kalaupun berhalangan karena kesibukan mengisi di lain tempat, maka anak dan menantunya yang akan menggantikan. Diimami para hafidz Qur’an tentu saja rasanya berbeda. Ada rasa nyes di hati. Apalagi mendengarkan lantuanan suaranya. Shalat jadi terasa nikmat sekali. Ustadz atau anaknya kerap terisak di tengah shalat ketika membacakan ayat tentang surga atau neraka. Jadi saya berjuang untuk menambah ilmu Bahasa Arab saya.

Di rumah ketika Ramadhan, anak-anak dan sepupunya juga saling berlomba mengkhatamkan Al Quran. Alhamdulillah saya dan saudara yang lain punya visi misi yang sama dalam membentuk karakter anak. Sama-sama ingin anak berpegangan kuat pada Al Qur’an.

Ada dua puluh lima orang yang tinggal di rumah Ibu selama Ramadhan. Maka siapa yang datang lebih cepat, itu yang akan mendapatkan kamar. Kasur digelar di sana sini. Di kamar mandi harus cepat, karena sedikit lama sudah akan ada yang mengantri. Belum lagi antrian mesin cuci plus jemuran pakaian.

Ini Lebaran Kami
Anak-anak sudah tumbuh membesar. Sepupunya anak-anak sebagian besar, bersekolah di sekolah Islam Terpadu yang menerapkan hafalan Al Qur’an. Ada yang di pondok juga.
Ada yang bersekolah di sekolah umum juga.
Nah, moment langka bernama lebaran ini harus dimanfaatkan betul. Jangan sampai pertemuan hanya sebatas hura-hura saja.

Satu hari sebelum hari H sudah pasti sibuklah kami di dapur. Anak menantu turun ke dapur. Alhamdulillah si Ratu Dapur, Ibu kami sudah sehat. Beberapa bulan sebelumnya tiba-tiba tulang di mata kakinya retak dan Ibu tidak bisa berjalan, hingga harus dipasangi ven, plus Ibu harus latihan jalan. Terapi jalan dibantu dengan Ibu semakin meningkatkan membaca Al Qur’an. Alhamdulillah proses sembuhnya Allah percepat.

Apa masakan istimewa Ibu? Masakan yang selalu istimewa adalah gulai babat. Sejak saya SD sampai sekarang itu andalan Ibu. Kami dulu menyebutnya sayur handuk, sebab bentuknya seperti handuk. Aanak-anak sampai keheranan dengan sayur itu.
Yang lain adalah rendang dengan bumbu tambahan kelapa utuh yang disangrai, lalu hasil sangraian itu diulek sampai ke luar minyaknya. Nah nanti itu yang akan dimasukkan ke dalam rendang yang sudah hampir matang.
Ada sayur labu siam juga.
Tidak ada ketupat. Sejak Bapak di kursi roda dan akhirnya menghadap Allah, kami menggantinya dengan lontong pesan ke tetangga. Karena biasanya yang menangani masalah ketupat adalah Bapak yang ahli memasaknya.

Hari H sudah tibaaaa.
Kamar mandi antriannya padat merayap sejak selesai shalat tahajjud. Saya mandi jam setengah empat. Anak-anak dibangunkan untuk Subuh berjamaah ke masjid. Di rumah Ibu ada musholla kecil. Tapi musholla itu khusus untuk anak perempuan. Yang laki-laki wajib ke masjid.
Ketika semua sudah beres, kami berjalan kaki menuju lapangan sesuai sunnah. Ibu naik motor karena kakinya tidak memungkinkan untuk berjalan jauh.
Mobil tidak bisa digunakan karena di tempat shalat juga susah dapat parkir.
Tidak boleh meninggalkan lapangan sebelum khatib selesai berceramah.

Pulaaang.
Kami bergegas ke masjid setelah sampai rumah. Hanya selemparan batu dari tempat Ibu.
Di situ semua warga berkumpul untuk silaturahmi. Diawali dengan pembacaan Al Qur’an, dan tausiah. Pembacanya anak ustadz yang baru pulang jadi imam di Jepang dan tausiah dari ustadz.
Kemudian para perempuan berkumpul sesama perempuan, yang lelaki dengan lelaki. Saling bermaafan.
Di masjid itu juga, jadi tempat para Bapak atau Ibu yang mau membagikan uang, seusai berma’afan. Nah anak-anak kecil senang dengan moment ini.

Kami ke rumah.
Di rumah ada acara khusus.
Ibu duduk dan kami ada di dekatnya. Kali ini pakai format baru. Biasanya kami berdiri, sekarang sambil duduk melingkar.
Kalau biasanya Kakak paling tua yang bicara dan yang lain menambahi, sekarang kami ubah susananya.
Aanak-anak yang bersekolah di pondok pesantren, harus berani memegang tongkat estafet itu. Maka yang dewasa akhirnya menyerahkan tongkat MC pada keponakan yang hafidz Qur’an 30 juz. Untuk tilawah Qur’an diserahkan ke anak Sulung saya, sedang untuk tausiah, diserahkan pada ponakan dari pondok juga, yang memang punya potensi untuk menjadi penceramah.
Yang dewasa bisa menambahkan satu dua patah kata. Setelah itu semua memutar bermaa’afan dengan Ibu. Ini yang disuka anak dan ponakan. Embah putri mereka akan bagi-bagi uang. Om dan Tante mereka, Bude Pakde mereka juga sama. Jadi semua sibuk dengan dompet dan kantong untuk memasukkan hasil pendapatan hari ini.
Selesaiiiii?

Blooom.
Kami foto-foto.
Berbagai gaya, berbagai cara. Termasuk menutupi kamera dengan handuk agar hasilnya bisa optimal bagusnya.

Ini lebaran istimewa versi saya.
In syaa Allah jika Allah panjangkan umur kami, maka kami akan berkumpul lagi.